Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Sunday, 9 Jumadil Akhir 1439 / 25 February 2018

Mendiagnosis Parkinson Lewat Level Kafein dalam Darah

Senin 08 January 2018 06:11 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Winda Destiana Putri

Parkinson

Parkinson

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Gangguan pada saraf berupa parkinson merupakan gangguan yang sulit untuk dideteksi, terutama pada fase-fase awal. Namun, penelitian terbaru menunjukan, gangguan ini ternyata dapat didiagnosis lewat mengetahui kadar kafein dalam darah.

Berdasarkan penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah, American Academy of Neurology, orang yang menderita parkinson diketahui memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding orang normal. Meskipun, penderita Parkinson tersebut mengkonsumsi makanan atau minuman yang menjadi sumber utama kafein, misalnya kopi, yang sama dengan orang normal.

Menurut Ketua tim peneliti, Shinji Shaki, penelitian ini berawal dari studi yang dilakukan terkait hubungan kafein dengan upaya menurunkan resiko Parkinson. ''Tapi, kami belum banyak mengetahui bagaimana penyerapan kafein di dalam tubuh orang yang telah menderita Parkinson,'' kata Shinji, yang merupakan ahli neurologi dari University School of Medicine, Tokyo, Japan, seperti dikutip Science Daily, Ahad (7/1).

Penelitian ini menyebutkan, kadar kafein dalam darah orang yang terkena Parkinson stadium lanjut memang cukup rendah. Namun, penurunan kadar kafein dalam darah tersebut ditemukan pada saat orang tersebut mengalami Parkinson pada tahap-tahap awal. Menurut ahli neurologi dari Universitas Toronto, Kanda, David G Munoz, hasil dari penelitian ini bisa membantu tim medis untuk bisa mendeteksi gejala Parkinson tahap awal.

''Hasil penelitian ini dapat menjadi cara atau tes yang muda untuk mendiagnosis Parkinson tahap awal, atau bahkan sebelum gejala-gejala umum Parkinson muncul. Penelitian ini jadi penting lantaran gangguan Parkinson merupakan gangguan yang sangat sulit untuk dideteksi,'' tutur David.

Di dalam studi ini, tim peneliti melakukan tes terhadap 108 orang yang telah menderita Parkinson selama lebih dari enam tahun. Selain itu, tim peneliti juga melakukan tes terhadap 31 orang yang tidak mengalami Parkinson, dengan rentang usia yang sama dengan grup pertama. Tim peneliti melakukan studi dan mengukur kadar kafein dalam darah di dua kelompok tersebut. Tidak hanya itu, tim peneliti juga meneliti kemunkinan mutasi di dalam gen yang dapat mempengaruhi penyerapan kafein oleh tubuh.

Kedua kelompok tersebut juga mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang sama, dua cangkir kopi setiap hari. Hasilnya, kelompok pertama, orang dengan gangguan Parkinson, memiliki kadar fadein yang lebih rendang, 24 picomoles per 10 microliters. Sementara untuk orang yang tidak memiliki gangguang Parkinson, kadar levelnya mencapai 79 picomoles per 10 microliters.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA