Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Pencairan Es di Arktik Kian Mengkhawatirkan

Selasa, 13 November 2012, 05:16 WIB
Komentar : 0
jpl.nasa.gov
Luas es di Arktik semakin berkurang dan menyusut tiap tahunnya.

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON - Satelit militer Amerika Serikat (AS) memperlihatkan kompleksitas perubahan iklim yang berdampak pada perubahan pola angin di wilayah kutub. Ini kemudian menyebabkan meluasnya pencairan es di sekitar Laut Antartika.

"Arktik kehilangan es lima kali lebih cepat dari Antartika. Oleh karenanya, Bumi rata-rata kehilangan es laut lebih cepat," kata staf British Antartic Survey, Paul Holland, dikutip dari the Guardian, Selasa (13/11). Kesimpulannya itu berdasarkan pada apa yang terlihat dimodel komputer.

Luasnya lautan es sangat penting diperhatikan dalam indikator pemanasan global. Hal ini berkaitan dengan kenaikan temperatur Bumi. Angin panas yang bertiup dari belahan bumi tropis menuju Antartika semakin kuat. Makanya, es laut menjadi hilang lebih cepat.

Holland mencontohkan di beberapa wilayah, seperti Laut Bellingshausen, pencairan es bahkan terjadi lebih cepat dibandingkan pencairan es di Kutub Utara. Sebanyak 17 ribu kilometer persegi es beku telah mencair menjadi lautan dalam setahun terakhir.

Antartika adalah benua yang dikelilingi oleh lautan. Sedangkan Arktik adalah laut yang dikelilingi oleh benua. Untuk beberapa alasan, jika angin panas tropis mendorong pencairan es lebih cepat akan berdampak pada tenggelamnya daratan sekitarnya yang membahayakan jiwa umat manusia.

Reporter : mutha ramadhani
Redaktur : Taufik Rachman
3.305 reads
Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda