Menginspirasi Penulis Perempuan

Asma Nadia

Penegak Hukum tak Boleh Tersandera

Setiap cobaan yang ditimpakan pada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalimat itu kelihatannya memang klise. Tapi selalu saja terbukti kebenarannya. Dan itu pula yang dirasakan oleh Asma Nadia. Sakit yang dideritanya telah menjadikan dia salah satu penulis novel dan buku yang produktif dan inspiratif.

Sewaktu kecil, Asma adalah Asma kecil yang sakit-sakitan. Pernah katanya dia menderita sakit jantung, kemudian sakit paru-paru, bahkan juga pernah gegar otak. Jadi kehidupan Asma kecil adalah kehidupan yang akrab dengan rumah sakit. Karena sakit-sakitan itu pula yang membuat dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di IPB.

Lantas apa yang dilakukan saat berada di rumah sakit di RSCM? Membaca buku. Ibunya, yang biasa dia panggil mami, selalu membelikan buku ketika dia harus menunggu antrean di rumah sakit. Asma kadang bertanya dalam hati, dari mana uang untuk membeli buku itu, karena keluarga mereka boleh dibilang keluarga sangat sederhana. Belakangan Asma tahu bahwa ternyata dengan membeli buku itu, maminya mengorbankan makan siang.

Ketelatenan membeli buku itu tak terasa membuat koleksi buku mereka semakin banyak. Agar lebih bermanfaat, keluarga yang tinggal di pinggir rel kereta itu membuat tempat penyewaan buku yang sederhana. Uang sewa dari buku itu dibelikan lagi buku untuk menambah jumlah buku persewaan.

Asma Nadia yang bernama asli Asmarani Rosalba itu meyakini bahwa kebiasaan membaca buku sejak kecil itu secara tak langsung telah menginspirasinya menjadi penulis. Meskipun pada awalnya dia sendiri minder untuk menulis. ‘’Cerpen saya selalu mendapat kritik dari saudara saya,’’ kata Asma yang mempunyai dua saudara, salah satunya adalah penulis kawakan Helvy Tiana Rosa.

Tapi, selain memberi kritikan, Helvy tak henti-hentinya memompa motivasi agar Asma terus menulis. Helvy pula yang memberi nama ‘komersial’ sekarang ini. Nama tersebut berari nama yang menyeru. Menurut Helvy, nama Asmarani Rosalba itu sulit diingat. Karena itulah ia menciptakan nama pena untuk adiknya yang gampang diingat dan gampang diucapkan, Asma Nadia.

Asma mulai menulis serius sejak duduk di bangku SMP. Suatu ketika dia menulis sebuah cerpen yang panjang. Langsung saja cerpen itu dikritik habis saudaranya. Kritik itu dia perlakukan sebagai cambuk, sampai akhirnya cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga” dimuat di Majalah Annida pada 1990. Lima tahun kemudian ia mendapatkan penghargaan dari majalah tersebut sebagai juara pertama lomba menulis cerpen islami di tingkat nasional. Juara tersebut diraihnya dua tahun berturut-turut.

Hal tersebut masih belum membuatnya percaya diri dalam menulis. Ia masih merasa bahwa profesi menulis bukanlah profesi yang menjanjikan. Sampai kakaknya, Helvy Tiana Rosa, mengatakan bahwa menulis itu tidak hanya bisa dilakukan sebagai hobi, tetapi juga bisa menjadi media dakwah.

Dari sana Asma memutuskan untuk memberi misi dalam setiap tulisannya. Tulisan-tulisan di awal karier menulisnya memfokuskan diri pada tulisan remaja. Tulisan-tulisan ini mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah dari Mizan Award sebagai pengarang fiksi remaja terbaik pada tahun 2003. Ia juga memperoleh penghargaan dari IKAPI dua tahun berturut-turut, yaitu 2001 dan 2002.

Sampai saat ini sudah 43 buku yang ia terbitkan. Novel terakhir berjudul ‘Rumah Tanpa Jendela’ yang merupakan pengembangan dari cerpennya ‘Rumah Rara’ diangkat menjadi film pada 2011. Sebelumnya, satu novel Asma juga pernah difilmkan, yaitu ‘Emak Ingin Naik Haji’. Buku-buku Asma juga sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Salah satunya adalah buku ‘Emak Ingin Naik Haji’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa India.

Buku, bagi Asma bisa menjadi media untuk melakukan perubahan. Karena itu sampai kapan pun dia tidak akan meninggalkan profesi sebagai penulis. Apalagi dari berbagai pengalaman menunjukkan bahwa buku yang dia tulis, entah itu novel, cerpen atau motivasi, mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Joko Widodo

Mengelola Solo dengan Kesederhanaan

Mengubah mental dilayani menjadi melayani. Itulah yang dilakukan Wali Kota Solo Joko Widodo atau yang lebih dikenal dengan Jokowi dalam melakukan perubahan di Solo. Bukan pekerjaan mudah. Tapi toh bukan berarti juga tidak bisa.

Terbukti bahwa sekarang pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk, yang dulunya berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini bisa selesai dalam satu jam dengan biaya Rp 5.000. Kantor kecamatan dan kantor kelurahan pun pun tidak lagi kumuh, tetapi sudah modern, masyarakat dan pegawai tidak dibatasi, tapi sudah seperti di bank.

Pengurusan izin sudah bisa dilakukan secara one stop services, pengurusan satu atap. Semua transparan, termasuk berapa biaya yang dikeluarkan. Proses cepat serta pasti, kapan izin itu bakal keluar. Pegawai di pelayanan perizinan pun memakai seragam khusus, bahkan yang pria memakai jas dengan warna kekuningan.

Perubahan mental itulah yang dilakukan oleh Jokowi dalam mengemudikan kota Solo. Pribadi yang sederhana juga membuatnya dekat dengan rakyat. Saking sederhananya, mobil yang digunakan pun bekas pejabat sebelumnya. "Saya memang tidak punya syahwat untuk mobil," katanya.

Kesederhanaan itu pula yang diterapkan dalam kerangka berpikir dan kerja nyatanya. "Saya prinsipnya hanya bekerja untuk rakyat. Simpel saja," begitu katanya. Pendekatan yang dilakukan terhadap masyarakatnya menjadi lebih mudah dilakukan karena kesederhanaan itu.

Langkah besar yang telah dilakukan dan menjadi contoh bagi walayah lain adalah bagaimana dia memindahkan ratusan pedagang kaki lima yang sudah puluhan tahun berjualan dan tinggal di Banjarsari tanpa kekerasan. Para pedagang itu sukarela pindah ke tempat baru dengan hati gembira bahkan dilakukan dengan arak-arakan.

Jokowi yang berlatar belakang pebisnis kayu untuk produk ekspor ini juga banyak bertolak belakang dengan pemimpin daerah lain. Ketika yang lain bangga memamerkan berapa hipermarket yang sudah diresmikan, Jokowi justru menyetopnya. Dia lebih suka memberdayakan pasar tradisional karena selain memberi manfaat pada masyarakat juga menjadi memberikan pemasukan besar buat Pemkot.

Menurut Jokowi, tidak mudah mengelola Solo. Apalagi tradisi kekerasan sudah cukup mengakar di kota itu, terakhir yang sangat tragis adalah kerusuhan 1998. "Kita tahu di sini segala yang ekstrem ada, ekstrem kiri ada, ekstrim kanan banyak, lengkaplah. Tapi ternyata jika kita memberi contoh yang baik masyarakat juga akan mengikuti."

Kini Solo telah banyak berubah. Meskipun jangan dibayangkan kota ini sudah menjadi kota seperti di Eropa misalnya. Pemandangan wilayah yang kumuh dan tak tertata masih bisa ditemukan, begitu pula pedagang kaki lima. Tapi jika dibandingkan dengan sebelumnya, semuanya sudah jauh lebih baik.

Lantas apa mimpi Jokowi untuk Solo pada masa datang? "Sekarang kita sedang menjadikan Solo sebagai kota kebun, dan kelak, 15 tahun mendatang Solo akan jadi kota hutan. Solo menjadi sangat hijau sekali."

Bukan cuma itu, dia juga sudah menyiapkan transportasi massal untuk kota Solo, berupa railbus dan trem. "Kita mengantisipasi untuk 15 tahun mendatang dimana Solo sudah begitu padat penduduknya. Perumahan vertikal dan transportasi massal yang memadai," kata Joko yang dengan kesederhanaannya ingin kembali menjadi tukang kayu itu setelah selesai masa jabatannya.

Jusuf Kalla

Juru Damai Menggebrak PMI

Posisi wakil presiden sudah lebih dari setahun ditinggalkan, tapi bukan berarti kesibukannya berkurang. Bahkan belakangan ini, Jusuf Kalla, sering melakukan lawatan ke luar negeri. Bukan untuk studi banding tentu saja, melainkan untuk memberi ceramah tentang perdamaian.

Pekan kedua Maret silam, Jusuf Kalla yang akrab dipanggil JK memberikan ceramah tentang penyelesaian konflik di hadapan para negosiator perdamaian dunia. Pekan terakhir Maret ini, JK, yang menerima Doktor (honoris causa) dari UPI Bandung, akan berbicara di Dubai untuk dalam acara hampir sama, ceramah dan berbagi pengalaman tentang perdamaian di depan para mantan pemimpin dunia. JK memang pantas untuk dijadikan narasumber, karena dialah yang menjadi juru damai di konflik Maluku dan Poso, serta yang paling fenomenal, Aceh.

Dalam sebuah wawancara dengan VAO, JK ditanya soal kesediaan menjadi mediator konflik Palestina-Israel sebagaimana diminta oleh Ketua Bulan Sabit Merah Palestina, Yousin Al Khatib dan Presiden Palang Merah Israel, Noam Yefyah. Tapi JK tidak mengiyakan permintaan itu karena bagi dia tidak gampang memediatori konflik yang sudah karatan tersebut.

Apa yang dilakukan JK dalam berbagi pengalaman masalah penyelesaian perdamaian ini merupakan salah satu kegiatan sosial yang dilakukan setelah pensiun dari wakil presiden. Kegiatan tersebut juga melengkapi kegiatan sosialnya sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI). Tidak salah memang saat itu sekitar 20 ketua PMI daerah bertemu JK di rumahnya. Mereka minta agar JK bersedia mengemudikan PMI.

Ketika menjadi wakil presiden, JK selalu memiliki ide terobosan yang cemerlang. Bukan itu saja, dia juga berani merealisasikan idenya itu meskipun mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Ide mengganti minyak tanah dengan gas ukuran 3 kg buat masyarakat merupakan terobosan yang berani. JK tipikal orang yang penuh ide dan berani ambil risiko untuk perubahan.

Ide-ide dan terobosan JK juga tampak dalam mengemudikan PMI. Untuk menambah stok darah yang hampir selalu kekurangan misalnya, JK menggelar donor darah di mal-mal. JK juga aktif menyambangi perusahaan-perusahaan yang menggelar acara donor darah. Dia juga mengajak selebritis yang menjadi publik figur untuk memberikan contoh baik dengan mendonorkan darahnya. ‘’Kita juga akan bangun pabrik kantong darah,’’ kata JK.

Sejauh ini PMI hanya dikenal melalui donor darah. Persepsi itu coba didobrak JK, bagi dia PMI bukan sekadar mengurus donor darah, melainkan juga kegiatan kemanusiaan lain, termasuk penyelamatan manusia saat terjadi bencana. JK menginginkan PMI menjadi lembaga yang tercepat.

Setiap ada bencana, dalam hitungan enam jam, PMI harus sudah berada di lokasi. Karena itu sekarang PMI melengkapi diri dengan peralatan transportasi, seperti memperbanyak ambulan, perlengkapan mobil serba guna Hagglun, bahkan juga helikopter. Mobil Hagglun PMI menjadi salah satu tulang punggung para relawan ketika mencari korban letusan Merapi pada November 2010.

Demi kecepatan itu pula PMI melengkapi sarana yang memadai di beberapa wilayah yang menjadi pusat penanganan bencana, yakni di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Dengan begitu setiap ada bencana di suatu daerah, PMI yang terdekat dengan lokasi bencana itu akan segera bergerak.

JK juga banyak mengosongkan gudang PMI. Kenapa? Karena bagi dia menyimpan barang di gudang tidak efisien, bahkan barang yang disimpan kadang sudah bulukan ketika harus dibagikan ke masyarakat. JK lebih suka bekerjasama dengan hipermarket dan minimarket di daerah. Jadi pengurus PMI hanya dibekali vocer yang bisa ditukar dengan barang-barang di hipermarket tersebut. Nanti PMI pusat yang membayar.

Jiwa sosial JK memang tidak datang begitu saja. Sejak kecil dia secara tidak langsung sudah diperkenalkan oleh orang tuanya, Haji Kalla untuk peduli kepada masyarakat miskin. "Sewaktu SMP, tiap tahun saya selalu mendapat tugas mencatat, siapa yang berhak memperoleh zakat dan kemudian membaginya," kenang JK.

Dalam perjalanan hidupnya, JK telah melewati berbagai sisi kehidupan. Semula dia adalah seorang pebisnis. Dengan meneruskan usaha perdagangan yang dirintis oleh ayahnya, CV Kalla, JK berhasil menjadikan perusahaan itu bertanding di pentas nasional, yakni dengan bendera Kalla Grup dan Bukaka.

Dari situ kemudian nama JK makin menasional. Meskipun sempat ‘dipecat’ dari posisi menteri oleh Gus Dur, JK kembali dijadikan menteri oleh Megawati sebagai Menko Kesra. Dan berlanjut menjadi wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa bulan setelah jadi wapres dia diminta berkompetisi menjadi ketua umum Golkar di Bali. Dan menang.

Pada 2009, Susilo tidak mau lagi didampingi JK. Karena itu JK maju sendiri menjadi calon presiden. Nah dalam sebuah debat capres di stasiun televisi, JK sempat ditanya "apa yang Anda lakukan nanti apabila tidak terpilih sebagai presiden?" Jawab JK waktu itu adalah "Saya mau pulang kampung, mengurus masjid dan kerja di bidang sosial."

Janji untuk bekerja di bidang sosial itulah yang ditangkap oleh beberapa pengurus daerah PMI. Maka mereka ke rumah JK menangih janji JK untuk bekerja di bidang sosial, dan yang kemudian ditawarkan adalah menjadi Ketua Umum PMI. Alhasil pada 22 Desember secara aklamasi JK terpilih jadi Ketua Umum PMI.

Soelaiman Budi Sunarto

Maestro Energi Alternatif Bioetanol

Suatu saat nanti, minyak yang menjadi andalan energi saat ini akan habis. Lantas apa yang harus kita lakukan kelak? Kalau pertanyaan itu diajukan ke Soelaiman Budi Sunarto jawabnya akan mengejutkan. "Tidak usah takut, kita punya cadangan minyak yang tidak akan bakal habis!"

Rupanya, yang namanya minyak sebagai bahan bakar tidak hanya diperoleh lewat eksploitasi dari dalam bumi, tapi juga bisa dibikin. Dibikin dari apa? Dari tanaman. "Semua yang hijau bisa difermentasi menjadi bahan bakar alternatif. Negeri kita kaya," kata pria yang akrab dipanggil Budi itu.

Soelaiman Budi, sejak 1997-1998 telah bergelut dengan pemanfaatan energi alternatif. Energi yang dinamakan bioetanol tersebut dia utak-utik di wilayah pinggiran Karangayar, kira-kira 20 km dari pusat kota, tepatnya di Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan. Di situ dia melakukan eksperimen sekaligus mengaplikasikan semua temuannya.

Bioetanol merupakan etanol atau alkohol yang diproduksi melalui proses fermentasi bahan-bahan organik yang mengandung glukosa. Karena glukosa menjadi bahan dasar, pedesaan menjadi tempat yang tepat baginya untuk memulai. "Jerami, sekam, dan berbagai tumbuhan mudah saya temui di desa. Gratis pula," kata pendiri Koperasi Serba Usaha Agro Makmur ini.

Hasil dari berkutatnya Budi di energi alternatif, menghasilkan setidaknya 33 temuan yang sebagian besar terkait pengembangan energi alternatif, dan sebagian terkait agroindustri. Dari sekian banyak temuan, tak ada satu pun yang dipatenkan. Beberapa temuannya adalah bioetanol padat, kompor bahenol, budidaya jamur, bakteri pengurai, hingga temuan yang terakhir, pelet kotoran sapi.

Bioetanol padat itu cukup menarik, karena bisa dipotong sesuai dengan kebutuhan. Jika dijual pun distribusinya menjadi lebih mudah dan praktis. Dari hasil produksi mereka, satu batang bioetanol padat harganya Rp 4.000, dengan penggunaan setara dengan satu liter minyak tanah dtapi dengan nyala api yang jauh lebih bersih.

Lalu ada albakos, kependekan dari alat biogas konsumsi sampah. Alat berupa dua drum kaleng yang terhubung dengan selang dan kompor gas ini mengolah sampah kering menjadi biogas yang bisa dijadikan energi untuk menyalakan kompor. Bahkan alat tersebut bisa menyaring biogas menjadi zat metana murni. Selanjutnya zat metana bisa dipakai sebagai pembangkit generator listrik.

Memang sejak memperkenalkan bioetanol kepada masyarakat, kesibukan seakan mengalir tanpa henti. Selain belasan anak warga yang dipercayakan orang tua untuk menimba pengalaman dan keahlian agrobisnis di KSU Agro Makmur, Budi juga harus menyambangi berbagai kota dan berbagai pelosok negeri untuk memasyarakatkan temuannya bagi yang membutuhkan.

Budi yang karena keahliannya kemudian dipilih menjadi ketua Perhimpunan Masyarakat Bio Energi Jawa Tengah itu juga banyak mengajarkan masalah bioenergi dan berbagai penemuannya pada masyarakat sekitar dan juga masyarakat luar yang ingin belajar.

Di luar energi alternatif, penemuan di bidang agrobisnis adalah jamur. Budi membudidayakan jamur kuping, tiram, shitake, dan ling-zhi dengan cara yang berbeda. Jamur produksinya bisa lebih sederhana pemeliharannya tapi hasil panennya lebih besar. Karena itu pula kemudian dia diangkat menajdi ketua MAJI (Masyarakat Jamur Indonesia).

Temuan lain ada BioJoss, produk rumah tangga yang mampu membersihkan saluran kloset, wastafel, saluran cuci piring dan sebagainya dari sumbatan bahan-bahan organik. BioJoss berfungsi sebagai pengurai bahan organik yang menyumbat saluran tadi.

Pada temuan terakhirnya berupa pelet, Budi rela berkubang di kotoran sapi selama empat bulan. Hasilnya, kotoran sapi yang tadinya hanya mengotori kandang kini menjadi pakan ikan atau pelet yang bahkan membuat Menteri Kelautan dan Perikanan terkagum-kagum. "Beliau enggak mau lepas memeluk saya saking senangnya." Kenapa? Karena pelet temuannya bisa dibeli dengan harga seperempat dari pelet pabrikan yang berharga Rp sekitar Rp 12.000 per kg.

Hingga kini, Budi tidak lagi menghitung berapa banyak sudah orang-orang yang mendatangi tempatnya untuk belajar membuat bioetanol dan segala macam temuannya. Tapi yang jelas sudah ratusan orang, dan kebanyakan dari Sumatera dan Kalimantan. "Banyak juga orang Malaysia, Filipina, Vietnam dan China yang datang belajar ke tempat saya," katanya.

Di sekitar Desa Doplang sendiri, setidaknya sekitar 150 rumah warga memanfaatkan kompor bioetanol cair maupun padat untuk memasak. Sementara untuk albakos yang juga untuk memasak, Budi memperkirakan, sudah dipergunakan oleh 20 kelompok masyarakat, yang satu kelompoknya bisa terdiri dari tiga rumah. "Satu albakos bisa menghasilkan api bagi satu kelompok yang rumahnya berderetan," tutur Budi.

Melihat penemuan-penemuannya, sulit untuk percaya bahwa Budi tidak punya background pendidikan kimia atau semacamnya, tapi di bidang bahasa dan hukum. Begitu pula karier sebelumnya, dia bergelut di bidang pemasaran.

M Zainul Majdi

Menurunkan Tingkat Kemiskinan

Lahir dan besar di kalangan pesantren telah membawa M Zainul Majdi kaya akan ilmu-ilmu agama Islam. Setelah menjalani sekolah dasar umum di Mataram, NTB, selama enam tahun, dia kemudian menghabiskan masa studinya dengan mempelajari ilmu agama sejak di tingkat sekolah dasar di Lombok, sampai master di Universitas AlAzhar, Kairo, Mesir.

Berbekal dengan ilmu agama yang dikantonginya, pada 1997 dia memutuskan menjadi mubaligh, berdakwah dari kampung ke kampung usai menyelesaikan studi S-1 di Al Azhar. Tak heran bila kemudian gelar tuan guru melekat pada dirinya. Tuan guru adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat Lombok kepada seseorang yang memiliki ilmu agama tinggi yakni ulama. Oleh karena usianya masih muda, tambahan kata bajang (dari bahasa Sasak) pun melekat dengan dirinya sehingga menjadi tuan guru bajang.

Dunia dakwah bukan hal yang asing bagi Zainul. Kakeknya, Tuan Guru Haji Zainuddin Abdul Madjid, adalah ulama besar dan pendiri Nahdlatul Wathan yang merupakan organisasi sosial keagamaan dan pendidikan berpengaruh luas di Pulau Lombok dan Sumbawa. Sebagai tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat, kakeknya menjadi anggota Konstituante mewakili NTB dari unsur Masyumi.

Adalah Yusril Ihza Mahendra, pendiri dan mantan ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), yang mengajaknya untuk juga berkiprah di politik. Ajakan inilah yang mengantarnya ke kursi DPR RI periode 2004-2009. PBB adalah partai yang berdiri di era Reformasi dan mengklaim sebagai partainya warga Masyumi.

Kursi Dewan hanya didudukinya selama empat tahun. Sebelum habis masa keanggotaannya di parlemen, Zainul mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung gubernur NTB pada Juli 2008. Ia berpasangan dengan Badrul Munir, mantan birokrat di NTB. Keduanya diusung oleh PBB dan PKS. Mereka akhirnya mendapat dukungan suara rakyat terbanyak. Rabu, 17 September 2008, menjadi lembaran baru dalam hidup Zainul yang resmi dilantik menjadi Gubernur NTB periode 2008-2013.

Meski telah menjadi gubernur, kegiatan dakwah tetap dijalankannya. Hari libur di akhir pekan hampir selalu diisi oleh Zainul untuk berceramah di pengajian-pengajian.Tentu saja sedikit sekali waktu yang tersisa buat keluarga. Namun, Zainul juga tak mau anak-anaknya kehilangan masa-masa bahagia bersama ayahnya. Setiap ada kesempatan di rumah, dia selalu mengajak shalat berjamaah. “Saya juga meminta anak-anak menceritakan apa-apa saja kejadian yang mereka alami di sekolah. Juga mengulang bacaan-bacaan Alquran,” ujarnya.

Untuk mendekatkan diri dengan keluarga, istri dan keempat anaknya, Zainul punya kebiasaan khusus yakni tidur bersama. "Kita tidur satu kamar bareng-bareng. Kita pasang kasur di bawah dan tidur ramai-ramai hehehe...," ucap penggemar olahraga pingpong dan futsal ini.

Perjalanan karier Zainul, mulai dari menjadi tuan guru hingga menjadi gubernur diakuinya banyak terinspirasi dari sosok kakeknya yang merupakan tokoh masyarakat NTB.“Dan tentu saja peran ayah dan ibu saya (HM Djalaluddin SH dan Hj Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid) secara langsung sangat besar.

Dalam dua setengah tahun kepemimpinannya di NTB, angka kemiskinan telah berkurang 2,36 persen atau rata-rata 1,2 persen setahun. Sebagai perbandingan, penurunan angka kemiskinan nasional masih di bawah satu persen setahun. "Untuk bisa turun hingga dua persen setahun memang masih berat, tapi kita mengarah ke sana," kata lulusan S1 hingga S3 Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini.

Selain penurunan angka kemiskinan, dalam pemerintahannya yang baru setengah periode, Zainul juga berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi NTB yang di atas rata-rata nasional per tahunnya yakni 11,3 persen (nasional: 6 persen). Tingkat pengangguran juga bisa ditekan di bawah rata-rata nasional yakni 5,6 persen (nasional 6,7 persen).

Atas pencapaian-pencapaian itu, beberapa penghargaan diterimanya. "Penghargaan itu diberikan kepada saya sebagai //ex officio// gubernur. Bukan karena kapasitas pribadi, tapi masyarakat NTB secara kolektif," ujarnya

Ustad Fadzlan Garamatan

Mengubah Masyarakat Pedalaman Papua

Papua, dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar di Indonesia. Tak hanya emas, sumber daya alam lainnya pun melimpah. Bumi cenderawasih begitu kaya. Tapi ternyata, kekayaan itu tidak mengangkat derajat hidup masyarakat di sana. Mayoritas masyarakat masih hidup miskin, bahkan sebagaian besar penduduk asli masih tinggal di pedalaman.

Julukan sebagai salah satu provinsi yang tertinggal lantas kerap disematkan pada wilayah paling timur di Indonesia ini. Jika ada orang Papua yang punya keistimewaan, mereka kerap dijuluki sebagai mutiara hitam. Dan salah satu yang layak memperoleh ‘gelar’ itu adalah Muhammad Zaaf Fadhlan Rabbani Al-Garamatan.

Pria kelahiran Patipi, Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu, adalah putra dari pasangan Machmud Ibnu Abu Bakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan dan Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram. Sejak tahun 1985, ia memulai dakwahnya di bumi Papua. Fadhlan, lebih senang menyebut Papua dengan Nuu Waar.

Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. “Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujar Ustaz Fadhlan kepada Republika, Februari lalu.

Fadhlan menegaskan, berdasarkan catatan sejarah, Islam adalah agama yang lebih dulu masuk ke Nuu Waar, terutama di Fak-Fak, dibandingkan dengan Kristen. Namun, karena misionaris lebih gencar menyebarkan paham agamanya, maka jadilah agama ini tampak dominan. “Padahal, saat ini jumlah umat Islam bisa lebih banyak dari orang Kristen di sana,” ujarnya.

Karena itulah, ustad yang selalu memakai gamis itu terpanggil untuk mengembalikan kejayaan Islam ke bumi Nuu Waar. Di Fak-Fak khususnya, terdapat kerajaan Islam pertama di Papua, dan Fadhlan adalah salah seorang generasi kesekian dari kerajaan Islam itu. Nenek moyangnya dulu adalah penguasa kerajaan Islam disana.

Sebagai penanggung jawab meneruskan kerajaan Islam, Fadhlan berkewajiban untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam di Nuu Waar. Ia masuk keluar masuk pedalaman, turun dan naik gunung menyebarkan Islam. Bahkan harus berjalan kaki untuk mengenalkan dakwah Islam kepada penduduk setempat. “Alhamdulillah, sudah banyak yang mengenal Islam.”

Lalu mengapa dirinya tetap mau berdakwah ditengah sulitnya kondisi alam dan luasnya wilayah dakwah? Bagi Fadhlan, disitulah tantangannya. “Kami berkewajiban untuk menyampaikan risalah Islam. Jika di akhirat kelak malaikat bertanya; “Mengapa ada saudaramu di pedalaman yang belum memeluk Islam?” Itu berarti tanggung jawab kita semua, umat Muslim di Indonesia, yang belum mampu mendakwahkan ajaran Islam dengan baik,” terangnya.

Dalam mengenalkan Islam kepada penduduk setempat tidaklah mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Mulai dari soal luas wilayah, kondisi alam yang sulit karena terjal, bebatuan, ada pegunungan, dan lainnya. Namun, semua itu tidak membuat Fadhlan dan rekan-rekannya berhenti dalam berdakwah.

“Dulu, sebelum ada kapal Al Fatih Kafilah Nusantara (AFKN) 1 dan 2, untuk mencapai tempat yang dituju, kami harus berjalan kaki, dan itu bisa membutuhkan waktu hingga tiga bulan. Terkadang ada binatang buas juga. Tapi itu semua adalah tantangan untuk diltaklukkan,” ujarnya.

Rintangan bukan hanya soal kondisi alam saja, tetapi respon penduduk setempat. “Terkadang ada juga yang melemparkan tombak bahkan panah. Ya, itu sudah biasa kami alami. Itu belum seberapa dibandingkan perjuangan Rasulullah. Beliau bahkan diusir dari negerinya (Makkah), karena ketidaksukaan penduduknya menerima dakwah Rasul. Namun beliau tetap sabar. Karena itu pula, kami pun harus sabar,” terangnya.

Begitu beratnya tantangan dakwah, tak sedikit beberapa anggota dai yang dibawa Fadhlan memilih kembali pulang. Mereka ngeri mendengar berbagai ancaman yang ada. “Saya katakan, apakah mereka siap mati syahid? Dari 20 orang yang bertahan hanya tujuh orang.”

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, serta tawakal kepada Allah, berbagai usaha dan upayanya, kini membuahkan hasil. Sudah banyak penduduk Papua yang menjadi Muslim. Ia menyebutkan sekitar 221 suku yang sudah memeluk Islam. Jumlah warga tiap suku bervariasi, mulai dari ratusan sampai ribuan. Jika dipukul rata tiap suku seribu orang, maka kerja keras Ustad Fadlan sudah mengislamkan 220 ribu orang Papua pedalaman.

Ini belum termasuk jumlah tempat ibadah yang dibangun. Mungkin ratusan jumlahnya. Itulah mutiara, semakin diasah, maka akan makin mengkilap dan bercahaya terang, seterang cahaya matahari. Kendati berwarna hitam, namun mutiara tetaplah mutiara, dia akan selalu dicari. Dan mutiara hitam itu bernama Fadhlan.

Zulkifli Hasan

Stop Menebang, Saatnya Menanam

"Bapak saya itu menginginkan saya menjadi seorang ulama seperti Buya Hamka, tapi ternyata garis tangan saya menjadi menteri," kata Zulkifli Hasan sambil tersenyum.

Betul. Ketika Zulkifli masih kecil, bapaknya menginginkan dia menjadi tokoh agama, menjadi ulama besar seperti Buya Hamka yang bapaknya kagumi. Karena itu ketika lulus SMP, Zulkifli disuruh meneruskan ke PGA (Pendidikan Guru Agama). Zul sendiri tidak mau, dia ingin meneruskan ke sekolah umum.

Zul sempat sekolah di PGA. Tapi dia juga mendaftar di SMA tanpa sepengetahuan ayahnya. Lama-lama akhirnya ayahnya tahu. Zul pun kemudian nekad ke Jakarta untuk sekolah SMA. Karena kengototannya, ayahnya pun mengalah, tapi ada perjanjian: Jika juara di kelas, Zul boleh meneruskan SMA, tapi jika tidak harus kembali ke PGA. "Ternyata saya bukan hanya juara kelas, tapi juara umum," cerita Zulkifli.

Meski garis tangannya mengantarkan dia menjadi menteri, Zulkifli tidak pernah menyangka dirinya akan menjabat sebagai menteri kehutanan. Dia mengaku memiliki latar belakang manajemen, bukan kehutanan. Jadi dia merasa tidak paham soal-soal hutan. Karena itu pula dia sejak awal tidak pernah terpikir dan bercita-cita menjadi menteri kehutanan.

Bahkan dulu, ketika menjadi anggota DPR, dia selalu punya kesan negatif terhadap masalah kehutanan. Kalau berbicara tentang hutan, bagi Zulkifli, hampir selalu terkait dengan penebangan pohon dan penggundulan hutan. Tentu munculnya kesan itu, bukan tanpa alasan, tapi karena memang punya pengalaman buruk ketika dulu sewaktu kecil tinggal di Lampung

Zulkifli menceritakan, dahulu hutan-hutan di dekat rumahnya itu masih sangat rimbun karena dikelilingi pepohonan yang besar-besar. Hewannya pun beranekaragam dari harimau, rusa, trenggiling, ular dan berbagai jenis binatang lainnya. "Jadi kalau depan rumah kita itu muncul rusa- itu biasa. Masih bagus sekali keadaannya,"tuturnya.

Kemudian suatu saat, datang orang dari entah dari mana dan langsung menebang pohon. Mereka bilang tak masalah, karena telah mempunyai selembar kertas izin dari kehutanan. Hebat amat. Sementara jika orang setempat yang mengambil pohon itu bisa masuk penjara. "Padahal nenek moyang kita yang punya tanah itu turun menurun. Itulah kenapa saya punya kesan yang kurang bagus,’’ ujar bapak empat orang anak itu.

Sekalipun peristiwa itu sudah bertahun-tahun lewat, tapi tetap tidak terhapus dari ingatan. Tiba-tiba, justru dia dipilih sebagai orang nomor satu untuk mengurus hutan. "Waktu itu saya coba berpikir. Ya Allah saya jadi Menteri Kehutanan kira-kira mau ngapain. Saya lalu berdoa 'KepadaMu lah kami meminta petunjuk dan pertolongan' kan begitu saja,’’ kata Zulkifli.

Petunjuk itu pun akhirnya datang. Ceritanya Zulkifli ini setiap tahun selalu rutin beribadah ke tanah suci, kalau tidak haji ya umroh. Kemudian dia ingat, ketika wukuf, di situ kita dilarang untuk menebang pohon. ‘’Nah itu saja saya pakai. Karena ada pengalaman menebang pohon itu kan merusak,"tuturnya.

Kebijakan tidak menebang pohon dari hutan alam itulah yang kemudian keluarkan. Sejak itu Kementerian Kehutanan tidak tidak lagi menerbitkan perizinan untuk menebang pohon. Jadi kalau menteri sebelumnya mengatur dan memberikan izin penebangan, Zulkifli justru mengeluarkan kebijakan penanaman pohon.

Perubahan kebijakan tersebut tentu mendapat reaksi keras dari yang selama ini nyaman dengan kebijakan sebelumnya. Tentangan internal dan eksternal begitu kuat dalam bulan-bulan pertama. Dia pun terpaksa harus mereposisi beberapa pos penting. "Dirjen yang sebelumnya menerbitkan izin untuk menebang pohon, saya pindahkan ke bagian tanam menanam."

Dari luar, bukan cuma mendapat tentangan yang dihadapi, tapi juga godaan. Tidak sedikit pengusaha yang mencoba mendekatinya dengan iming-iming yang menggiurkan. Namun dia pun tetap tidak bergeming untuk menjalankan kebijakannya itu. Pendiriannya tetap: stop penebangan pohon. Saatnya menanam pohon.

Bagaimana dengan industri kayu? ‘’Mereka harus mengambil kayu dari pohon yang ditanam,’’ kata Zulkifli. Bahwa berat itu diakui dia. Tapi toh selama ini industri kayu sudah mendapat perlakuan yang istimewa dalam penebangan pohon, jadi kini saatnya untuk menebang dari pohon yang mereka tanam sendiri.

Ini yang diistilahkan dengan moratorium.Terkait itu pula Zulkifli menandatangani kerjasama dengan Norwegia dengan nilai 1 miliar dolar dalam konteks pengurangan emisi. Isi perjanjian di antaranya, penghentian izin penebangan baru, tidak ada lagi konversi lahan gambut.

Bersamaan dengan itu Zulkifli juga punya target Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa seluas 600 ribu hektar pada 2011 ini. "Makanya kita menyediakan sentra-sentra bibit di mana masyarakat bisa memperoleh bibit itu dengan gratis. Bisa bibit sengon atau jabon, itu pohon yang cepat tumbuh," kata Zulkifli.

Gerakan penghijauan yang telah dilakukan sudah cukup menggembirakan. Tercatat sampai akhir tahun 2010, sudah 1,39 miliar batang pohon yang ditanam. Pohon tersebut ditanam ada yang dikawasan hutan milik rehabilitasi kebun, di lokasi reklamasi tambang, dan di tempat lain, termasuk di kebun-kebun masyarakat.

© 2011 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.