Monday, 13 Ramadhan 1439 / 28 May 2018

Monday, 13 Ramadhan 1439 / 28 May 2018

Bunga Sakura Bisa Deteksi Perubahan Iklim

Kamis 23 March 2017 13:35 WIB

Red: Esthi Maharani

Pengunjung berswafoto dengan latar bunga sakura yang mekar di Rikugien Garden Tokyo, (27/3). Pengelola taman menyebut sudah 30 ribu orang datang untuk melihat bunga sakura.

Pengunjung berswafoto dengan latar bunga sakura yang mekar di Rikugien Garden Tokyo, (27/3). Pengelola taman menyebut sudah 30 ribu orang datang untuk melihat bunga sakura.

Foto: EPA

REPUBLIKA.CO.ID, Bunga-bunga sakura yang bermekaran dan berguguran adalah pemandangan indah yang tak terlupakan. Namun, lebih dari itu, sakura yang ditetapkan sebagai bunga nasional Jepang itu ternyata juga bisa mendeteksi perubahan iklim.

Ahli bunga sakura Bruce L Batten mengatakan, sakura memiliki fungsi sebagai simbol dan tanda perubahan iklim. Hal itu didukung data dari para pengamat dalam budaya Jepang yang telah mencatat tanggal tahunan waktu puncak mekar sakura selama berabad-abad.

Jika bunga sakura mekar lebih awal, kata Batten, itu berarti iklim di Jepang akan lebih hangat dari biasanya. Sebaliknya, ketika mereka mekar lebih lambat dari biasanya, itu berarti iklim dalam setahun bakal lebih dingin.

Menurut Batten, tanda gejala iklim dari sakura itu pada dasarnya mengonfirmasi sumber ilmiah lain seperti lingkaran pohon dan sampel serbuk sari. Yang mengkhawatirkan, ujarnya, mekarnya sakura dalam beberapa dekade terakhir selalu tiba lebih awal.

"Selama 30 tahun karier saya di Jepang, sakura dan bunga lain pada umumnya bermekaran lebih awal dari periodenya di masa lalu. Ini adalah bukti jelas bahwa iklim menjadi semakin panas," tuturnya.

Bunga simbol perdamaian yang dalam bahasa Inggris disebut cherry blossoms itu juga menunjukkan tanda serupa di negara lain. Hal tersebut disampaikan Mike Litterst, juru bicara US National Park Service, yang mengamati pohon-pohon sakura di Washington, Amerika Serikat.

"Jadwal mekar dari pohon sakura, seperti kebanyakan tanaman, adalah fenologi, yang berarti bahwa waktu mekar mereka tergantung pada kondisi lingkungan mereka," ujar Litterst, dilansir dari laman Time.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA