Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

KH Muhammad Ilyas, Ikhlas Mengabdi dan berjuang

Senin 17 Aug 2009 01:00 WIB

Red:

JAKARTA--Mantan Menteri Agama, KH Muhammad Ilyas merupakan sosok yang sangat santun, ikhlas dalam mengabdi dan berjuang. Ini diungkapkan Menteri agama Muhammad Maftuh Basyuni pada peluncuran buku biografi bertajuk 'Dari Pesantren Untuk Bangsa' diluncurkan di Jakarta, Jumat malam (14/8). Dikatakan Menag, tokoh Nahdlatul Ulama ini memimpin Departemen Agama dengan gaya yang moderat tanpa sektarian.

''Almarhum tidak pernah menonjolkan ke NU an, bahkan pengangkatan pejabat karir di Depag pada masanya didasarkan pada integritas dan kemampuan tanpa melihat latar belakang,'' tandas menag Maftuh yang juga menantu M. Ilyas. M Ilyas merupakan Menteri Agama pada 1955-1959 di beberapa kabinet di masa pemerintahan Soekarno.

Dalam peluncuran buku biografi KH Muhammad Ilyas tersebut, tampak hadir Ibu Hj. Zahro Ilyas, Prof KH Ali Yafie,sesepuh NU dan mantan Ketua Umum MUI, mantan Menag Prof KH Tolchah Hasan, KH Mustofa Bisri, KH Abdullah Zarkasy, dan KH Sholahuddin Wahid

Maftuh menjelaskan, KH Muhammad Ilyas adalah murid kesayangan pendiri NU Hadratusyaikh KH Hasyim Asy`ari lahir di Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur pada 23 Nopember 1911. Beliau wafat di Jakarta, 5 Desember 1970 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Menurut Maftuh, salah satu nilai yang mendasari semua kegiatan, pengabdian dan perjuangan beliau yaitu keikhlasan yang diinternalisasikan dalam hati nurani. Keikhlasan yang menjadi realitas subyetik itu kemudian diwujudkan dalam realitas obyektif. Sebab, keikhlasan sanggup mendorong seseorang bersedia melibatkan diri dalam tindakan yang betapapun beratnya dengan resiko apapun.

Saat memimpin Depag, kata Maftuh, kiai Ilyas membentuk Kantor Urusan Agama,Kantor Pendidikan Agama, dan Kantor Penerangan Agama di beberapa wilayah. Di samping itu, membentuk Pengadilan Agama dan Mahkamah Syariah di luar Pulau Jawa.

Dalam bidang pendidikan, almarhum melakukan peningkatan kualitas guru melalui Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) yang dibuka di Jakarta, tanggal 1 Mei 1957, yang kemudian pada tahun 1960 bergabung dengan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri.

Setelah usai memimpin Depag, Ilyas menjadi Duta Besar RI di Arab Saudi selama 6 tahun dari 1959-1965. Pada tahun 1969, ia memimpin delegasi Indonesia mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang dihadiri 26 negera Islam di Rabat, Maroko. Ia menggagas untuk memberi reaksi atas pembakaran Masjidil Aqsa di Jerussalem oleh Israel, tidak sebatas hanya membahas konflik Palestina-Israel tetapi juga memikirkan kesejahteraan warga muslim di dunia.

Kiai Ilyas menjadi bintang dalam KTT itu, karena peran sentral yang dimainkan dan gagasan yang visioner. Ia berhasil menengahi pertikaian antara Negara yang terlibat konflik. Darai gagasannya KTT ini menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Negara-negara Islam dunia yang kemudian hari dikenal dengan nama Organisasi Konferensi Islam (OKI). osa/taq

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA