Friday, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 February 2018

Friday, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 February 2018

Cuaca Ekstrem akan Sering Terjadi Seiring Perubahan Iklim

Senin 20 February 2017 17:26 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Winda Destiana Putri

Cuaca ekstrem.   (ilustrasi)

Cuaca ekstrem. (ilustrasi)

Foto: Republika/Adhi Wicaksono

REPUBLIKA.CO.ID, ATLANTA -- Seiring perubahan iklim yang berlangsung, cuaca ekstrem akan makin sering terjadi dan mengancam kesehatan manusia. Dokter dan pendiri DisasterDoc LLC Dr Mark Keim mengatakan, bencana alam terus meningkat jumlahnya di dunia.

Bencana ini pun tak hanya yang berkaitan dengan cuaca dan air, tapi juga geologi dan biologi. Dari data 50 tahun terakhir menunjukkan 41 persen bencana alam global berkaitan dengan cuaca ekstrem. ''Para pakar perubahan iklim memprediksi cuaca ekstrim akan meningkat baik frekuensi maupun keparahannya. Ini akan berdampak serius pada kesehatan masyarakat,'' kata Keim seperti dikutip Live Science.

Cuaca ekstrim terbagi dalam tiga kelompok yakni bencana presipitasi tinggi seperti topan dan tornado, bencana presipitasi rendah seperti kekeringan dan kebakaran lahan, serta bencana kenaikan permukaan laut. Presipitasi tinggi dan rendah belakangan memengaruhi Amerika Serikat.

Di AS, korban yang jatuh pada fase pembersihan di satu jam pertama menjelang badai justru lebih besar dibanding saat badai sedang berlangsung. Karena saat itu korban muncul akibat berbagai kecelakaan. Satu jam awal inilah yang jadi momen awal untuk menekan jumlah korban. ''Dalam 30 tahun terakhir jumlah korban akibar tornado berkurang 10 kali lipan karena komunitasi dan edukasi. Kuncinya adalah pencegahan,'' kata Keim.

Pakar ilmu kesehatan lingkungan Columbia University Mailman School of Public Health, New York City, Kim Knowlton, menyatakan presipitasi rendah jelas mengancam kesehatan. ''Gelombang panas yang berlangsung beberapa hari merupakan faktor fatal utama bagi cuaca di AS dalam 30 tahun terakhir di AS,'' ungkap Knowlton.

Secara alami, jantung dan paru-paru membantu manusia menghadapi panas. Namun, saat udara meningkat, jantung berdebar kencang dan berkeringat untuk menyeimbangkan kondisi. Ketika panas ekstrem, mekanisme ini jadi tak bisa mengimbangi dan suhu tubuh meningkat pula. ''Hal tersebut memicu gangguan ringan hingga berat seperti heat stroke,'' Knowlton.

Panas ekstrem tak hanya mematikan secara langsung tapi juga tak langsung melalui gangguan terkait panas. Banyak kelompok yang rentan dengan peningkatan panas ini seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, tunawisma, pekerja luar ruangan, dan penderita penyakit tertentu. ''Ini berarti mereka yang tengah berjuang untuk sehat makin diuji dengan perubahan iklim,'' kata Knowlton.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA