Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Syafii Maarif Usulkan Catur Dharma Perguruan Tinggi

Jumat 13 Aug 2010 08:29 WIB

Rep: Yoebal Ganesha/ Red: taufik rachman

REPUBLIKA.CO.ID,BANTUL -- Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Ma’rif, mengatakan saat ini telah banyak orang cerdas secara intelektual, namun mereka sangat kurang kecerdasan hatinya.

Akibatnya, kata Syaffi, normal saja lalu banyak terjadi perusakan sebagai akibat dari kecerdasan intelektual tersebut seperti pengeboman, nuklir dan lain-lain. Berkaitan dengan kondisi ini, Syafii lalu melihat perlu sebuah darma lagi dalam dunia perguruan tinggi, sehingga tri darma tersebut menjadi catur darma.

Katanya, Tri Darma Perguruan Tinggi yang ada saat ini, yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, ternyata belum cukup untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik. Ia menyebutnya darma keempat itu sebagai darma ''moral'' -- yakni perguruan tinggi sebagai lembaga percontohan moral.

Syafii mengemukakan padangannya saat berbicara dalam diskusi ''Implementasi Catur Dharma di Perguruan Tinggi'' di Kampus Terpadau Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Kasihan, Bantul, Kamis (12/8).

''Saat ini peradaban dunia adalah peradaban how, dimana kita gencar menciptakan sesuatu. Namun tidak mempertanyakan mengapa kita harus menciptakan sesuatu tersebut why,'' kata Syafii dalam rilis Humas UMY.

Ia mengatakan dengan kurangnya kontek why dipertanyakan, yang terjadi kemudian adalah sering adalah penyalagunaan. ''Contohnya teknologi yang digunakan untuk kejahatan. Jika peradaban yang dibangun adalah peradaban ‘how’ maka yang terjadi adalah harakiri perdaban.''

Untuk itu perlu peran perguruan tinggi sebagai agen percontohan moral agar terjadi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan hati,'' tuturnya.

Syafii lalu mengingatkan para pengajar sekarang jangan selalu berpikir mekanik yang kaku, sehingga proses belajar mengajar cenderung searah dan kelas dikuasai oleh guru atau pun dosen.

''Para pengajar harus berpikir dan mengajar kreatif, selalu mengupdate pengetahuan maupun proses belajar mengajar yang dua arah dan seimbang antara guru dan murid,'' katanya. Ia menegaskan seorang pengajar atau dosen haruslah selalu banyak membaca dan memperbanyak pergaulan. ''Jangan pernah berhenti membaca,'' tegasnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA