Ahad , 29 Juni 2014, 11:34 WIB

70 Persen Universitas di Jabar Minim Fasilitas Internet

Rep: Ari Lukihardiyanti/ Red: Muhammad Hafil
Internet
Internet

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Tahun ini, PT Telkom akan menggenjot penetrasi broadband di perguruan tinggi melalui program IndiCampus. Karena, berdasarkan data Kementerian Pendidikan Nasional, dari 3.100 perguruan tinggi di Indonesia baru sebagian kecil yang tersentuh layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Menurut Direktur Enterprise and Business Service PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom), M. Awaluddin, minimnya sentuhan TIK di perguruan tinggi tanah air terlihat dari bandwith mereka yang rata-rata hanya sekitar 2 mega sampai 3 mega byte per second (Mbps). Padahal, idealnya sebuah kampus yang memiliki sekitar 1.000 mahasiswa harus menyediakan bandwith minimal 5Mbps.

"Untuk Jabar, hanya 30 persen dari 400 perguruan tinggi yang sudah menyediakan bandwith di kampus,'' ujar Awaluddin kepada wartawan akhir pekan lalu. 

Sementara, kata dia, di Amerika Serikat rata-rata perguruan tinggi menyediakan bandwith sekitar 100 Mbps hingga 500 Mbps bandwith. Kondisi tersebut,  menjadi tantangan bagi Telkom yang memiliki misi menghantarkan perguruan tinggi-perguruan tinggi di tanah air menuju universitas kelas dunia. Sejauh ini, Telkom sudah menggandeng 1.000 perguruan tinggi di tanah air, dengan total konsumsi bandwith sekitar 10 giga byte per second (Gbps).

"Kami menargetkan mampu menggandeng sebanyak 1.000 kampus lagi melalui program IndiCampus. Kami yakin IndiCampus dapat meningkatkan penetrasi Broadband di perguruan tinggi," katanya.

Selain perguruan tinggi, kata dia, Angka melek teknologi informasi (TI) pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih rendah, di bawah 50 persen. Mereka, tidak begitu paham dengan perkembangan teknologi dan masih nyaman dengan pola bisnis konvensional. Selain itu, tidak sedikit yang menilai bahwa biaya TI sangat besar.

Menurut dia, tidak mudah untuk mendongkrak angka melek IT UMKM. Karena, mayoritas UMKM menilai TI itu sulit dan mahal karena tidak paham dengan manfaatnya. Telkom, merasa miris dengan kondisi ini. Sehingga, berkomitmen untuk mendorong agar pelaku UMKM Indonesia untuk maju dan modern dengan dukungan TI.

Oleh karena itu, menurut Awaluddin,  Telkom meluncurkan STAR Contact Centre, yang merupakan bagian dari Indonesia Digital Entrepreneur (Indipreneur). STAR Contact Centre ditujukan khusus bagi pelaku UMKM dengan menyasar target sedikitnya 100.000 pelaku UMKM tahun ini. 

"STAR Contact Centre adalah solusi TI bagi UMKM,'' katanya. 

PT Telkom juga, kata dia, ingin mematahkan stigma bahwa TI itu mahal dengan keberadaan layanan ini. Dengan STAR Contact Centre, pelaku UMKM juga bisa punya contact centre seperti perusahaan besar.