Rabu , 09 Oktober 2013, 17:40 WIB

Penemu 'Partikel Tuhan' Raih Nobel Fisika 2013

Rep: Fenny Melisa/ Red: Karta Raharja Ucu
maulicohen.com
Partikel Tuhan (Ilustrasi)
Partikel Tuhan (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- 'Partikel Tuhan' yang ditemukan setahun lalu menghantarkan dua penemunya, Peter Higgs (84 tahun) dan Francois Engtlert (80 tahun) meraih Nobel Fisika 2013 dan berhak atas hadiah sebesar 1,25 juta AS. Pengumuman keduanya meraih nobel diumumkan di Stockholm Selasa (8/10).

Higgs dann Engtlert mencetus hipotesis tentang partikel 'Higgs Boson' yang merupakan perantara yang paling memungkinkan terbentuknya bintang, planet, juga kehidupan. Partikel Higgs adalah bagian terakhir dari Model Fisika Standard yang menggambarkan susunan fundamental alam semesta. Beberapa kalangan menyebutnya sebagai 'Partikel Tuhan', karena perannya dalam mengubah Dentuman Besar (bigbang) menjadi  alam semesta (kosmos) yang tertata.

Karya Higgs dan Englert memperlihatkan bagaimana partikel-partikel dasar di dalam atom memperoleh massa lewat interaksi dengan satu medan siluman yang mencakupi seluruh semesta. Semakin kerap berinteraksi, maka semakin berat partikel-partikel itu. Partikel yang berhubungan dengan medan itu adalah boson Higgs atau Partikel Higgs.

Atas penemuan mereka, institusi ilmiah CERN coba membuktikan hipotesis itu. Hasil eksperimen yang dilakukan tim ilmuwan LHC dan ATLAS dari CERN berhasil mengkonfirmasi keberadaan dari 'Higgs Boson'. Atas pembuktian teori ini, banyak ilmuwan yang kemudian mengusulkan Peter Higgs layak menerima nobel. Salah satu ilmuwan itu adalah Stephen Hawking, ilmuwan fisika terkenal.

Peter Higgs adalah ahli fisika asal Inggris dan professor di Universitas Edinburgh. Higgs mulai terkenal setelah penemuannya tentang teori Higgs boson atau populer dengan sebutan 'Partikel Tuhan' yang menjadi kunci untuk  menjelaskan keberadaan massa, keragaman, dan asal-usul kehidupan di alam semesta, diungkap ke publik.

Nama populer partikel ini muncul dari perjuangan dan debat panjang keberadaan partikel subatomik. Banyak ilmuwan meragukan keberadaan partikel ini. Munculnya nama 'Partikel Tuhan' berawal dari pernyataan fisikawan Leon Lederman dalam buku berjudul God Particle: If Universe is the Answer, what is the question?.

Awalnya fisikawan Amerika itu menyebutnya goddamn particle. Tapi editor buku Lederman menolaknya, jadilah god particle. Padahal, Higgs yang ateis alias tak percaya keberadaan Tuhan menolak penamaan itu.

Sedangkan Francois Englert adalah fisikawan dari Belgia. Profesor emeritus di Université Libre de Bruxelles ini juga berperan besar dalam penemuan teori mekanisme Higgs.  Nama Higgs dan Englert dipilih secara mayoritas oleh Komite Hadiah Nobel yang bermarkas di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia.

Dalam pengumumannya, Komite Hadiah Nobel mengatakan kedua ilmuwan ini berperan besar dalam penemuan teori mekanisme yang berkontribusi atas pemahaman mengenai asal usul massa partikel subatom, yang belum lama ini dikonfirmasi lewat penemuan partikel fundamental itu di Large Hadron Collider di Fasilitas Penelitian Nuklir Eropa (CERN).

Direktur Jenderal CERN Rolf Heuer mengatakan, penemuan 'Partikel Tuhan' di laboratorium CERN pada tahun lalu, menandai puncak dekade dari upaya intelektual. Heuer menyatakan kegembiraannya dengan diberikannya Nobel Fisika kepada Higgs dan Engtlert. "Saya sangat senang Hadiah Nobel Fisika tahun ini diberikan kepada partikel Higgs Boson," kata Heuer seperti yang dilansir Reuters, Selasa (8/10).

Hadiah Nobel yang didirikan industri Swedia dan Alfred Nobel ini akan diserahkan kepada Francois Englert dan Peter Higgs pada 10 Desember nanti.

Englert mengaku tak menyangka mendapatkan penghargaan tersebut. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Pun dengan Profesor Higgs yang merasa terhormat menerima penghargaan ini. "Terimakasih pada Royal Swedish Academy," katanya.

Higgs juga mengucapkan selamat pada mereka yang punya kontribusi penemuan partikel baru yang diyakini sebagai Higgs boson. Dia berharap pengakuan atas ilmu dasar itu akan meningkatkan kesadaran terhadap penelitian.

Higgs dann Engtlert melengkapi daftar penerima hadiah Nobel Fisika 2013. Beberapa pemenang Nobel Fisika pada masa lalu di antaranya adalah Wilhelm Conrad Roentgen pemenang pertama Nobel Fisika pada 1901 atas jasanya menemukan sinar X-Ray, Guglielmo Marconi pada 1909 atas kontribusinya pada komunikasi radio, Max Planck 1918 karena menemukan teori kuantum, Albert Einstein 1921 karena menemukan teori relativitas, dan Enrico Fermi 1938 yang menemukan aktivitas radio terinduksi. Penerima Nobel Fisika tertua hingga kini adalah Raymond Davis Jr, yang berusia 88 tahun saat dia memenangi hadiah tersebut pada 2002.