Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Risalah Al Qusyairiyah Meluruskan Paham Tasawuf

Ahad 18 Oct 2009 12:12 WIB

Red:

KITAB

Kitab ini ditulis dalam rangka meluruskan pemahaman umat tentang maqamat dan ahwal kaum sufi.

Penyiksaan terhadap Al Hallaj hingga ia meninggal di tiang gantungan di Kota Baghdad, hukuman mati Syekh Siti Jenar oleh para wali di tanah Jawa, dibakarnya buku-buku Hamzah al Fansuri oleh Kesultanan Aceh, merupakan sedikit dari peristiwa tragis akibat perseteruan hebat antara penganut tasawuf dan fukaha (para ahli hukum Islam).

Peristiwa serupa dialami seorang sufi agung, Abdul Karim bin Muhammad al Qusyairi. Ia harus berhadapan dengan kaum fukaha di zamannya. Majelis yang ia dirikan, dibubarkan secara paksa. Bahkan, ia diusir dari Naisapur, tanah kelahirannya.

Mengapa perselisihan itu bisa terjadi? Banyak jawaban yang dapat diutarakan. Termasuk, di antaranya penggunaan simbol-simbol oleh kaum sufi yang tidak dapat dipahami secara utuh oleh ahli fikih. Memang, dunia sufi sarat dengan simbolisasi, baik itu yang berupa istilah-istilah, perilaku, maupun bahasa-bahasa metafor.

Misalnya saja, kata cinta, rindu, zuhud, fana, dan baka yang begitu identik dengan aktivitas kaum sufi seringkali berseberangan dengan pemahaman kaum fukaha. Karena perbedaan pemahaman itu, kelompok fukaha tak segan-segan mengganjar kaum sufi dengan predikat zindik atau fasik.

Kenyataan ini disadari benar oleh Al Qusyairi. Karena itu, ia menulis sebuah buku berjudul Ar-Risalah guna meluruskan pemahaman tentang hakikat dan prinsip-prinsip tasawuf, dan keadaan pelaku yang berada di jalan itu.

Dalam mukadimah kitabnya, Al Qusyairi berkata, ''Allah telah menjadikan golongan ini sebagai barisan kekasih-Nya. Dan, dia telah mengutamakan mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya, setelah para rasul dan nabi-Nya. Allah menjadikan hati mereka sebagai sumber rahasia-Nya, dan memberikan keistimewaan di antara para umat melalui kecemerlangan cahaya-Nya.''

Ia melanjutkan, ''Ahli-ahli hakikat dari golongan sufi, kebanyakan telah tiada. Yang tersisa hanya bekasnya. Orang-orang kini menganggap remeh dan acuh terhadap persoalan agama, bahkan tidak memisahkan antara yang halal dan haram. Bahkan, mereka merasa bahwa dirinya telah berdiri di atas kebenaran, dengan aturan-aturan hukum sendiri. Orang yang berbeda pandangan dengan mereka malah dianggap sebagai golongan yang harus disingkirkan.''

Jelas sekali bahwa kitab Ar-Risalah atau yang dikenal dengan Risalah Al Qusyairiyah, ditujukan kepada mereka yang belum tahu tentang disiplin tasawuf, karena kurang memahami hakikat dan prinsip-prinsip tarekat. Terutama sekali, kalangan fukaha yang rajin mencari-cari kesalahan pelaku tasawuf akibat dari pemahaman yang tidak mendalam.

Dalam pengenalan kitab Ar-Risalah versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan Risalah Gusti dijelaskan, risalah ini mengungkap bahwa tasawuf merupakan aktivitas roh, asah rasa, dan olah perilaku karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam surat Al-A'la ayat 4-5 disebutkan, ''Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia menegakkan shalat.''

Al Qusyairi mengkritik fukaha pascagenerasi salaf as-shalih yang mengabaikan jalan tasawuf dan budi pekerti, yang justru menjadi pijakan para sahabat yang agung. Menurut Al Qusyairi, mereka lebih menyibukkan diri pada masalah-masalah hukum yang sebenarnya tidak substansial dalam ajaran Islam.

Oleh karena itu, Al Qusyairi hendak menyampaikan bahwa kebenaran sejatinya tidak hanya seperti yang mereka pahami. Disiplin tasawuf baginya tidak keluar walau selangkah semut pun dari dua sumber utama Islam, yaitu Alquran dan hadis. Oleh karena itu, kaum sufi juga menapaki jejak Rasul dan merupakan generasi penerus salaf al-shalih.

Dalam buku Sepintas Sastra Sufi: Tokoh dan Pemikirannya, Fudoli Zaini mengatakan, latar belakang penulisan kitab Ar-Risalah menunjukkan bahwa Al Qusyairi memiliki tiga tujuan penting yang cukup mendesak kala itu.

Pertama, ia membela dengan gigih bahwa tauhid sufi sama sekali tidak melanggar tauhid Sunni. Kedua, ia hendak meluruskan hubungan antara akidah dan syariah dengan hakikat melalui tarekat. Bahwa semua itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dan, ketiga, ia menolak setiap bid'ah dan penyimpangan atas dunia tasawuf serta para sufi yang bertumpu pada ajaran Alquran dan sunah.

Dengan demikian, boleh dibilang kitab Ar-Risalah memperbaiki citra tasawuf yang kurang baik di mata fukaha. Kitab ini menekankan kemurnian tauhid, bahwa akidah yang benar dan pelaksanaan hukum-hukum syariat merupakan syarat mutlak untuk memasuki tasawuf.

Sistematika penulisan

Setiap bab dalam kitab Risalah Al Qusyairiah didahului dengan dalil dari Alquran dan sunah. Al Qusyairi lalu menjelaskan pengertiannya dari sudut pandang tasawuf, yang menurutnya, tidak bertentangan dengan syariat. Di samping itu, dipaparkan juga pendapat-pendapat para sufi yang lain.

Misalnya, ketika Al Qusyairi menjelaskan hakikat takwa. Ia terlebih dahulu menyebutkan ayat Alquran surat Al-Hujurat ayat 13, ''Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.''

Disusul setelah itu sebuah hadis tentang takwa. Diriwayatkan oleh Anas RA, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Siapakah keluarga Muhammad?'' Beliau menjawab, ''Setiap orang yang bertakwa.''

Kemudian, Al Qusyairi menguraikan, takwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakikatnya adalah seseorang yang melindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan ketundukan kepada-Nya. Asal-usulnya menjaga diri dari syirik, dosa, kejahatan, meninggalkan yang syubhat, dan menjauhi kesenangan duniawi.

Uraiannya itu ia perkuat lagi dengan pendapat-pendapat para sufi. Salah satunya Abu al Hasan al Farisi. Ia mengatakan, ''Takwa mencakup aspek lahir dan batin. Aspek lahirnya berupa pelaksanaan syariat. Dan, aspek batinnya berupa penguatan niat dan mujahadah.''

Peringkat ketakwaan tiap-tiap golongan pun dijelaskan oleh Al Qusyairi. Menurutnya, ketakwaan kaum awam adalah menghindari syirik, bagi kaum khawash (tajam intuisinya) takwa adalah menghindari dosa-dosa, bagi para wali adalah menghindari ketergantungan pada sesuatu, sedangkan bagi para nabi adalah meniatkan seluruh amalan hanya kepada Allah SWT.

Dengan sistematika penulisan yang demikian apik, setiap pembaca kitab Ar Risalah mendapatkan pengetahuan tentang dimensi-dimensi tasawuf secara spesifik dan mendalam. Tidak ada satu tema pun yang tidak dilandasi dalil Alquran dan sunah. Sehingga, dengan jelas tersirat pesan bahwa landasan tasawuf adalah Alquran dan sunah, serta tidak menjauhi akidah dan syariat. rid

Serpihan-serpihan Risalah Al Qusyairiyah

Risalah Al Qusyairiyah bukanlah karya terpenting Al Qusyairi. Ia menulis 29 buku yang terbagi dalam berbagai disiplin ilmu. Namun, Ar Risalah merupakan karyanya yang paling terkenal dan yang paling ia cintai. Sampai-sampai ia berniat untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Persia jika saja ajal tidak lebih dahulu menjemputnya.

Termaktub dalam salah satu manuskrip Ar Risalah bahwa kitab ini disusun pada tahun 434 H/1046 M, ketika sang penulis berusia 62 tahun. Tim editor dari Penerbit Darul Khair, Beirut, melacak manuskrip Ar Risalah di Perpustakaan Nasional al Asad, Damaskus. Mereka mendapati sembilan naskah Ar Risalah yang berbeda-beda.

Di samping itu, terdapat pula beberapa syarah (penjabaran) terhadap Ar Risalah. Di antaranya, syarah yang ditulis oleh Syaikhul Islam al Qadhi Zakaria bin Muhammad al Anshary dan syarah Syekh Musthafa al Arusi.

Banyaknya versi manuskrip Ar Risalah tersebut menjadi kendala terberat tim editor, untuk meramu serpihan pesan Al Qusyairi ke dalam satu himpunan buku yang utuh. Mengenai latar belakang penamaan Ar Risalah, tim editor tersebut menjelaskan, karena tujuan penulisannya adalah menyampaikan pesan melalui lembaran-lembaran surat kepada kaum sufi, dan mereka yang simpati pada disiplin tasawuf.

Karena pengabdiannya pada pemurnian disiplin tasawuf dan kiprahnya mengembangkan ilmu-ilmu Islam lainnya, Al Qusyairi kemudian mendapatkan banyak julukan yang menandakan ketinggian posisinya di mata umat. Di antaranya, Al Imam, Al Ustadz, Asy Syekh (guru besar), Zainul Islam, dan Al Jaami baina as-Syariah wa al Haqiqah (pengintegrasi antara syariat dan hakikat).

Al Qusyairi yang bernama lengkap Abdul Karim bin Muhammad al Qusyairi lahir di Ustua, Nisapur, Provinsi Khurasan, Iran sekarang, pada Rabiul Awal 376 H atau Juli 986. Tidak banyak data yang menyebutkan kehidupan masa kecilnya. Hanya terdapat sedikit informasi bahwa ia menjadi yatim ketika masih berusia kanak-kanak. Ia belajar bahasa dan sastra Arab dari sahabat ayahnya, Abul Qasim al Yamani.

Guru terpenting Al Qusyairi ketika dewasa adalah Abu Ali ad-Daqqaq yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Al Qusyairi mengambil mata rantai perjalanan tarekatnya dari Syekh ad-Daqqaq itu, sebagaimana diakuinya sendiri dalam kitab Ar Risalah. Dikisahkan bahwa Syekh Ad Daqqaq sejak bertemu dengan Al Qusyairi telah mengetahui kecerdasan dan ketajaman mata batinnya.

Pun, demikian dengan Al Qusyairi yang begitu mengagumi sang guru. Suatu hari ia berjalan bersama Syekh Ad Daqqaq dan berpikir alangkah baiknya, jika Syekh Ad Daqqaq bisa menggantikannya di majelis saat-saat ia absen. Tiba-tiba Syekh Ad Daqqaq berkata, ''Aku akan menggantikanmu pada hari-hari absenmu di majelis.''

Mereka pun terus berjalan dan Al Qusyairi kembali berpikir, ''Aku pikir cukup satu kali seminggu saja ia menggantikanku.'' Sekali lagi Syekh Ad Daqqaq menoleh ke Al Qusyairi dan berkata, ''Aku akan menggantikanmu satu kali saja dalam seminggu.''

Atas pengaruh sang guru, Al Qusyairi melahirkan maha karya, seperti Ar Risalah. Ia memberikan perspektif dan wawasan tasawuf yang segar, hingga kitab ini dinilai banyak kalangan sebagai yang paling utama di bidang tasawuf. Kebesaran nama Al Qusyairi pun menarik banyak pelaku suluk untuk berguru kepadanya. Salah satunya adalah Al Hallaj yang hidupnya berakhir di tiang gantungan itu. rid

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA