Jumat , 06 Oktober 2017, 18:35 WIB

Ketum PSSI: Ancaman Mogok Liga 1 Cuma Cari Sensasi

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Ratna Puspita
Republika/ Yasin Habibi
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menyampaikan sambutan ketika pelepasan Timnas U-22 di Jakarta, Kamis (10/8).
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menyampaikan sambutan ketika pelepasan Timnas U-22 di Jakarta, Kamis (10/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi curiga ancaman mogok 15 merupakan upaya mencari perkara dengan cara-cara yang lama agar sepak bola Indonesia kembali tak kondusif. Dia pun tak segan menyebut ancaman mogok sebagai upaya mencari sensasi. 

“Itu (ancaman mogok) cuma cari sensasi saja mereka itu. Nggak ngerti saya mau mereka ini apa,” kata Edy, saat dihubungi Republika, pada Jumat (6/10).

PSSI meminta agar 15 klub Liga 1 2017 menuntaskan kompetisi. Edy pun menyarankan mengatakan, agar para kesebelasan tersebut, menyampaikan keluhan dengan cara baik-baik tanpa perlu ancam-mengancam. Dia juga menilai seruan mogok tanding tersebut merupakan aksi menantang yang tak bijak dari para kesebelasan profesional. 

Kendati demikian, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu menyatakan, dia dan juga PSSI tak akan menghalangi kalau seruan mogok tersebut tetap menjadi pilihan. “Silakan kalau mereka mau mogok (bertanding). Berarti Liga 1 kita bubarkan saja. Tak usah lagi mereka main,” ujar Edy. 

Dia menyatakan jika mogok tetap menjadi pilihan 15 klub maka tak ada jalan lain selain membuat Liga 1 yang baru. “Tak usah lagi mereka ikut. Tak ada masalah kalau mereka tak mau main lagi,” kata Edy. Dia menambahkan masih banyak klub-klub di Indonesia yang ingin main di Liga 1. 

Menurut dia, sejumlah klub-klub di Liga 2 pun saat ini sedang kerja keras berkompetisi agar sanggup bermain di Liga 1. Jika 15 kesebelasan Liga 1 itu tetap memilih jalan mogok tanding maka kasta utama kompetisi nasional akan mempertandingkan klub-klub di luar peserta 15 kesebelasan itu.

Pada Rabu (4/10), 15 dari 18 klub di Liga 1 mengancam akan mogok tanding. Mereka yang mengatasnamakan Forum Kesebelasan Sepak Bola Profesional itu menilai, PSSI bersama operator Liga 1, yakni PT Liga Indonesia Baru (LIB), tak transparan dalam menggelar kompetisi sepak bola nasional.

Forum tersebut menuntut sejumlah hal, di antaranya soal tranparansi keuangan. Mereka juga mempertanyakan nilai sponsor dan kompensasi penyiaran Liga 1 yang dikelola LIB bersama PSSI. Selain itu, mereka juga menuntut pengembalian surat perjanjian awal peserta kompetisi. 

Jika tuntutan tersebut tak dipenuhi maka 15 klub tersebut memilih aksi mogok bertanding. Hanya tiga klub yang menolak seruan mogok oleh forum tersebut. Mereka yaitu, Bali United dan Persib Bandung, serta PS TNI. 

Edy melanjutkan, dia berusaha memahami tuntutan 15 klub tersebut. Kendati demikian, dia mengaku, tak mengerti juga tentang tuntutan para kesebelasan tersebut. 

Menurut dia, terkait transparansi keuangan yang menjadi soal, PSSI sudah terbuka dengan semua nilai sponsor.  Buktinya, Edy menerangkan, masing-masing peserta Liga 1, sudah mendapatkan kompensasi peserta kompetisi senilai Rp 7,5 miliar. 

“Apanya yang tidak transaparan? Kalau soal uang sponsor, sudah kita kasihkan itu ke mereka semua,” kata Edy. 

Perwira bintang tiga di Angkatan Darat (AD) itu mengingatkan, agar Liga 1 tetap berjalan sampai tuntas. Pekan ini, Liga 1 sudah memasuki pekan ke-28. Kompetisi kasta tertinggi ini menyisakan tujuh pertandingan lagi sebelum pungkas pada pekan ke-34.

“Kita sama-sama ingin agar sepak bola ini kondusif,” ujar Edy. 

Mantan Pangdam Bukit Barisan itu kembali menegaskan, akan menyelesaikan semua tantangan 15 klub tersebut kalau mogok tetap menjadi pilihan. “Satu dua hari ini, akan saya selesaikan apa yang mereka keluhkan,” ujar dia. 

Berita Terkait