Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Raisis A Panigoro: Pilih Urus Kesehatan dan Pendidikan

Ahad 14 Dec 2008 22:59 WIB

Red:

Suatu ketika, Raisis mendampingi suaminya, pengusaha Arifin Panigoro, pergi ke Brasil. Tujuannya untuk melihat secara langsung perkebunan tebu di negara itu. "Malam-malam kita pergi ke pelosok Brasil untuk melihat dan mencontoh bagaimana mengubah tebu menjadi alternatif bahan bakar," ujar Raisis.

Melalui Medco Foundation, keluarga Panigoro tengah menggalakkan sektor pertanian dan perkebunan. Itu adalah upaya untuk membantu Indonesia saat ini. Di berbagai daerah, Medco Foundation telah menggalakkan penanaman padi unggul SRI, selain menggalakkan penanaman kebun bahan baku energi alternatif.

Menurut Raisis, untuk membantu bangsa tidak perlu harus menjadi presiden dan wakil presiden. "Saya bilang menjadi presiden bukan tujuan kalau kita ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini," ujar wanita yang gemar berenang ini. Maka, ia kurang setuju jika Arifin Panigoro digadang-gadang masuk ke Istana pada 2009 nanti. "Janganlah, buat apa, sudah banyak yang mencalonkan," kata dia.

Wanita kelahiran Purworejo 22 Juli 1948 dan besar di Bandung itu sudah mengenal Arifin sejak masa-masa mengenyam pendidikan di Bandung pada era 60-an. Keduanya bahkan aktif di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Enam tahun menjadi teman dekat, mereka lalu memutuskan menikah meski Arifin saat itu belum menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung.

Nama Raisis yang unik itu didapatkannya dari nama kakeknya, Rais, yang kemudian ditambahkan 'is' di belakangnya oleh ayahnya. Selain itu, kata Raisis, nama itu melambangkan perpaduan antara Dewa Ra dan Dewi Isis dari mitologi Mesir. ''Dewa Ra adalah dewa matahari Mesir Kuno dan dianggap sebagai dewa tertinggi dalam kebudayaan Mesir Kuno. Sedangkan Dewi Isis adalah simbol dari seroang ibu dan istri yang sempurna,'' ujar ibu dari Maera Hanafiah dan Yaser Raimi ini.

Arifin, pada 2007 dinobatkan majalah Forbes sebagai bagian dari 40 pengusaha terkaya di Indonesia. Pada usianya yang ke-62 saat itu, Arifin memiliki kekayaan 880 juta dolar AS. Medco Energi Internasional, perusahaan minyak milik Arifin, seperti yang ditulis majalah bisnis itu, telah berekspansi hingga ke Libya, Yaman, dan Tunisia.

Meski menjadi istri dari seorang pebisnis sukses, dia tidak mempunyai keinginan untuk ikut terjun mengurusi bisnis tersebut. Nenek dari lima cucu ini justru lebih tertarik pada banyak kegiatan sosial. Raisis, pada Selasa (9/12) memberikan waktu wawancara kepada Rosyid Nurul Hakim dan Amin Madani dari Republika. Berikut petikannya:

Bapak Arifin Panigoro tercatat sebagai salah seorang pengusaha sukses. Bagaimana peran Anda sebagai istrinya?

Saya mengalir begitu saja. Waktu kami menikah, Pak Arifin belum selesai sekolahnya. Setelah selesai sekolah terus cari kerja ya dia sering diskusi juga harus bekerja seperti apa. Akhirnya dipilih yang gampang-gampang aja. waktu itu Pak Arifin jadi supplier untuk Krakatau Steel. Kita berdua jadi pemasok barang di sana.Terus saya sering lihat perumahan di Krakatau Steel. Rumahnya bagus-bagus dan nyaman, saya usulkan pada Pak Arifin untuk kerja di perusahaan itu saja agar saya dapat satu rumah itu. Tapi, memang Pak Arifin lebih suka kerja sendiri jadi cuma iya-iya aja.

Dia selalu nanya, meminta pertimbangan saya. Tapi saya jawab, ''Kamu lebih tahu, saya ikut saja.'' Saya sekedar mengingatkan, ''Kita dari keluarga biasa-biasa aja, jadi jangan macem-macem. Pokoknya satu, kalau pekerjaan kamu itu jangan merugikan orang banyak. Harus tahu etika berbisnis dan jangan menghalalkan segala cara.''Untuk saya, bisnis itu yang lurus-lurus saja. Buat apa dapat duit banyak, tapi caranya tidak benar. Cari untung ya sewajarnya, karena dalam bisnis juga ada etikanya. Kalau apa yang didapat sekarang kebetulan Dewi Fortuna ada pada kita saja. Tapi, secara keseluruhan saya tahu insting Pak Arifin untuk bisnis itu kuat sekali.

Mengapa Anda tidak ikut membantu menangani bisnis, tetapi justru lebih memilih aktif dalam kegiatan sosial?

Saya paling takut berbisnis. Sejak dulu saya itu orangnya tidak ingin rugi. Dikit-dikit saya takut rugi. Untung saya perempuan, jadi gak harus bekerja ya. Saya takut rugi.

Tetapi, saya justru bahagia tidak ikut di bisnis. Karena saya lihat di bisnis banyak yang malah jadi berantem. Saya juga mengamati dunia bisnis dari jauh, banyak yang malah bermusuhan. Hubungan manusia bisa rusak dari bisnis. Biasanya kalau untung terus tidak ada problem, tapi kalau sudah rugi pasti ada bentrokan. Bisa terjadi, temen kita dari dulu malah jadi bermusuhan. Itu yang saya takut. Orang bisa berubah karena bisnis, sahabat bisa berubah. Kalau tidak ada urusan bisnis, hubungan kita sama orang lain lebih enak, lebih tenang.

Anda memilih aktif di kegiatan sosial bidang kesehatan. Mengapa?

Sekarang fokus saya di Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI). Kemudian oleh ketua perkumpulan itu saya ditunjuk sebagai wakil ke Komnas Pengendalian Tembakau. Saya masuk PPTI sejak tahun 1995. Pada waktu itu zamannya Ibu Supardjo Rustam dan seksi dananya Ibu Ginanjar Kartasasmita. Saat itu saya ditarik oleh beliau untuk membantu, tapi waktu itu saya kurang aktif karena ada kegiatan yang lain. Sewaktu Ibu Ratih Siswono Yudhohusodo yang pegang, dia yang mendorong saya untuk membantu lebih aktif. Dan, ternyata setelah lebih aktif di dalamnya saya mendapat kepuasan tersendiri dengan bekerja sosial.

Kebetulan saya diberikan kelebihan oleh Tuhan dalam hal materi. Dari hal itulah kita bisa berbagi. Karena kebetulan penyakit TBC itu kebanyakan kasusnya terjadi di kalangan masyarakat miskin. Jantung atau stroke memang penyakitnya orang kaya, tapi TBC banyaknya orang miskin yang kurang gizi dan rumahnya tidak sehat. Mereka mana sempat memikirkan untuk mengurusi rumahnya, bisa tinggal saja sudah senang. mereka tidak sampai memikirkan bahwa rumah itu harus masuk sinar matahari, sanitasi yang baik, dan higienitas. Belum lagi soal makan. Mereka bukan kalangan yang punya susu atau segala macem.

Nah, kepuasan saya itu dengan membantu mereka. Karena sebenarnya PPTI itu didirikan untuk membantu pemerintah dalam hal lain-lain di luar penyediaan obat yang memang sudah disediakan pemerintah. Kita kebagian membantu transportasi warga miskin itu untuk mendapat obatnya yang mungkin tidak bisa mereka dapat karena saking miskinnya. Lalu kalau dia sakit dan terbukti TBC, tapi masih juga belum bisa mencukupi makanannya, kita kasih semacam sembako. Kebutuhan primer mereka harus dipenuhi. Dan, itu tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, tapi kalau obat iya.

Melalui PPTI Anda ditunjuk sebagai wakil di Komnas Pengendalian Tembakau yang ikut mendorong pembatasan perdagangan tembakau. Bisa Anda ceritakan tentang ini?

Kalau setahu saya, pengendalian tembakau itu, kita tidak melarang yang berujung pada menghentikan produksi tembakau sama sekali. Kita hanya mengimbau. Karena, sekarang produk-produk rokok diarahkan pada anak-anak muda atau perokok pemula.

Padahal pemuda itu harapan bangsa kalau nanti kita tidak ada. Tapi, kalau ini sudah rusak, bagaimana? Di luar negeri saja tembakau sudah sangat dibatasi. Di sini saja yang masih seenaknya. Saya pernah melihat waktu di mobil kalau berhenti sering ada pengamen. Sopir mobil itu justru memberi rokok dan bukan memberi uang lagi. Kalau dilihat anak itu masih kecil. Sampai segitunya.

Kita itu cuma mau mengusulkan untuk meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobaco Control). Bahkan Indonesia ikut tanda tangan FCTC, waktu itu Prof Anfasa Farid Muluk yang masih jadi menteri kesehatan. Beliau ikut menggagas FCTC itu untuk seluruh dunia. Sekarang ada sekitar 62 negara yang sudah menerapkan itu, tapi Indonesia justru belum. Coba bayangkan ada even olahraga yang malah disponsori oleh rokok. Itu kan bertentangan. Mana ada hubungannya olahraga dengan rokok.

Saya di Komnas Pengendalian Tembakau juga mengajak Bapak (Arifin Panigoro). Nah, dia itu serius di sini. ''Saya mendukung,'' katanya. Dia secara finansial ada dan mau membantu. Tapi, kita ini kayak David lawan Goliath. Kita dengan pabrik rokok itu. Tapi, tetep dong kita berjuang.

Sampai sejauh mana usaha Anda?

Kita masih sering bikin debat. Pada saat Hari Kesehatan Sedunia yang lalu kita bikin deklarasi antitembakau dengan orang-orang terkenal yang menandatangani. Kita juga berencana mau membuat iklan untuk antitembakau.

Dan, satu lagi di pojok jalan masuk ke rumah saya ini ada reklame besar iklan rokok. Waktu kita bangun griya di situ, pengusaha reklame pasang tiang. Waktu itu Bapak bilang, ''OK kamu boleh pasang di situ, tapi begitu rumah saya jadi itu harus tidak ada.'' Itu sudah disetujui. Tapi, sampai sekarang masih terpasang. Sampai pernah satu kali Komnas audiensi dengan Gubernur Fauzi Bowo. Saya bilang waktu itu, ''Iklan itu tolong diturunkan. Kalau tidak, kata suami saya mau digergaji.'' Mereka bilang akan memperhatikan. Saya sih inginnya iklan itu bisa turun dan diganti dengan iklan milik Komnas. Meskipun mungkin mengganggu pemandangan, tapi demi Komnas tidak apa-apa. Tapi, saya tidak rela kalau buat iklan rokok.

Selain di bidang kesehatan Anda juga aktif dalam bidang pendidikan. Apa saja yang Anda lakukan di bidang itu?

Saya juga concern ke pendidikan. Yang saya lakukan untuk negara ini adalah pendidikan dan kesehatan. Pendidikan itu nomor satu. Seorang anak itu harus sekolah, karena mereka yang akan menggantikan kita, kalau mereka tidak sekolah bagaimana? Jadi, saya membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk bisa sekolah. Secara teknis bantuan saya hanya selama sembilan tahun. Saya cuma membantu dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMP. Sesudahnya terserah kalau mereka mau membantu orang tuanya lagi.

Saya usahakan semua anak-anak kecil yang kurang mampu ini masuk sekolah. Jangan sampai tidak masuk sekolah karena tidak ada biaya. Meski sekarang ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah), tapi kenyataannya saya juga harus membantu mereka. Sekarang sekolah itu mintanya banyak, minta ini minta itu. Jadi, apa artinya BOS kalau orangtua murid masih dibebani dengan dana-dana yang lain. Saya sampai berantem dengan sekolah untuk membela anak-anak asuh saya agar bisa gratis. Anak-anak itu sudah dibantu, kenapa masih diminta-minta bayaran lagi seperti halnya murid yang punya uang? Contohnya saja buku, dulu buku saya bisa dipakai adik saya. Tapi, sekarang tidak seperti itu, karena tiap tahun harus ada buku baru. Tapi, apapun itu saya tetap ingin mebantu mereka.

Saya mengelola sendiri kegiatan ini, tanpa sekretaris atau yang lain. Tiap bulan saya yang mengurus pembayaran semua dengan membaginya ke setiap koordinator anak asuh itu. Kelompok anak asuh saya di antaranya ada di Cilincing, Pamulang, Cikini, dan anak jalanan di Pasar Minggu. Saat ini ada sekitar 500 orang. Nanti kalau mereka sudah kelas tiga SMP mereka harus keluar dari program beasiswa pribadi saya itu untuk memberi kesempatan yang lain. Ada beberapa yang brilian saya terusin bantuannya. Tapi, memang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Ikut Andil dalam Reformasi 98

Pada masa aksi demonstrasi massal mahasiswa tahun 1998 untuk menuntut turunnya Soeharto dari kursi presiden, keluarga Panigoro menjadi salah satu keluarga yang mengambil peran membantu mahasiswa itu. Saat jumlah demonstran semakin banyak melakukan protes di DPR, Raisis A Panigoro membuat posko di rumahnya jalan Jenggala 1 Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Sampai sekarang juga masih jadi posko," ujarnya.

Ketika itu dia mengajak seluruh teman-temannya di kegiatan arisan atau pengajian untuk berkumpul dan membantu membuat makanan untuk para mahasiswa. Ribuan bungkus makanan dibagikan setiap harinya melalui Posko Jenggala.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA