Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Telkomsel-Huawei Luncurkan Solusi CloudAIR 2.0 di Spanyol

Senin 05 Maret 2018 12:33 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Gita Amanda

Telkomsel bekerja sama dengan Huawei meluncurkan CloudAIR 2.0. Ini merupakan kerja sama Huawei’s Joint Innovation Center 2.0 (JIC2.0) di Spanyol.

Telkomsel bekerja sama dengan Huawei meluncurkan CloudAIR 2.0. Ini merupakan kerja sama Huawei’s Joint Innovation Center 2.0 (JIC2.0) di Spanyol.

Foto: Telkomsel
Solusi meningkatkan efisiensi antarmuka dan memungkinkan operator lebih fleksibel.

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Operator telekomunikasi nasional, PT Telkomsel bekerja sama dengan Huawei meluncurkan CloudAIR 2.0. Ini merupakan kerja sama Huaweis Joint Innovation Center 2.0 (JIC2.0) di Spanyol yang memungkinkan pembentukan ulang antarmuka udara serta efesiensi dalam hal pembagian berbagai sumber daya seperti spektrum, power, dan channel.

Pengimplementasian solusi ini akan meningkatkan efisiensi antarmuka dan memungkinkan operator untuk lebih fleksibel dalam hal pembangunan jaringan serta menyediakan pengalaman pengguna yang lebih baik. Solusi ini, berdasarkan uji coba di jaringan Telkomsel, telah meningkatkan pengalaman penggunaan mobile broadband secara signifikan.

Direktur Perencanaan dan Transformasi Telkomsel, Edward Ying mengatakan modifikasi teknologi dalam hal spektrum telah mendongkrak kecepatan downlink LTE sebesar 116 persen, dari 50 Mbps ke 108 Mbps. Modifikasi dalam hal channel telah memperbaiki jangkauan area outdoor hingga 21,4 persen, serta serta peningkatan pengalaman pengguna dua hingga tiga kali lebih baik untuk penggunaan di area indoor.

"Komitmen kami adalah menghadirkan inovasi teknologi terdepan serta pembangunan jaringan broadband seluas-luasnya guna menghadirkan pengalaman digital yang mengesankan bagi pelanggan," katanya dalam rilis tertulis kepada Republika.co.id, Senin (5/3).

Solusi CloudAIR 2.0 telah membantu mengonvergensikan berbagai jaringan broadband sehingga memaksimalkan kapasitas dan jangkauan. Banyak pelanggan 2G Telkomsel yang kini bermigrasi ke 4G. Di saat yang sama, kata Ying, banyak juga pelanggan 2G masih menggunakan layanan tersebut atau disebut fenomena long-tail.

"Ini yang menjadi tantangan Telkomsel memaksimalkan spektrum di tengah keterbatasan spektrum dengan cara menjadwalkan alokasi sumber daya 2G dan 4G sesuai kebutuhan," kata Ying.

Telkomsel saat ini telah membangun teknologi LTE 2300 MHz, 2100 MHz, 1800 MHz and 900 MHz secara bersaman. Telkomsel bekerja sama dengan Huawei memperkenalkan solusi CloudAIR 2.0.

"Fokus perusahaan adalah meningkatkakan efisiensi antarmuka udara yang memungkinkan layanan Telkomsel lebih fleksibel," kata Chief Marketing Officer of Huawei Wireless Product Line, Zhou Yuefeng.

Modifikasi teknologi dalam hal spektrum mengatasi kendala yang dihadapi saat pembangunan Radio Access Technologies (RAT) yang berbeda di spektrum yang sama. Solusi ini secara dinamis mengalokasikan dan menyesuaikan spektrum berdasarkan perubahan trafik dan mencegah RAT legacy untuk menduduki golden spekrum dalam waktu lama yang berimbas pada pemaksimalan efisiensi spektrum.

Modifikasi teknologi dalam hal channel menggabungkan keunggulan bandwidth downlink yang lebih besar dari high band dan coverage uplink yang lebih baik dari low band. Band tinggi dipilih sebagai uplink pada titik dekat dan titik tengah untuk kapasitas, sedangkan band rendah dipilih sebagai uplink di tepi sel untuk mengompensasi cakupan band tinggi.

Koordinasi antara LTE high band dan low band channel dapat secara signifikan memperbaiki jangkauan band tinggi dan memperbaiki pengalaman pengguna tepi sel, terutama untuk area cakupan indoor LTE.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA