Kamis 13 May 2021 21:00 WIB

Kalimat Pertama Umar bin Abdul Azis Usai Dibaiat Khalifah

Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah yang terkenal adil

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah yang terkenal adil. Umar bin Abdul Aziz. (ilustrasi)
Foto: wikipedia
Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah yang terkenal adil. Umar bin Abdul Aziz. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Menjelang ajalnya, Sulaiman bin Abdul Malik mengumpulkan sejumlah menteri utamanya. Mereka diminta menyampaikan baiat untuk khalifah penggantinya.

Siapa sosok yang dimaksud? Hingga saat itu, tidak ada yang mengetahuinya selain Sultan Sulaiman sendiri dan orang-orang kepercayaannya. Yang pasti, nama penerusnya sudah tercantum dalam surat wasiat yang tertutup rapat. Siapa pun yang ditunjuknya, para pembantu penguasa mesti setia menaatinya.

Pada 24 September 717 Sulaiman wafat. Sepeninggalannya, surat wasiat itu pun dibuka. "Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah surat keputusan dari hamba Allah, Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya, aku telah mengangkatnya sebagai khalifah setelahku dan setelah dia (Umar) adalah Yazid bin Abdul Malik. Maka, dengarkanlah dan taatilah dia, serta bertakwalah kepada Allah. Jika kalian berpecah belah, musuh akan mudah menundukkan kalian, demikian isi surat tersebut."

Umar bin Abdul Aziz merupakan saudara sepupu almarhum sekaligus cicit sahabat Nabi Muhammad SAW, Al-Faruq Umar bin Khattab. Sesungguhnya, ia berada di luar garis trah langsung Umayyah. Apalagi, masih ada anak keturunan Al-Walid bin Abdul Malik, khalifah yang menjabat sebelum Sultan Sulaiman.

Akan tetapi, penunjukan putra gubernur Mesir Abdul Aziz bin Marwan itu tidak terutama mengenai soal nasab. Reputasi dan integritasnya itulah yang menjadi pertimbangan utama. Kedua aspek itu saja sudah terbukti tatkala dirinya menjabat sebagai gubernur Madinah al-Munawarrah.

Menurut Prof Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Abdul Aziz: Khilafah Pembaru dari Bani Umayyah (2010), Sulaiman menunjuknya atas saran dari ulama besar yang juga seorang menteri istana, al-Faqih al-'Alim Raja' bin Haiwah.  

Bisa dibilang, semua elite dan penduduk negeri menyetujui naiknya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah kedelapan. Masyarakat dan tetua Madinah malahan sepenuh hati mendukungnya. Bagaimanapun, figur berjulukan ar-Rasyid Asyajj Bani Umayyah ini tidak larut dalam euforia.

Begitu mengetahui kabar penunjukannya, Umar langsung mengucapkan, Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. Namun, para petinggi dan tokoh Muslim sudah merasa gembira dengan berita ini. Mereka pun tetap meminta Umar untuk melaksanakan amanah kepemimpinan. Akhirnya, lelaki yang gemar menuntut ilmu-ilmu agama itu mau menerima jabatan tersebut.

Seusai dibaiat, ia berpidato di hadapan rakyat, "Aku tidak menghendaki jabatan khalifah. Aku tidak pernah diajak musyawarah atas jabatan itu, juga tidak pernah memintanya. Maka, cabutlah baiat itu dan pilihlah yang kalian kehendaki." Seketika, massa berteriak, "Sungguh kami memilih engkau, wahai Amirul Mukminin!" Merasa tak bisa menghindar lagi, ia pun menjelaskan caranya dalam memimpin umat, "Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku."

Usai menyampaikan pidato iftitah, Umar pulang ke rumahnya dengan wajah bermuram durja. Kepada istrinya, ia menuturkan, "Aku telah diuji Allah dengan jabatan ini dan aku teringat orang-orang yang miskin, ibu-ibu janda, dan mereka yang rezekinya sedikit. Aku pun teringat orang-orang tawanan dan kaum fakir miskin. Kelak, mereka akan mendakwaku di akhirat."  

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement