Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Awas, Obat Diabetes Bisa Naikkan Risiko Serangan Jantung

Sabtu 03 Apr 2010 09:05 WIB

Red: irf

ilustrasi

ilustrasi

WASHINGTON--Laporan Senat mengenai obat diabetes Avandia mengatakan baik GlaxoSmithKline maupun Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika sejak awal harusnya memperingatkan konsumen tentang dampak samping obat itu, bukannya sekarang. Laporan tersebut merekomendasikan supaya Avandia ditarik dari peredaran.

Pada tahun 2007, seorang peneliti, Dr Steven Nissen, menerbitkan hasil riset yang menunjukkan Avandia meningkatkan resiko serangan jantung sebesar 43 persen dan pengguna Avandia menghadapi resiko kematian 64 persen lebih besar dibanding yang tidak menggunakan obat itu. "Kami sudah memperingatkan dampak samping itu sejak dua setengah tahun yang lalu.  Tidak ada alasan bagi para dokter untuk terus meresepkan obat tersebut. Sudah waktunya obat itu ditarik," kata Nissen.

Namun para dokter terus meresepkan Avandia kepada ratusan ribu pasien di seluruh dunia. Dr Yasser Ousman dari Rumah Sakit Umum Pusat Washington meresepkan obat itu bagi sejumlah pasien berpotensi diabetes dan bagi penderita diabetes tahap awal. Menurut dia ada sejumlah obat yang diuji kepada para pasien, termasuk Avandia. Faktanya, kata dia, Avandia cukup efektif dalam mempertahankan kadar gula darah, menormalkannya dan memperlambat para pasien terkena diabetes.

Namun Nissen kembali memperingatkan dampak samping Avandia. "Yang paling menganggu saya adalah setiap bulannya semakin banyak orang menderita akibat obat yang tidak diperlukan itu," ungkap dia. Laporan Nissen berdasarkan hasil 42 ujicoba klinis ini menunjukkan adanya kaitan antara Avandia dan gangguan jantung. Namun Yasser Ousman mengatakan bahwa berdasar informasi dan statistik dari riset awal Nissen pada tahun 2007, resiko gangguan jantung dalam riset itu sebenarnya kecil.

Studi tentang penggunaan Avandia yang dibiayai GlaxoSmithKline dan diterbitkan tahun lalu tidak menemukan ada kenaikan resiko serangan jantung pada pengguna obat itu. Namun studi tersebut menemukan adanya kenaikan resiko gagal jantung pada pengguna Avandia karena jantung tidak cukup mengalirkan darah ke organ-organ tubuh atau otot. Dalam sejumlah kasus, pasien harus dirawat atau meninggal dunia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika mengatakan akan mengkaji kaitan Avandia dan gangguan jantung. Panel ahli badan ini dijadwalkan akan bertemu pada bulan Juli. Badan tersebut memperingatkan pengguna Avandia supaya tidak menghentikan obat ini kecuali atas perintah dokter.

sumber : VOA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA