Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

KLB PSSI Bukan Akhir Dari Segalanya

Sabtu, 16 Maret 2013, 18:25 WIB
Komentar : 0
Antara/Ismar Patrizki
Kongres PSSI (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang akan diselenggarakan, Ahad (17/3) di Hotel Borobudur, Jakarta, tak menjadi akhir dari kebobrokan sepak bola Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di dalam tubuh PSSI sebagai federasi sepak bola Indonesia. 

KLB sejatinya membahas tiga agenda. Yakni unifikasi liga, pengembalian empat anggota Komite Eksekutif (exco) dan revisi statuta. Selain tiga poin itu, sebetulnya ada banyak hal yang seharusnya segera dientaskan dari sepak bola Tanah Air. 

Aktifis Save Our Soccer (SOS) Apung Widadi mengatakan, penyelenggaraan KLB hanya sekadar formalitas menjalani instruksi FIFA agar tidak dikenakan sanksi. "Wala pun berjalan lancar (kongres), kebobrokan PSSI menangani sepak bola tidak akan berakhir," kata Apung di Jakarta, Sabtu (16/3). 

Karena, tambah Apung, ada beberapa akar masalah penyebab kerusakan sepak bola Indonesia yang hingga kini belum terselesaikan. 

Pertama, PSSI wajib melakukan instropeksi dengan tidak menyertakan orang-orang politik mengurus sepak bola. "Tendang politik dari sepak bola Indonesia," ucap Apung. 

Tak bisa dimungkiri, sepak bola Indonesia menjadi lahan bagi politikus untuk mendompleng nama demi mendapat perhatian dari masyarakat. Tak perlu merunut jauh ke belakang. Saat ini saja, hal itu sudah gamblang.

Contohnya, dengan ditunjuknya Bupati Kutai Timur, Isran Noor sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN). Lembaga ini dibentuk Ketua Umum PSSI Djohar Arifin tanpa persetujuan anggota Komite Eksekutif PSSI. Yaitu, untuk mengambil alih segala pengelolaan timnas. 

"Sepak bola harus diurus orang-orang yang benar mengerti sepak bola. Bukan orang-orang politik," tambah Apung.

Reporter : Satria Kartika Yudha
Redaktur : Mansyur Faqih
3.328 reads
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...