Senin , 30 December 2013, 16:46 WIB

Antara Pesantren, Internet, dan Kemajuan Bangsa

Red: Hafidz Muftisany
Antara
Siswi memamfaatkan fasilitas Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK)
Siswi memamfaatkan fasilitas Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra/Wartawan Republika
 
Belasan santri tampak berbaris rapi. Mereka berjejer untuk menyambut tamu istimewa. Adapun, puluhan santri lainnya duduk memenuhi deretan kursi di depan panggung. Momen itu sangat membahagiakan KH Lukman Al Karim. Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh, Malang ini merasa bangga pesantren asuhannya mendapat perhatian pemerintah.
 
Setelah dilakukan evaluasi dan penilaian, Ponpes Bahrul Maghfiroh mendapat bantuan program internet dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Gus Lukman—sapaan akrabnya—semakin semringah lantaran peresmian program bantuan internet untuk pesantren diresmikan Menkominfo Tifatul Sembiring.
 
Dia menyampaikan rasa terima kasih mendapat bantuan dari Kemenkominfo berupa sarana dan prasarana internet sehat. Nantinya, bantuan internet yang menggunakan jaringan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) ini bisa dimanfaatkan santri untuk menambah tingkat penguasaan ilmu agama. Dia optimistis, bantuan jaringan internet dapat semakin meluaskan jangkauan syiar agama yang dilakukan santri ke penjuru Indonesia bahkan dunia.
 
Dengan masuknya internet melalui program Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) ke pesantren, diharapkan bisa menjadi awal dakwah baginya yang lebih besar. Apalagi, momentum itu juga dilakukan peluncuran laman resmi ponpes yang bisa diakses seluruh orang yang terhubung sistem online.
 
“Kami punya ponpes dengan nama Bahrul Maghfiroh yang artinya lautan pengampunan, mudah-mudahan Allah memberi ampunan,” ujar Gus Lukman, belum lama ini. “Bantuan internet sehat ini bisa dimanfaatkan santri untuk menambah tingkat penguasaan ilmu agama.”
 
Saat ini, Ponpes Bahrul Maghfiroh memiliki 14 cabang di Indonesia. Tiga cabang lainnya berdiri di Yaman dan dua di Kota Makkah. Total semua santri mencapai 2.500 orang, yang mendapat fasilitas tidak dipungut biaya sepeser pun menimba ilmu di pesantren. Tidak hanya itu, Gus Lukman juga memenuhi kebutuhan duniawi para santri.
 
Mereka mendapat sandang sebagai penutup aurat dan asupan makanan bergizi sebanyak dua kali sehari. Selain itu, santri juga tinggal di lingkungan pesantren, serta mendapat fasilitas pemeriksaan kesehatan dan pendidikan Alquran mulai jenjang setingkat SD, SMP, dan SMK secara gratis.
 
Gus Lukman sangat bersyukur terkait bantuan internet untuk pesantren yang diasuhnya. Tentunya hal itu semakin melengkapi segala kelengkapan yang dimiliki Ponpes Bahrul Maghfiroh. Dengan begitu, dia bertekad mendidik santri agar menjadi generasi terbaik bangsa yang tidak hanya andal menguasai agama, melainkan juga ilmu pengetahuan modern yang sumbernya tersedia di internet.
 
Menkominfo Tifatul Sembiring menjelaskan, bantuan kepada kalangan dunia pesantren dimaksukan untuk meningkatkan penetrasi internet di Indonesia. Rendahnya tingkat penetrasi internet yang baru mencapai 30 persen membuat pihaknya miris.
 
Untuk itu, pemerintah berupaya mempercepat tingkat penetrasi itu dengan melakukan berbagai strategi. Dia menargetkan, dari 250 juta penduduk Indonesia, separuhnya bisa memiliki akses terhadap internet dan terhubung secara online di dunia maya.
 
Keputusan tersebut diambil sesuai deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 2003 yang menargetkan pada 2015, sedikitnya 50 persen masyarakat di negara anggota PBB harus terbuka informasinya. Menurut dia, nantinya seluruh kecamatan bisa memiliki jangkauan untuk mengakses internet.
 
Tifatul membeberkan data, dengan penetrasi 10 persen jaringan pita lebar berkecepatan tinggi yang baru dibangun Indonesia, ternyata mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,38 persen. Pada 2012, besaran PDB mencapai Rp 8.241,9 triliun. Badan Pusat Statistik (BPS) juga melansir, kontribusi sektor telekomunikasi terhadap ekonomi mencapai 11 persen pada 2011, dan 10 persen pada 2012.
 
Hal itu menunjukkan tingkat melek internet di masyarakat berpengaruh terhadap kesejahteraan ekonomi dan daya saing bangsa. “Dengan internet juga membuat arus informasi diikuti arus barang yang meningkat, dan transaksi bisa lebih lancar,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
 
Tifatul berpesan agar semua kalangan di ponpes yang selama ini dikenal gagap teknologi bisa memanfaatkan jaringan internet yang terpasang. Pasalnya, banyak hal yang bisa dimanfaatkan pihak pesantren untuk menggunakan jaringan internet guna menunjang pendidikan agama.
 
Fasilitas laman Youtube, misalnya, bisa dijadikan ulama dan santri untuk belajar bagaimana hafalan doa beserta terjemahan teks yang tersedia secara lengkap di internet. Hal itu, imbuh Tifatul, tentu bisa semakin memudahkan santri untuk menggali setiap ilmu agama sesuai yang diminatinya.

Peran Besar Telkom


Pada akhir Oktober lalu, Telkom wilayah Priangan Timur meresmikan penggunaan Broadband Learning Center (BLC) di Ponpes Nurul Huda, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Dengan peresmian ini, akan dibangun BLC pertama di pesantren. Kebijakan tersebut jelas langkah menggembirakan dan keberpihakan terhadap peningkatan mutu pendidikan pesantren.
 
Komitmen Telkom untuk membangun BLC di sejumlah sekolah dan pesantren di Indonesia, terkait mempercepat distribusi layanan akses internet patut diapresiasi. Terbukti, kehadiran BLC di Ponpes Nurul Huda mendapat sambutan hangat dari para santri. Mereka sangat antusias ingin bisa mengakses internet untuk mendukung pelajaran di pesantren itu.
 
Saat ini, pengguna Internet di Indonesia tumbuh secara signifikan, seiring kemudahan akses yang tersedia dan perangkat pendukung. Pada 2015 mendatang, diprediksi pengakses internet mencapai 100 juta. Langkah menyasar kalangan pesantren juga sebagai upaya agar target tersebut dapat terlampaui.
 
Menurut Kepala Wilayah Telekomunikai (Kawitel) Telkom Priangan Timur Afianto, Telkom berupaya terus mengembangkan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan layanan akses internet. “Percepatan penyebaran kesempatan untuk itu secara merata, tidak hanya di perkotaan, tapi juga bertahap dan berkelanjutan hingga ke pelosok daerah,” kata Afianto.
 
Di tingkat pusat, Telkom melakukan penguatan infrastruktur berbasis broadband dilakukan untuk mendukung inovasi layanan dan produk menuju Telekomunikasi Information, Media, Edutainment, dan Services (TIMES) demi konsumen. Fokus Telkom pada penyelenggaraan IMES juga merupakan sumbangsih demi kemajuan ekonomi dan kecerdasan bangsa.
 
Pengembangan jaringan pita besar juga untuk mendukung program pemerintah yang bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berimbang, dan berkelanjutan. Tentu saja, untuk merealisasikan itu adalah dengan mendorong dunia pendidikan agar memanfaatkan fasilitas jaringan internet.
 
Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, sebagai satu-satunya BUMN telekomunikasi milik negara, perusahaannya akan terus meningkatkan komitmennya memajukan dunia pendidikan. Dengan portofolio bisnis TIMES pada masa mendatang, semua program yang dirancang demi meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.
 
Keyakinan itulah yang mendorong Telkom menaruh perhatian khusus terhadap berbagai usaha yang bertujuan menciptakan generasi cerdas. “Sedari awal Telkom memang sangat peduli terhadap peningkatan kualitas pendidikan,” kata Arief.
 
Menurut Arief, Telkom melihat masa depan bangsa ada di tangan generasi muda. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, sumbangsih Telkom adalah menyediakan prasarana dan sarana pendidikan berbasiskan TIK, melalui pemerataan akses TIK untuk mempersempit kesenjangan digital (digital divide).
 
Wujud bakti Telkom untuk pendidikan, di antaranya melalui Penerimaan Siswa Baru secara online, layanan transparansi dunia pendidikan lewat Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan (SIAPonline), aplikasi buku dan perpustakaan digital ‘Qbaca’. Selain itu, metode belajar bahasa English online dalam English Bean, tayangan TVEdukasi via aplikasi televisi digital Usee’, serta program IndiSchool berupa layanan internet gratis untuk 100 ribu sekolah di Indonesia.
 
‘Santri Indigo’ dan ‘Bagimu Guru Kupersembahkan’ juga merupakan program konkret yang diterapkan Telkom bekerjasama dengan Harian Republika. Dua program terobosan di bidang pendidikan tersebut merupakan bagian tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa. Santri dan tenaga pendidik dilatih untuk meningkatkan kualitas SDM.
 
Kepedulian Telkom terhadap dunia pendidikan di Indonesia selain dipicu oleh kebutuhan yang bersifat jangka pendek, juga didorong oleh visi jangka panjang untuk ikut serta memajukan kualitas SDM Indonesia. Dengan begitu, harapan Telkom untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa sebenar-benarnya dapat diwujudkan.
 
“Telkom meyakini bahwa people are the real differentiator. Hal yang membedakan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain adalah manusianya,” kata Arief.