Selasa , 12 September 2017, 08:22 WIB

Telkom Prediksi Potensi Digital Ekonomi akan Capai 130 Juta Dolar

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Nidia Zuraya
AP Photo/Andy Wong
Bisnis online (ilustrasi)
Bisnis online (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Indigo.id akan menitikberatkan lima poin dalam inisiasi digital program inkubasi dan akselerasi start up ke depannya. Menurut Head of Marketing and International Channel Indigo PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, R Bayu Hartoko, potensi digital ekonomi Indonesia saat ini kurang lebih mencapai 13 juta dolar AS.

Namun, lima tahun ke depan berpotensi menjadi 130 juta dolar AS. "Ini sebuah potensi yang besar sekali, jangan sampai diambil orang lain," ujar Bayu dalam siaran persnya, Selasa (12/9). 

Menurut Bayu, dari jumlah penduduk saja, Indonesia penduduknya 255 juta. Negara di bawah kita jauh jumlahnya, yakni Filipina 101 juta, Vietnam 94 juta, Thailand  65 juta, Myanmar 53,8 juta, Malaysia 30 juta, Kamboja 15,4 juta, Laos 6,9 juta, Singapura 5,5 juta, dan Brunei 0,43 juta. 

Situasi ini, kata Bayu, juga membuat Indigo.id banyak dihubungi inkubator di negara lainnya untuk sinergi dalam bentuk co-venture co-partner startup exchange. Namun, PT Telkom harus pilah pilih, mana yang strategis buat Indonesia dan bukan.

"Kalau asal terima exchange itu belum tentu kita untung, wong jumlah market kita 255 juta, dan Laos 6,9 juta, ya masa kita hanya dapatkan market segitu sementara mereka bisa dapatkan pasar Indonesia," katanya. 

Bayu mengatakan, kreativitas dan inovasi digital di sisi lain dibutuhkan pula untuk mengatasi berbagai persoalan lokal. Termasuk, merangkul kearifan lokal, sehingga startup di Indonesia memiliki peluang luas.

"Ada lima kunci sukses di bisnis digital ini. Yakni, diawali dengan orkestrasi digital," katanya

Artinya, kata dia, ada proses sinergi serta saling melengkapi antara elemen industri digital satu dengan lainnya. Setelah itu, harus ada peningkatan kapabilitas internal di Indigo.id maupun mitra. 

"Kemudian, optimalkan peluang sinergi yang ada, eksekusi seluruh program secara istimewa, serta tak berhenti mengembangkan ekosistem digital di tanah air," katanya. 

Menurut dia, secara simultan, mereka yang berminat dan sedang menjalani industri digital pun harus memiliki perubahan paradigma dalam berkarya. Jadi, jika dulu belajar di sekolah sampai lulus kemudian bekerja sampai pensiun, maka kini proses bekerja dan belajar harus terus dilakukan bergiliran tanpa berhenti. 

"Saat ini, pekerjaan sesulit apapun akan terasa mudah jika tidak dikerjakan. Artinya, pekerjaan yang mudah-mudah itu sudah tidak ada, maka stop komplain dan terus belajar dengan cerdas dan keras," katanya. 

Bayu mengatakan, perubahan sikap mental itu juga diperlukan karena terjadi perubahan lingkungan. Terutama potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar dan penting dikembangkan, sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi dalam banyak kesempatan.