Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Lebih Membumi dengan Hijau Daun

Ahad 29 Mar 2009 10:51 WIB

Red:

Sejak awal mereka berkomitmen enggan mengikuti festival musik.

Mereka punya tekad yang sama: Tidak akan pernah mengikuti festival. Keduanya, Dide dan Array, juga berjanji untuk selalu membawakan lagu buatan mereka sendiri. ''Kalau pun pentas paling hanya di pensi (pentas seni) SMA atau sebagai bintang tamu saja di festival,'' lanjut Dide.

Bagi Dide dan Array, dengan tidak mengikuti festival berarti mereka sukses melawan arus. Delapan tahun lalu, tepatnya pada 2001, arus utama adalah band-band yang hidup, jatuh, dan bangun lewat ajang festival. Maka, mereka pun bertekad untuk tidak mengikuti arus dengan cara menolak keras ikut dalam festival, membentuk band indie, dan selalu membawakan lagu-lagu karya sendiri.

Apalagi, ''Saat itu di Lampung belum banyak band indie,'' ujar Dide. Maka, pandangan bermusik itu pun mereka tularkan pada teman-temannya yang lain, sehingga akhirnya Richard (bass) dan juga Arya (gitar) bergabung.

Meski baru empat orang personel yang terkumpul dan tanpa drummer, mereka menyatakan diri sebagai band bernama Hijau Daun tepat pada 22 Agustus 2002. ''Awalnya, kita mau pakai nama Clorofil,'' kata Dide. Namun, lantaran nama tersebut terdengar terlalu asing dan ilmiah, akhirnya mereka memilih nama yang lebih membumi: Hijau Daun.

Meski begitu, bagi mereka, filosofi nama tersebut tetap sama. Zat hijau daun merupakan zat dalam tumbuhan yang digunakan untuk berfotosintesis dan menghasilkan udara bagi kehidupan yang lain. ''Kita juga sebagai sebuah band ingin bila terus menghasilkan musik yang bisa diterima pencinta musik Indonesia,'' tambahnya.

Tanpa lewat festival, Hijau Daun mencoba menawarkan lagu-lagu mereka melalui pentas seni yang sering diadakan SMA-SMA di Lampung. Karena kebetulan mereka berasal dari SMA yang berbeda, maka setiap personel bertanggung jawab untuk membuat band tersebut tampil di SMA mereka masing-masing. ''Selain itu, kita punya banyak kenalan teman event organizer (EO). Kita juga selalu tampil berbeda dengan membawakan lagu sendiri, sehingga band kita jadi cepat terkenal,'' ujar Dide.

Sekitar 2006, ketika nama mereka sudah semakin dikenal berkat sebuah album kompilasi band indie di Lampung, Hijau Daun kemudian memberanikan diri untuk membuat album mini. Album yang berisi 10 lagu tersebut mereka buat dengan hasil keringat sendiri. Sebuah album yang bisa dikatakan mereka rekam sendiri.

Keempat personel Hijau Daun memang sudah bekerja. Untuk mewujudkan album pribadi mereka itu, masing-masing harus menyisihkan gajinya untuk ditabung. Bahkan, untuk bermain musik, mereka rela mencicil atau menabung untuk membeli alat-alat musik. Sebuah studio kosong pun satu demi satu mereka isi dengan gitar dan sebagainya. ''Kita main band sambil nabung ,'' ujar Array.

Dari album kerja keras itulah, lagu  Cobalah pun terdengar hingga  ke telinga salah satu produser di Jakarta. Tertarik dengan lagu tersebut, akhirnya sang produser pun menawari mereka untuk rekaman di bawah naungan Sony BMG Indonesia.Dan, inilah Hijau Daun sekarang. Ditemui ketika sedang menunggu giliran tampil di acara ulang tahun program musik  Dahsyat di  RCTI , Hijau Daun hadir bersama puluhan grup band dan penyanyi kondang lainnya.

Untuk urusan lagu, Hijau Daun pun kian sumringah dengan penghargaan Triple Platinum untuk penjualan RBT ( ring back tone ) untuk lagu  Suara (Ku Berharap) . Artinya, ada tiga juta orang di seluruh Indonesia yang menggunakan lagu dengan sentuhan Melayu itu sebagai nada sambung pribadi ponsel mereka.Tentang kesuksesan itu, Dide hanya berkomentar singkat, ''Kita mencoba untuk lebih baik dari pendahulu kita.'' kim

Belajar Memahami Lewat Pop Progresif

Meski terdengar seperti musik melayu yang banyak membanjiri pasaran musik Indonesia pada 2008, Hijau Daun memilih menyebut aliran musik mereka sebagai pop progresif. ''Bentuk musik pop yang bakal terus berkembang,'' ujar Dide, sang vokalis.

Mereka berlima ingin musik yang dimainkannya bisa bergerak ke arah mana saja. Untuk lebih menunjukkan konsep tersebut, dalam album terbaru mereka, Hijau Daun sengaja membuat musik yang berjenjang setiap lagunya. Beberapa lagu sengaja dibuat lebih sederhana dan mudah didengar. Sedangkan beberapa lagu yang lain sengaja dibuat sedikit lebih rumit sehingga seseorang harus mendengarkannya berkali-kali untuk memahami musik tersebut. ''Kita ingin teman-teman yang mendengarkan musik kita bisa belajar untuk memahami,'' kata Dide.

Seperti  hits mereka  Suara (Ku Berharap) . Lagu tersebut sengaja dibuat sederhana sehingga semua orang bisa menikmatinya. Awalnya, lagu tersebut terinspirasi dari sebuah serial yang pernah tayang di televisi pada sekitar tahun 1980-an. Dalam penggarapan lagu tersebut, mereka lebih menonjolkan permainan bass dan drum untuk menunjang ritme lagu, sedangkan permainan gitar dibuat lebih sederhana. Hasilnya, ''Meski lagunya ringan, instrumennya berkualitas,'' ujar Dide. kim

Sulitnya Menembus Jakarta

Bagi grup band dari luar Jakarta, bahkan berasal dari luar Pulau Jawa, boleh dibilang bukan pekerjaan yang mudah untuk menembus Ibu Kota dan meraih sukses.Hijau Daun pun punya cerita serupa. Memutuskan hijrah ke Jakarta menjadi bagian tersulit dari hidup masing-masing personelnya. Bagi Dide, sang vokalis, keputusan tersebut kian sulit lantaran mereka sebelumnya sudah bekerja di beberapa perusahaan swasta dan telah berada pada posisi mapan dengan gaji bulanan.

Selain itu, berkarier di Jakarta berarti juga pergi meninggalkan keluarga dan orang tercinta di Lampung. Konsekuensi itulah yang membuat  drummer mereka memilih untuk mengundurkan diri pada saat proses rekaman. Namun, bagi personel yang tersisa, musik adalah pilihan sehingga mereka bersedia menerima konsekuensinya.

Untuk menggantikan sang pemain drum, mereka mengadakan audisi pada tahun 2007 dan menemukan Denny sebagai penggebuk drum hingga saat ini. Kini, kendati sukses dengan penjualan tinggi RBT dan video klip mereka  rajin tampil di layar kaca, Hijau Daun mengakui tetap tidak mudah menembus telinga penikmat musik di Jakarta.

Mereka lebih banyak memulai dari daerah-daerah satelit seperti Depok, Bogor, Tangerang, atau Bekasi. Bahkan, lagu-lagu mereka banyak diapresiasi oleh mereka yang tinggal di Indonesia bagian timur. Seperti saat konser di Palopo, Sulawesi Selatan, sebanyak 25 ribu orang hadir menyaksikan mereka beraksi di atas panggung.Saat ini bisa jadi pekerjaan rumah utama mereka adalah memikat hati pendengar Jakarta.  kim

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA