Jumat, 28 Ramadhan 1435 / 25 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Aceng Fikri dan PSSI

Rabu, 19 Desember 2012, 14:23 WIB
Komentar : 0
Antara
PSSI
PSSI

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Abdullah Sammy/ Wartawan Republika

Aceng Fikri dan PSSI sama-sama menjadi topik hangat bulan ini. Mulut rasanya gatal jika tidak berkomentar ketika mendengar dua nama ini.

Baik Aceng maupun PSSI sama-sama tenar karena kontroversi, ketimbang prestasi. Kisah konflik perpecahan membuka kisah keduanya. Aceng pecah kongsi dengan wakilnya, Dicky Candra. Perpecahan terjadi selang tiga tahun setelah keduanya memenangi Pilkada Garut via jalur independen.

Hebat! Itulah kata yang sempat disemat Aceng seusai menjungkalkan calon asal parpol di Pilkada Garut. Situasi yang sama terjadi di tubuh PSSI. Saat Djohar Arifin berhasil menumbangkan Nurdin Halid dari tampuk PSSI, harapan sempat membubung tinggi.

Namun, kata hebat dan harapan, berubah jadi cacian. Kisah Aceng dan PSSI pun berkembang konflik di lingkaran setan. Setelah perpecahannya dengan Dicky Candra, Aceng makin “sableng”. Urusan syahwat membuat Aceng tersudut.

Bermula pengakuan soal nikah empat hari dengan remaja bernama Fany Octora, Aceng kini terancam kehilangan segalanya. Jabatan yang selama ini dia bangga-banggakan di layar kaca, terancam dilucuti. 

Dalam kasus Aceng, Fany yang masih berusia remaja, boleh dikatakan sebagai korban. Entah jadi korban rayuan Aceng Fikri, korban kebutuhan ekonomi, atau bisa jadi korban kekuasaan sang bupati.

Jika Aceng pecah kongsi dari Dicky, maka PSSI terbelah dengan KPSI. Perpecahan terjadi setelah empat petinggi PSSI membelot. Dalam konteks persoalan PSSI, pemain yang jadi pesakitan. Akibat konflik PSSI yang tidak kunjung berakhir, nasib pemain jadi terpinggir. Puncaknya adalah kematian Diego Mendieta yang tidak digaji selama enam bulan oleh klubnya, Persis Solo.

Segala nasib pilu pemain adalah dampak dari syahwat kekuasaan PSSI versus KPSI. Syahwat yang bisa jadi sama besarnya seperti nafsu menggebu Aceng di empat hari pertama masa pernikahannya. Sah-sah saja bila masyarakat jadi muak melihat aksi Aceng dan PSSI. Sah pula jika keduanya kini jadi bahan cercaan di keseharian masyarakat.

Lelucon seperti “Badan Agung Hercules tenaga Aceng” akhirnya kini jadi populer disematkan pada pria berlagak jagoan namun nyalinya tidak seberapa. 

Lelucon lain pun sudah sering kita dengar soal PSSI. Bahkan, sejak hitungan tahun, nama PSSI selalu menghiasi khazanah humor nusantara. Sebagai contoh, sebuah kisah fiktif soal tandukan Zinedine Zidane pada Marco Materazzi tahun 2006.

Dalam lelucon itu, disebut bahwa tandukan Zidane pada Materazzi sebenarnya bukan karena ejekan soal adik atau sang ibu. Zidane ternyata marah besar saat Materazzi bertanya, "Zidane, kamu pemain PSSI ya?" Begitulah lelucon yang jadi sinyal kemuakan masyarakat terhadap PSSI.

Namun, terlepas dari kasus yang masih menjeratnya, kita sama-sama berharap persoalan di tubuh PSSI bisa cepat diatasi. Sudah saatnya, masyarakat melihat berita prestasi sepak bola, bukan justru perkelahian para pengurusnya.

Hanya secarik harap yang bisa dihaturkan pada pengurus PSSI agar mereka mencintai sepak bola sepenuh hati, bukan cinta selama empat hari. Ibarat permainan sepak bola, marilah kita semua berdoa agar “tendangan” PSSI menuju prestasi tidak melenceng seperti kisah si Aceng. 

twitter: @Sammy_Republika

Redaktur : Abdullah Sammy
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS Al-Baqarah: 39)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar