Tuesday, 6 Jumadil Awwal 1439 / 23 January 2018

Tuesday, 6 Jumadil Awwal 1439 / 23 January 2018

Mengkaji Penguatan Pendidikan Karakter di Pesantren

Kamis 28 December 2017 09:19 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pesantren Matematika.

Pesantren Matematika.

Foto: klinik pendidikan mipa

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kehadiran Pondok Pesantren merupakan suatu magnet tersendiri dalam menciptakan generasi insan muslim yang berkualitas. Selain sebagai wadah menempa ilmu agama dan ilmu umum, lembaga pendidikan ini memiliki peranan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Para lulusannya diharapkan memiliki kesalehan yang  kokoh, jiwa kemandirian, dan berkepribadian mulia.

Pemerhati pendidikan karakter, Dwi Samto mengutip sebuah pesan tersirat apa yang disampaikan pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Ustaz Salim Rasmid.  “Pesantren bukanlah sebuah hotel yang seluruh santrinya harus dilayani. Kita ketahui, dalam kesehariannya, pondok pesantren telah menanamkan panca jiwa sebagai program penguatan karakter para santrinya, seperti: keikhlasan, kesederhanaan, jiwa yang mandiri, ukhuwah Islamiah, dan kebebasan berkreativitas (dalam bingkai ke-Islam-an),” ujarnya disela-sela kegiatan pesantren matematika di Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor, Selasa (26/12).

Pria kelahiran 38 tahun silam ini menunjukkan kekagumannya terhadap cerminan perilaku para santrinya. Pertama, keikhlasan dalam menuntut ilmu. Hal ini diwujudkan saat menerima nasehat dan bimbingan dari guru. Kedua, kesederhanaan dalam bersikap. Dalam proses pembelajaran, para santri tidak diperkenankan menonjolkan sisi latar belakang keluarga, semua dipandang sama dan mengajarkan rendah hati dalam bersikap.

Ketiga, ukhuwah Islamiah. Seperti yang diketahui, warga santri di pesantren datang dari berbagai latar belakang dan golongan. Di sinilah keunikannya, semua bersatu dan berjamaah dalam bingkai akidah untuk menjunjung perbedaan.

Keempat, memiliki jiwa kemandirian. Para santri dididik untuk memiliki jiwa kemandirian, yakni mampu melayani diri sendiri dan mampu menyelesaikan permasalahan hidup, dengan tidak bergantung pada peran orang tua secara langsung. Kelima, di pesantren para santri diberikan kebebasan berkreasi, melalui kegiatan ekstrakurikuler guna melahirkan kreativitas sesuai norma-norma keislaman

“Dalam hidup, jika ingin meraih kesuksesan harus memiliki pedoman 3 M, yakni, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang," ujar dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA