Kamis , 21 September 2017, 05:30 WIB

LPMQ Kemenag dan Perpustakaan Negara Malaysia Gelar Seminar

Red: Agus Yulianto
Agung Supriyanto/ Republika
Salah satu contoh Mushaf Alquran kuno dari daun lontar
Salah satu contoh Mushaf Alquran kuno dari daun lontar

REPUBLIKA.CO.ID, MALAYSIA -- Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama bekerjasama dengan Perpustakaan Negara Malaysia menggelar seminar tentang Alquran Nusantara. Seminar bertajuk ‘Karakteristik dan Iluminasi Mushaf Alquran Nusantara’ ini  diadakan di Perpustakaan Negara Malaysia di Kuala Lumpur pada Selasa (19/09).

Seminar dibuka Ketua Pengarah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) Dato’ Nafisah binti Ahmad. Menurutnya, seminar bertujuan memaparkan hasil kajian terbaru tentang Alquran kuno di Nusantara. Dia berharap perpustakaan Negeri Malaysia nantinya bisa mengembangkan kajian manuskrip Alquran pada masa mendatang karena  Alquran adalah sumber/zaimat hidup setiap muslim.

Seminar ini dihadiri para pemerhati pernaskahan dan kequranan di Malaysia. Tampil sebagai narasumber tiga peneliti LPMQ, yaitu: Ali Akbar (Mushaf Nusantara Abad ke 17-19), Abdul Hakim (Historiografi Mushaf Alquran kuno Nusantara), dan Zarkasi Afif (Kajian Rasm pada Mushaf Alquran Nusantara).

Sedang  narasumber dari Malaysia yaitu Prof. Madya Dr. Ab Razak bin Ab Karim (Universiti Malaya) dan Prof. Dr. D’zul Haimi Md Zain (Universiti Teknologi Mara). Acara ini dimoderatori oleh Prof. Madya Dr. Muhammad Mustaqim bin Mohd Zarif (Universiti Sains Islam Malaysia).

Sejumlah pandangan berkembang pada seminar ini. Antara lain terkait masih minimnya kajian tentang Alquran kuno. Padahal dalam khazanah naskah kuno, Alquran kuno adalah naskah yang paling banyak disalin. Hal itu karena adanya anggapan bahwa Alquran itu sama saja tulisannya dan bunyinya.

Menurut Ali Akbar, anggapan itu ada benarnya, tapi tak sepenuhnya. Sebab, dalam sebuah naskah Alquran kuno, tersimpan tentang pembuatan kertas, pembuatan tinta, penjilidan buku, teknologi seni hias, teknologi alat tulis, dan lainnya.

Selain aspek kodikologis, lanjut Ali, Alquran kuno juga menyimpan perkembangan ilmu-ilmu Alauran. perkembangan ilmu rasm, ilmu khat, ilmu wakof, ilmu perhitungan ayat, ilmu pembagian Alquran dan lainnya.

“Alquran kuno mewakili sejarah kejayaan suatu negeri pada zamannya. Ia bisa berpindah tempat keluar dari nusantara, tetapi ia akan terus menjadi duta kejayaan suatu negeri, termasuk Nusantara Indonesia,” ujar Ali.

Karenanya, pelestarian Alquran kuno harus menjadi prioritas. Apalagi masyarkat Muslim Indonesia memiliki hubungan batin sangat kuat dengan Alquran, dibandingkan dengan buku lainnya.

Sumber : kemenag.go.id