Jumat , 26 November 2010, 08:21 WIB
Awas Bromo

Bromo Masih Dibuka untuk Para Pelancong

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Gunung Bromo (Ilustrasi)
Gunung Bromo (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Meski Gunung Bromo dalam dua hari ini menyandang status "Awas", gunung yang berketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl)tetap menjadi primadona dan ikon pariwisata Jawa Timur, masih bisa dinikmati oleh para turis. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo, Kamis (25/11), menyatakan para pelaku pariwisata di Kabupaten Probolinggo sepakat bahwa obyek wisata Gunung Bromo masih terbuka bagi wisatawan.

Tutug mengakui, akibat aktivitas Gunung Bromo yang belakangan ini meningkat (status "Awas" atau Level IV) berdampak menurunkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata andalan Jatim itu.

Sejak akrtivitas Gunung Bromo meningkat, jumlah pengunjung yang setiap harinya sekitar 50 wisatawan mancanegara, dan sekitar 100 wisatawan domestik menurun menjadi sekitar 20 wisatawan mancanegara, dan sekitar 50 wisatawan domestik.

Bahkan setelah Gunung Bromo ditingkatkan statusnya menjadi "Siaga" pada Selasa (23/11) dan langsung "Awas" pada sore harinya (16.30 WIB), Gunung Bromo dinyatakan tertutup untuk wisatawan. Sejak hari Selasa itulah tidak ada lagi penarikan karcis masuk ke kawasan Gunung Bromo.

Namun, lanjut Tutug, para pelaku pariwisata di Kabupaten Probolinggo sepakat tidak akan menghitung kerugian materiil industri pelancongan di Probolinggo akibat menurunnya kunjungan wisatawan karena aktivitas Gunung Bromo belakangan ini yang meningkat.

Sebaliknya, kata Tutug, para pelaku wisata di Probolinggo sepakat untuk mengemas aktivitas Gunung Bromo menjadi paket wisata yang menarik.

"Dunia pariwisata kan dituntut untuk lebih berkreasi," ucap Tutug menegaskan.

Paket wisata Gunung Bromo akan dikemas dengan mempertimbangkan keamanan bagi wisatawan. Yakni Gunung Bromo tetap dibuka untuk wisatawan, tapi dibatasi hanya sampai di Cemorolawang, dan tidak mendekati lautan pasir maupun gunung api itu sendiri.

Menurut dia, batas kunjungan hanya sampai di tepi kaldera Gunung Bromo atau sekitar 3 kilometer dari kawah Gunung Bromo merupakan kawasan aman yang bisa dikunjungi wisatawan. Sebelumnya, paket wisata Gunung Bromo meliputi menyaksikan matahari terbit di Puncak Penanjakan (Tosari, Kabupaten Pasuruan), dan menaiki kawah Gunung Bromo di lautan pasir.

Obyek wistawa Gunung Bromo merupakan "view" yang bisa disaksikan dari kawasan Cemorolawang dari arah Probolinggo, dan Puncak Penanjakan dari arah Pasuruan.

Meski Gunung Bromo aktivitasnya sedang tinggi, panoramanya masih bisa disaksikan dari dua tempat tersebut, karena kawah Bromo berada di tengah lautan pasir yang posisinya di bawah dengan jarak sekitar 3 kilometer dari permukiman warga.

Tutug menyebutkan, Gunung Bromo pada bulan Oktober sebelum mengalami peningkatan aktivitas masih dikunjungi 8.489 wisatawan domestik, dan 1.455 wistawan mancanegara.

Namun, setelah memasuki bulan November, ketika aktivitas Gunung Bromo mengalami peningkatan, jumlah pengunjung baik manacanegara maupun domestik mengalami penutuinan yang cukup drastis.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Agung Laksono, memamntau langsung Gunung Bromo dari "Lava View" di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis pagi.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui secara kasat mata aktivitas Gunung Bromo dari jarak sekitar tiga kilometer, menyusul meningkatnya aktivitas hingga dinaikkan status menjadi "Awas" atau level IV.

Menko Kesra Agung Laksono juga meninjau Pos Pengamatan Gunung Bromo di Ngadisari Cemorolawang, Probolinggo untuk mengetahui data aktivitas gunung api yang menjadi ikon pariwisata Jatim tersebut.

Data terakhir menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Bromo mengalami gempa tremor vulkanik antara 26-30 mm atau menurun antara 2-5 mm.

Menko Kesra mengatakan, penanganan Gunung Bromo harus dilakukan sebaik mungkin, karena kawasan tersebut adalah daerah wisata.

Ia mengingatkaan, penanganan Gunung Bromo harus dilakukan dengan baik sejak dini agar tidak menimbulkan dampak ekonomi masyarakat khusunya di sektor wisata.

Kepada masyarakat setempat, juga diimbau mematuhi semua kebijakan yang dikeluarkan pejabat berwenang, khususnya soal jarak aman dan mengungsi jika diharuskan.

Sebelumnya, Menko Kesra di Pendapa Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/11) malam mendapat paparan tentang aktivitas Gunung Bromo yang menjadi primadona dan ikon pariwisata Jawa Timur tersebut.

Disebutkan, Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah menyediakan beberapa titik pengungsian sebagai langkah antisipasi penanggulangan jika terjadi bencana.

Gunung Bromo secara administratif terletak di Kabupaten Probolinggo, dan memiliki tinggi puncaknya 2.329 mdpl (meter dari permukaan laut). Namun, kawasan sekitar Bromo ada beberapa desa yang masuk dalam empat wilayah kabupaten di Jatim, selain Probolinggo, juga Pasuruan, Lumajang serta Kabupaten Malang.


Sumber : Ant

Berita Terkait