Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Proyektor BenQ Tanamkan Teknologi DLP UHD

Jumat 20 Januari 2017 18:07 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Winda Destiana Putri

Peluncuran BenQ Projector di Jakarta.

Peluncuran BenQ Projector di Jakarta.

Foto: Republika/Nora Azizah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Awal tahun menjadi waktu yang tepat bagi BenQ memboyong proyektor terbaru ke Indonesia. BenQ merilis tiga proyektor, yakni seri W11000 dan X12000 berteknologi 4K UHD, serta W8000 Full HD.

"Kami mengandalkan pengalaman dalam berinovasi untuk menciptakan produk," kata Country General Manager BenQ Indonesia Eko Handoko Wijaya dalam acara peluncuran BenQ Projector di Jakarta. Seri W8000 memang belum mendukung gambar 4K tetapi tipe tersebut lebih unggul dari sebelumnya.

Pengguna bisa mengganti lensa sesuai dengan besar ruangan. Kekuatan mencapai 2000 Ansi Lumens membuat lampu proyektor bisa bertahan lebih dari 6 ribu jam bila digunakan dengan mode SmartEco. Dua tipe proyektor lainnya sudah berkemampuan 4K UHD dengan menghasilkan 8,3 juta piksel warna.

Proyektor mampu memperlihatkan detail gambar. Kekuatan lensa mencapai 2.200 Anti Lumens dengan umur lampu 6 ribu jam. Ketiga proyektor tersebut sudah mendapatkan sertifikat dari perusahaan THX Amerika. Sertifikat tersebut menandakan bahwa BenQ Projector sudah sesuai dengan standar warna sinematik internasional Rec 709, terutama pada proyektor 4K.

Selain mengarah ke era 4K, digital light processing (DLP) juga akan menjadi tren untuk proyektor rumah dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan beberapa bioskop juga menggunakan teknologi tersebut. DLP merupakan basis dari micro-electro-mechanical pada teknologi optik. DLP menggunakan perangkat digital micromirro. DLP pertama kali ditemukan pada 1987 silam oleh Lorry Hornbeck dari perusahaan Texas Instrument.

Teknologi DLP diterapkan pada proyektor sejak 1997 oleh perusahaan Digital Projection Ltd. Penerapannya biasanya dipasang di depan proyektor. Awalnya industri bioskop mulai mengadopsi teknologi tersebut. Sekitar 85 persen bioskop di dunia menerapkannya. Namun perlahan DLP mulai dikembangkan pada beberapa alat. Tidak hanya proyektor saja, tapi juga printer tiga dimensi (3D). Bahkan bentuk sederhana DLP juga ditanamkan pada ponsel pintar.

Proyektor rumah memang menjadi alternatif pilihan untuk bisa menonton film di rumah dengan versi layar lebar. Proyektor menjadi pilihan karena harga lebih murah apabila dibandingkan dengan membeli home theater. Laman Digitaltrends juga menyimpulkan demikian. Apabila proyektor dan televisi diadu, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Proyektor unggul dari segi harga dengan lebar layar yang didapat. Misalnya, alat sekecil proyektor bisa memantulkan gambar selebar dinding ruang tamu atau kamar. Namun harga yang diberikan cukup terjangkau. Berbeda dengan televisi yang hanya memberikan keluasan pandangan puluhan inch tetapi harganya cukup mahal. Dari segi kualitas gambar, televisi memang tetap juara.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA