Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Kamp Muslim Inggris Melawan Ekstrimis

Kamis 13 Aug 2009 04:18 WIB

Red:

CONVENTRY, INGGRIS--Lebih dari 1000 pemuda Muslim mengikuti kamp spiritual "Al-Hidayah" (Petunjuk) selama tiga hari di pusat kota Conventry, acara yang didedikasikan untuk memproteksi mereka dari bahaya pengaruh aliran ekstrim.

"Saya merasa ini adalah tugas saya untuk menyelamatkan generasi muda dari radikalisasi," ujar Muhammad Tahir ul-Qadri, tokoh Sufi 58 tahun, kepada Reuters, sebagaimana dilansir Islmaonline.net, Selasa (11/8).

"Kita perlu mempersiapkan mereka secara mental, akademis, intelektual, dan spiritual dalam melawan kecenderungan ekstremis serta perilaku radikal dan teror. Kita perlu memberikan mereka gambaran sebenarnya yang bersifat membangkitkan tentang Islam," imbuh dia.

Qadri, yang lahir di Pakistan dan kini tinggal di Kanada, adalah seorang cendekiawan Muslim yang ahli dalam tradisi klasik Islam dan fokus pada spiritualitas.

Penulis lebih dari 400 buku tentang dunia akademis dan hukum Islam ini berkeliling dunia menyampaikan ceramah-ceramah tentang Islam. Sementara organisasinya, Minhaj ul-Qur’an, telah menyebar di 80 negara, dari Yunani hingga Fiji, sejak pendiriannya tahun 1981.

Dia adalah penggagas utama acara khalwat (sufi retreat) tiga hari tersebut. Qodri memberikan beberapa kali materi pelajaran dan sesi tanya-jawab agama. Pesan yang dia sampaikan adalah tentang moderasi, perdamaian, inklusi, dan pemahaman.

"Islam bukanlah agama yang mengasingkan dan memisahkan diri," seru dia dari atas mimbar, sesekali berhenti untuk menghapus keringat dari alisnya atau membetulkan letak kacamatanya.

Dia mengajak para peserta kamp untuk menghormati pengikut kepercayaan lain dan menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya.

"Siapa pun yang membunuh warga non-Muslim, dia akan masuk neraka. Mereka yang melakukan aksi--aksi teror dari Pakistan dan Afghanistan dan mengklaimnya sebagai sebuah jihad--mereka tidak tahu apa itu jihad. Itu adalah sesuatu yang dilarang. Tidak akan ada jannah (surga) bagi mereka," seru dia dan memperoleh teriakan persetujuan dari para hadirin.

Qadri juga menekankan pada kesetaraan wanita dalam Islam, sebuah elemen yang jarang disentuh oleh cendekiawan Islam lainnya. Hal ini membuat beberapa wanita menyukai ajarannya.

"Apa yang dia sampaikan sangat membuka pikiran, membuatmu merasa nyaman sebagai seorang wanita," ujar Sofia Saeed, 27, seorang asisten hukum yang datang dari Manchester untuk menghadiri kamp tersebut.

"Tidak ada diskriminasi di sini. Itu membuatmu menjadi penganut yang lebih taat dan seseorang yang lebih kuat," tambah dia.

Selama lebih lima tahun "Al Hidayah", telah tumbuh menjadi kamp spiritual terbesar dengan lebih dari 1.200 peserta dari lusinan negara.

Qadri menyakini kamp semacam itu lah yang menarik para remaja. Perempuan dan laki-laki mengenakan busana tradisional dan duduk di tempat yang terpisah di dalam auditorium dan orang tua serta anak-anak, dapat ikut berperan dalam memerangi ekstremisme dalam Islam.

Namun Qadri tidak yakin ajaran-ajarannya dapat mengubah pikiran radikal hanya dalam waktu tiga hari, namun ia percaya bahwa intelektualitas pada akhirnya akan dapat mengalahkan ekstremisme.

"Jika teroris berjumlah 10 orang dan pecinta damai 1.000 orang, maka mereka akan lebih kuat daripada kita dengan senjata yang mereka miliki, meskipun jika kita berjumlah 500 orang," ujar dia.

"Namun intinya adalah bahwa kita harus membuat 500 orang itu lebih kuat, bukan dengan senjata melainkan dengan mengkomunikasikan pesan-pesan Islam yang sesungguhnya." imbuh dia.

Program semacam ini sangat penting terutama bagi Inggris yang sejak tahun 2003 telah bergabung dalam invasi ke Irak, dan tahun 2005 ketika empat pemuda Muslim Inggris melakukan bom bunuh diri di jaringan transportasi lokal London, membunuh 52 orang.

Di seluruh dunia, dan terutama di Amerika, telah terjadi peningkatan tetap pemeluk Islam dalam sepuluh tahun terakhir. Sejumlah pemerintah yang ingin menangkal penyebaran Islam radikal di negaranya telah bekerjasama dengan beberap cendekiawan Muslim  dan mencoba menekankan ajaran-ajaran mereka.

Di Inggris, rumah bagi 2 juta Muslim, pemerintah pada awalnya bekerja untuk mempromosikan Islam dan mendukung pembentukan Dewan Sufi Muslim di tahun 2006, sebuah kelompok yang dengan keras menentang ekstremisme Islam.

Namun semenjak itu, mereka telah mengurangi dukungan-dukungan eksplisitnya. Menurut pihak pemerintah, bekerja melalui komunitas Muslim hanyalah salah satu elemen dari pendekatan yang lebih luas untuk melawan radikalisme Islam.

"Itu adalah bagian dari upaya yang lebih luas. Kami tidak ingin mengisolasi kelompok mana pun di atas kelompok lainnya," ujar juru bicara pemerintah. taq/iol

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA