Kamis , 20 April 2017, 20:02 WIB

[analisis] Pressing Pantang Kendur yang Bikin Barca Tersungkur

Rep: Gilang Akbar Prambadi/ Red: Andri Saubani
EPA/Quique Garcia
Gelandang Barcelona, Neymar Jr (kiri) menangis di pelukan bek Juventus, Dani Alves seusai leg kedua perempat final Liga Champions di Camp Nou, Kamis (20/4) dini hari WIB. Juve menang agregat 3-0.
Gelandang Barcelona, Neymar Jr (kiri) menangis di pelukan bek Juventus, Dani Alves seusai leg kedua perempat final Liga Champions di Camp Nou, Kamis (20/4) dini hari WIB. Juve menang agregat 3-0.

REPUBLIKA.CO.ID, KATALAN -- Kedisiplinan yang dipertotonkan Juventus saat menahan gempuran Barcelona pada leg kedua perempat final Liga Champions, Kamis (20/4) malam WIB menuai decak kagum. Benteng kokoh yang berdiri di stadium Juventus pekan lalu sanggup kembali dibangun oleh Bianconeri di Camp Nou.

Setelah mampu menang tiga gol tanpa balas di Kota Turin, Juve kembali unjuk kebolehan dalam menjaga gawang mereka dari kebobolan. Trio striker mematikan Lionel Messi, Luis Suarez serta Neymar dibuat frustrasi oleh kedisiplinan Giorgio Chiellini dan kawan-kawan.

Lantas apa resep Juve hingga mampu membuat Neymar bahkan sampai menangis saat peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiupkan? Jawabannya bisa disimak dari ucapan kapten Juve Gianluigi Buffon.

Kiper yang sudah berdiri di bawah mistar Juve sejak 2001 ini mengatakan, penampilan si Nyonya Tua dalam menghadapi Barca memang berbeda dari biasanya. "Pada laga tadi, kami menjadi lebih 'Eropa' dengan melakukan pressing," ujarnya usai laga melawan Barca.

Ungkapan yang Buffon katakan seolah mengamini apa yang terlihat di lapangan. Juve yang terlahir di tanah Italia sejatinya menganut paham sepak bola bertahan. Penjagaan terhadap area sendiri jadi andalan dalam membangun pertahanan kokoh.

Lazimnya ketika berlaga, garis pertahanan Juve selalu berdiri tak jauh dari kotak 16. Tetapi pada laga dini hari WIB tadi, para pemain Juve sudah langsung sigap menutup pertahanan sendiri sejak dari lini tengah. Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan pun lebih tampak seperti 4-5-1. Tak heran pada laga tersebut, sering terlihat Paulo Dybala, Juan Cuadrado, dan Mario Mandzukic yang berposisi sebagai gelandang serang malah tampak menjadi lapisan pertahanan pertama Bianconeri.

Seolah punya napas kuda, Dybala, Cuadrado, dan Mandzukic sigap mengejar bola yang sedang dikuasai oleh lawan di tengah lapangan. Hasilnya sangat baik karena serangan Barca bisa tersaring sebelum sampai ke hadapan duet geladang bertahan, Sami Khedira dan Miralem Pjanic.

Taktik yang diterapkan Massimiliano Allegri ini membuat aliran bola banyak berputar di bagian tengah lapangan. Dalam lansiran usai laga, UEFA menyebut nyaris setengahnya persentase aliran bola berpusat di lapangan, yakni 46,4 persen. Dengan fakta Barca tertinggal agregat 0-3, seharusnya dominasi aliran bola bisa tercurah di sepertiga lapangan Juve.

Ini membuktikan pressing agresif pasukan Turin mampu membuat permainan tim besutan Luis Enrique itu hanya berputar-putar di tengah lapangan. Adapun 33,8 persen aliran bola yang bisa mendekati wilayah pertahanan Juve tak sampai berbuah menjadi peluang. Tercatat, pada laga itu Los Cules hanya mampu melepas satu tembakan mengarah ke gawang.

Barca mencoba mencari solusi dengan menghujani gawang Juve via tembakan dari depan pertahanan sang penguasa Italia. Jalan pintas ini diambil karena Barca kesulitan menempatkan pemain yang bisa mendapatkan bola di depang gawang Juve.

Akan tetapi, 18 tendangan, termasuk tujuh dari luar kotak penalti yang dilepaskan tak ada menemui sasaran. Bahkan, lima diantaranya sudah langsung mental karena bisa diblok oleh bek-bek Juve.

Usaha keras Juve untuk mengejar bola juga terlihat dari catatan total jarak langkah kaki para pemainnya. Total, para pemain Juve menghabiskan jarak tempuh 111,9 kilo meter pada laga tersebut. Lebih banyak tiga kilometer dibanding Barcelona. Kemudian, dahsyatnya komitmen Juve dalam menghalau serangan Barca juga dibuktikan dengan catatan antisipasi bola atau intercept yang jomplang di antara kedua tim. Barca hanya melakukan tujuh intersep, sedangkan Juve 35 kali.

Maka tak mengherankan, perjuangan Barca yang habis-habisan berusaha mencetak gol tak berbuah hasil di depan lapisan pertahanan berbalut pressing ketat ala Juve. Namun, terlepas dari gemilangnya pertahananan Juve, satu hal juga perlu  disorot hingga membuat laga tersebut berakhir kaca mata.

Hal itu adalah soal ketenangan para pemain Barca dalam mengonversi peluang menjadi gol. Setidaknya ada empat peluang terbuka yang seharusnya, untuk ukuran tim sekelas Barca itu bisa dimanfaatkan menjadi gol. Empat peluang ini masing-masing didapatkan oleh Neymar dan Messi.

Untuk Neymar, dua peluang yang lahir malah terbuang percuma karena pemain asal Brasil ini egois melepaskan tembakan. Padahal, ada Suarez yang menunggu di depan gawang. Sementara Messi, mendapat peluang di depan gawang Juve, tembakan first time-nya tak menemui sasaran.

Pertandingan pun harus selesai dengan hasil tak normal. Itu karena untuk pertama kalinya juara Liga Champions dua musim lalu ini tak bisa mencetak gol di kandangnya sendiri dalam tujuh tahun terakhir.