Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Kontroversi Kematian Boko Haram

Jumat 31 Jul 2009 21:03 WIB

Red:

MAIDUGURI--Kematian Pemimpin Boko Haram, Mohammed Yusuf, jadi kontroversi. Hal tersebut setelah seorang koresponden BBC menyaksikan video yang diberikan kepadanya yang memperlihatkan Yusuf mengakui dan menyesal akan tindakannya sebelum ditembak mati.

Sebelumnya, beberapa jurnalis lokal menyaksikan Yusuf di barak militer beberapa saat setelah ditangkap oleh pasukan keamanan Nigeria. Yusuf tidak terlihat terluka sama sekali, bahkan ia mampu berjalan seperti biasa. Kemudian setelah ia dipindahkan ke kantor polisi ia kemudian dilaporkan mati.

Seorang juru bicara Kepolisian Maiduguri yang mengungkapkannya kepada para wartawan. "Ia telah dibunuh. Anda bisa datang dan melihat tubuhnya di markas besar kepolisian," kata Isa Azare, jubir tersebut.

Tidak ada penjelasan mengenai mengapa Yusuf dibunuh, akan tetapi lembaga advokasi HAM telah bersuara keras atas pembunuhan tersebut. Mereka mengatakan pembunuhan tersebut melanggar hukum karena tidak melewati proses pengadilan.

Peristiwa serupa sempat terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan AFP, sebanyak tiga orang terlihat ditembak mati di dekat sebuah stasiun, meskipun ketiganya sedang berlutut dan tidak bersenjata.

Seorang penduduk lokal, Linda Dukwa, mengatakan ia juga melihat polisi mengeksekusi dua orang Senin (27/6) lalu. "Dua orang tersebut memakai jubah putih. Polisi awalnya menembak kaki mereka, kemudian setelah keduanya jatuh, polisi menembak kepala mereka," kata Linda.

Akan tetapi juru bicara kepolisian nasional, Emmanuel Ojukwu, menyangkal tindakan eksekusi seperti itu. "Kami sangat menghormati hukum perang," katanya.

Pasukan keamanan Nigeria dikritik tajam atas caranya menumpas perlawanan dari kelompok Boko Haram. Seorang tokoh HAM, Shamaki Gad Peter, mengatakan telah mendapatkan laporan bahwa 20 orang tidak bersenjata ditembak dari belakang, saat mereka mencoba melarikan diri dari pertikaian antara pasukan keamanan dan kelompok kekerasan.

Juru bicara militer, Kolonel Mohammed Yerima, menyangkal perbuatan seperti itu, akan tetapi membenarkan kalau antara anggota kelompok kekerasan dan penduduk setempat susah dibedakan.

"Setahu saya, semua penduduk yang tinggal di tempat-tempat tersebut (wilayah pertikaian) telah dievakuasi, dan semua orang yang ada di tempat tersebut adalah para simpatisan dan anggota kelompok tersebut, jadi berita yang menyebutkan kami membunuh orang-orang tidak bersalah adalah tidak benar," kata Yerima. reuters/ap/nan/taq

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA