Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

ACFTA Diberlakukan, Produksi Sepatu Cibaduyut Anjlok 60 Persen

Kamis 29 Jul 2010 01:19 WIB

Red: Siwi Tri Puji B

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: *

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Produksi sepatu Cibaduyut oleh Koperasi Bina Usaha Angkatan Muda Indonesia Bersatu Jawa Barat anjlok hingga lebih dari 60 persen  pascasca-pemberlakuan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA).

"Tahun ini sangat jelas penurunannya (produktivitas) dibandingkan pada 2009. Tahun lalu masih lumayan bagus," kata Ketua Koperasi Bina Usaha Angkatan Muda Indonesia Bersatu (AMIB) Jawa Barat, Andy Ansyaruding, di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, saat ini produktivitas per industri rumah tangga yang dibinanya hanya sekitar 300 pasang sepatu per-pekan. Padahal tahun lalu, produktivitas per industri rumah tangga bisa mencapai 900 pasang sepatu per-pekan. "Tidak hanya itu, bahkan perajin binaan kami sekarang tinggal tersisa 20 persen. Sebanyak 80 persen lainnya gulung tikar karena kekurangan modal," kata Andy.

Koperasi Bina Usaha AMIB Jawa Barat saat ini hanya membina sekitar 30-an perajin dari tahun sebelumnya mencapai 153 perajin di sekitar Cibaduyut.

Andy mengatakan, pasca pemberlakukan ACFTA industri sepatu yang dibina koperasinya terhadang berbagai macam persoalan mulai dari kurangnya modal usaha hingga sulit bersaing dengan produk China. "Tapi kami masih mengandalkan kualitas, masyarakat sudah tahu kualitas Cibaduyut masih lebih bagus dibandingkan produk China," katanya.

Persoalan kemudian masih ditambah dengan membengkaknya biaya operasi karena kenaikan tarif dasar listrik (TDL) belum lama ini dan naiknya bahan baku kulit di pasar dalam negeri. "Hal itu membuat harga pokok produksi (HPP) per-pasang sepatu membengkak menjadi Rp190 ribu. Padahal tahun lalu HPP hanya Rp140 ribu," katanya.

Ia menambahkan, biaya tersebut belum termasuk biaya pegawai yang mencapai Rp25 ribu/orang sampai biaya kemas. Pasca-pemberlakukan ACFTA hingga saat ini, pasar domestik belum mampu menyerap secara optimal produksi sepatu koperasi binaannya. "Produksi kami masih untuk konsumsi dalam negeri, belum sampai ekspor," katanya.

Terkait dengan permintaan sepatu menjelang lebaran, Andy mengakui terjadi lonjakan permintaan mencapai 30-40 persen. "Tapi kami tidak memproduksi lebih banyak, hanya mengeluarkan stok yang selama ini tidak optimal terserap pasar," tambahnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA