Kamis 10 Dec 2020 20:02 WIB

Politikus Senayan: Apakah Memang Harus Enam Nyawa Melayang?

Anggota dewan mendorong penyelidikan yang transparan atas penembakan anggota FPI.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Teguh Firmansyah
Anggota Front Pembela Islam (FPI) mengadakan unjuk rasa untuk memprotes penembakan anggota mereka oleh polisi di Banda Aceh, Indonesia, 08 Desember 2020. Enam tersangka pendukung ulama Indonesia Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam , ditembak dan dibunuh dalam bentrokan dengan petugas polisi pada 07 Desember. 2020.
Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Anggota Front Pembela Islam (FPI) mengadakan unjuk rasa untuk memprotes penembakan anggota mereka oleh polisi di Banda Aceh, Indonesia, 08 Desember 2020. Enam tersangka pendukung ulama Indonesia Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam , ditembak dan dibunuh dalam bentrokan dengan petugas polisi pada 07 Desember. 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi III DPR RI menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan keluarga korban laskar FPI yang tewas akibat bentrokan dengan kepolisian di Jalan Tol Cikampek KM 50. Anggota Komisi III DPR Aboebakar Alhabsyi menyayangkan terjadinya peristiwa berdarah tersebut.

"Rasanya seharusnya tidak perlu terjadi peristiwa seperti ini ketua, apa memang harus berujung dengan hilangnya nyawa enam orang?" kata Aboebakar, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta,   Kamis (10/12).

Baca Juga

Aboebakar menilai hilangnya enam nyawa tersebut merupakan harga yang sangat mahal. Padahal selama ini Kapolri selalu menyampaikan bahwa Polri menganut asas populis suprema lex esto.

Ia mengapresiasi kehadiran keluarga korban ke komisi III DPR. Menurutnya kehadiran keluarga korban ke komisi III DPR menunjukan tiga hal. Pertama di tengah kesedihan yang dialami keluarga korban, keluarga korban tidak gelap mata dan tidak main hakim sendiri.  "Kedua Bapak dan ibu juga menghormati, dan mengenakan jalur yuridis yang ada, salah satunya mengadu ke Komisi III ini, dan itu konstitusional," ungkapnya.

Terakhir, kedatangan keluarga korban menujukkan kepercayaan keluarga korban kepada Komisi III. Sekjen PKS itu mengatakan Komisi III tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. "Insyaallah apa yang disampikan nanti akan diteruskan sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang berlaku," tuturnya.

Anggota Komisi III DPR Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan juga mengungkapkan duka cita atas meninggalnya enam laskar FPI pada Senin (7/12) lalu. Fraksi PDIP sepakat untuk mencari titik terang kasus tersebut sehingga tidak ada polemik terhadap fakta yang sesungguhnya. "Bahkan kita juga melepaskan kepada semua pihak, ada komnas HAM, ada Mabes Polri, ada Propam, siapapun yang ingin mencari kejelasan perkara ini kita lindungi, dan kita nyatakan itu suatu proses yang konstitusional," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni juga menyoroti peristiwa bentrokan yang terjadi antara laskar FPI dengan kepolisian. Namun ia mengkoreksi penggunaan istilah 'pembantaian' yang sempat disampaikan salah satu keluarga korban.  "Sampai detik ini polisi belum menyampaikan secara lugas tentang kejadian di jalan tol," ucapnya.

Ia memahami kesedihan yang dialami keluarga korban yang datang ke DPR. Namun ia mengimbau kepada keluarga korban untuk mengikuti proses hukum yang dilakukan oleh kepolisian.

Politikus Partai Nasdem itu mengapresiasi aspirasi yang disampaikan ke Komisi III. Dirinya juga mengatakan bahwa Komisi III belum akan memberikan keputusan apapun dalam rapat hari ini.  "Tapi kita akan memberikan keputusan setelah polisi memberikan lembaran transparansi apa yang telah dilakukan pada malam penembakan tersebut," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement