Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Puluhan Ribu Warga Sambut Tradisi "Bau Nyale"

Ahad 15 Feb 2009 20:07 WIB

Red:

LOMBOK TENGAH-- Sekitar 20 ribu warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) memadati kawasan perbukitan Seger, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, guna menghadiri malam puncak penyambutan tradisi "Bau Nyale" (tangkap Nyale), sejak Sabtu (14/2) malam hingga Ahad (15/2) dini hari.

Malam puncak penyambutan tradisi "Bau Nyale" juga merupakan puncak festival budaya menyongsong pesta rakyat Lombok di bagian selatan itu yang sudah digelar sejak 11 Pebruari lalu.

Warga Lombok dari berbagai pelosok terutama dari Kabupaten Lombok Tengah itu berbondong-bondong ke bukit dan pantai Seger itu menggunakan beragam jenis kendaraan bermotor hingga terjadi kemacetan arus lalu lintas dan antrean panjang di pintu masuk kawasan pantai.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Pemerintah Provinsi NTB sepakat untuk menggelar tradisi "Bau Nyale" tahun ini pada tanggal 14-15 Pebruari, namun festival budaya digelar beberapa hari sebelumnya.

Tradisi "Bau Nyale" yang sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam itu didasarkan pada penghitungan penanggalan menurut tahun Sasak.

Setiap tahun "Nyale" atau sejenis cacing laut(anelida polycaetae) yang muncul sekali dalam setahun di pantai selatan Pulau Lombok, ditangkap pada tanggal 19 dan 20 bulan kesepuluh dan kesebelas. Awal tahun Sasak ditandai dengan terbit bintang "Rowot", sementara menurut penghitungan suku Sasak bulan kesatu dimulai pada tanggal 25 Mei dan umur setiap bulan dihitung 30 hari.

Jika dibandingkan dengan tahun Masehi, perbedaan siklusnya berbeda sedikit atau bulan kesepuluh dan dan kesebelas itu berkisar antara Pebruari atau Maret.

Sejauh ini tradisi "Bau Nyale" dilaksanakan di empat titik yakni pantai Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat, Pantai Tampak, Kecamatan Pujut, Pantai Mawun, Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, dan pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut.

"Nyale" yang hendak ditangkap itu diyakini merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang pada ratusan tahun silam memilih menceburkan diri ke Laut Selatan Pulau Lombok ketika kesulitan memilih satu dari tiga pangeran yang sangat ingin mempersuntingnya.

Konon saat menceburkan diri itu Putri Mandalika berubah menjadi "Nyale" yang kemudian diasumsikan oleh masyarakat di sekitar pantai selatan itu kalau Puteri Mandalika berubah menjadi "nyale" agar berguna bagi banyak orang, daripada menjadi obyek perebutan ketiga pangeran tersebut.

Selain Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Wiratmaja beserta para pejabat Pemkab Lombok Tengah, malam puncak penyambutan tradisi "Bau Nyale" itu juga dihadiri Direktur Sarana dan Promosi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Dra Esthy Reko Astuti dan sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi NTB.

Raja Karangasem, Bali, juga berkesempatan menghadiri acara tersebut.

Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Wiratmaja mengatakan, tradisi "Bau Nyale" itu bukan lagi pesta rakyatnya masyarakat Lombok Tengah tetapi sudah menjadi kegiatannya masyarakat NTB karena telah diagendakan dalam kalender pariwisata NTB.

"Bahkan juga diminati wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga kami selalu merayakannya setiap tahun karena banyak yang berminat," ujarnya.

Menurut dia, masyarakat di 10 desa yang terletak di dekat pantai selatan Pulau Lombok juga merayakan tradisi "Bau Nyale" itu, namun harus selalu berlandaskan persatuan dan kesatuan.

Pemerintah daerah pun selalu mendukung tradisi itu karena merupakan momen pariwisata yang dapat mendatangkan investor karena kawasan di sekitar pantai selatan Lombok memiliki potensi sumber daya alam yang menjanjikan.

"Ada banyak investor yang sudah menyatakan minatnya untuk mengembangkan sektor pariwisata yang kita miliki," ujarnya.

Sementara Direktur Sarana dan Promosi Depbudpar, mengatakan tradisi "Bau Nyale" itu merupakan kegiatan yang sangat mendukung target Visit Indonesian Year (VIY) 2009 sebanyak 8,5 juta orang.

"Kami dari Depbudpar sangat mendukung kegiatan ini, namun kemasannya yang harus terus dibenahi agar mampu menggaet wisatawan sebanyak-banyaknya," ujarnya. ant/fif

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA