Senin , 23 October 2017, 16:44 WIB

Persib Dukung Penerbitan SOP Penanganan Pemain Cedera

Rep: Febrian Fachri / Red: Ratna Puspita
Antara/Fahrul Jayadiputra
Pesan belasungkawa kepada penjaga gawang Persela Lamongan Almarhum Choirul Huda ditampilkan saat jeda babak pertama pertandingan antara Persib Bandung menghadapi Madura United FC pada laga lanjutan GO-JEK Traveloka Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/10).
Pesan belasungkawa kepada penjaga gawang Persela Lamongan Almarhum Choirul Huda ditampilkan saat jeda babak pertama pertandingan antara Persib Bandung menghadapi Madura United FC pada laga lanjutan GO-JEK Traveloka Liga 1 di Stadion Si Jalak Harupat Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/10).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Dokter tim Persib Rafi Ghani mendukung upaya Kementerian Pemuda dan Olahraga menerbitkan Prosedur Operasional Standar (SOP) untuk tindakan pertama penanganan cedera pemain klub Liga Indonesia saat pertandingan. Menurut Rafi, hal itu sangat penting untuk menjamin keselamatan pemain.

"Saya menyambut positif ya. Memang harusnya itu ada. Dulu sebenarnya sudah bagus sebelum liga vakum," kata Rafi kepada Republika, Senin (23/10).

Rafi memberi masukan kepada PSSI dan PT Liga Indonesia Baru agar mengadakan dokter pertandingan yang selalu siaga dan berkoordinasi dengan dokter tim yang bertanding. Dengan demikian, mereka dapat mengantisipasi dan memberikan penanganan yang cepat dan tepat ketika ada pemain yang terkapar cedera.

Dokter pertandingan, menurut Rafi, juga sudah memetakan kondisi di kota lokasi pertandingan kalau pemain yang cedera harus segera dirujuk ke rumah sakit. Dokter yang dibawa oleh klub kata Rafi tentu tidak paham kemana pemain harus dibawa ketika saat-saat kritis.

"Misalnya kami (Persib) main di Serui, saya kan tidak paham kondisi di sana,"ujar Rafi.

Kemudian, Rafi yang sudah punya sertifikat dokter tim sepak bola juga mengharapkan ada lagi sertifikasi untuk dokter-dokter yang menangani pemain klub sepak bola. Dengan demikian, menurut Rafi, standar penanganan kondisi medis pemain-pemain bisa merata untuk semua klub dan setiap pertandingan.

Selain sertifikasi, Rafi menerangkan, operator liga dan Komite Medis PSSI harus lebih sering berkumpul bersama tim dokter klub untuk mengevaluasi setiap kejadian di pertandingan dari pekan ke pekan. Tujuannya, Rafi menyebutkan, meminimalisir kejadian bahaya seperti meninggalnya kiper Persela Lamongan Choirul Huda pekan lalu.

"Rutinkan lagi pertemuan dokter tim atau tim medis klub secara berkala. Seperti dulu sudah berjalan enam bulan sekali," ujar Rafi.