
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-–Kesabaran Alfred Riedl, pelatih timnas Indonesia terhadap Boaz Solossa sudah habis. Riedl mencoret Boaz dari pemusatan latihan (tc) timnas Piala AFF 2010 yang tengah berlangsung di Jakarta. Keputusan ini diambil Riedl setelah melakukan rapat dengan dua asistennya, Wolfgang Pikal dan Widodo Cahyono Putra, Kamis (11/11) malam.
Padahal pada sesi latihan Kamis sore, Riedl menyatakan masih akan memberi toleransi sehari lagi hingga Jumat (12/11). Kemungkinan, sebelum mengeluarkan pencoretan, tim pelatih sudah mencoba menghubungi Boaz, namun yang bersangkutan tidak bisa memastikan akan tiba di Jakarta.
Menurut Deputi Bidang Teknis Badan Tim Nasionak (BTN), Iman Arif, Riedl telah menyampaikan kepada BTN tentang pencoretan Boaz. "Pertimbangannya persiapan AFF sudah semakin dekat dan tidak fair bagi pemain lain yang datang tepat waktu serta mengorbankan kesempatan berkumpul bersama keluarga mereka," kata Iman kepada Republika.
"Usai latihan tadi (Kamis) malam, coach Alfred memutuskan Boaz tidak akan memberikan nilai tambah kepada tim hingga dicoret. Belum diputuskan penggantinya, tapi kemungkinan akan diambil dari lima nama pemain cadangan timnas," tutur Arif.
Boaz adalah pemain pujaan masyarakat Indonesia. Aksinya paling ditunggu saat membela Merah Putih. Skill individu dan akselerasi di atas rata-rata membuat Boaz dipanggil timnas sejak belia hingga sekarang. Boaz pula satu-satunya pemain yang berhasil menjebol gawang Uruguay.
Ia mendapat pujian dari kapten Uruguay David Lugano dan striker Luis Suarez. Ia memimpin daftar top skorer sementara Liga Indonesia musim ini dengan tabungan 11 gol. Sayangnya kehebatan di lapangan diikuti kebiasaan buruk terlambat bergabung hingga menolak dipanggil timnas.
Pada 2007, misalnya, ia sempat dihukum akibat menolak panggilan bergabung dengan timnas U-23 meski akhirnya datang ke Jakarta. Ia menjadi anak emas karena selalu diberikan toleransi bergabung belakangan ketika timnas dipegang Ivan Kolev dan Benny Dolo.
Kini, Riedl menghentikan kebiasaan buruk itu setelah memberikan kelonggaran. Kepada wartawan usai sesi latihan Jumat pagi, Riedl menegaskan kembali komitmennya mengeluarkan Boaz dari timnas. Ia menyebut Boaz tidak memanfaatkan kesempatan yang telah diberikannya. "Saya yang buat keputusan ini, bukan dia yang memilih keluar. Sudah lima hari dia tak datang, saya tak butuh alasan lagi dari dia," tegas Riedl.
Sementara Octovianus Maniani selamat dari pencoretan. Gelandang serang Sriwijaya FC ini tiba tepat waktu, Kamis kemarin. Octo yang sebelumnya dikatakan akan berlatih terpisah dengan rekan-rekannya hingga Selasa (16/11) ternyata sudah berlatih bersama.
Riedl tampaknya sudah mempertimbangkan dengan matang pencoretan Boaz. Tanpa Boaz, Riedl masih punya banyak pilihan. Kehadiran Irfan Bachdim dan Cristian Alfaro Gonzales membuat lini depan timnas kini diisi empat striker. Dua pemain lagi adalah Yongi Ariwibowo dan Bambang Pamungkas.
Walaupun Boaz Skillnya bagus. Tapi dia tidak Disiplin & tidak kompak dgn anggota tim yg lain, jg kurang memiliki rasa Nasionalisme. Buktinya dia pernah menolak dipanggil u/ bergabung & Timnas U-23. Mendingan C. Gonzales, biarpun bukan asli Indonesia & gak terlalu muda tapi semangatnya u/ membela Merah Putih, DUA JEMPOL
Balas@papuans: sebagai pemain sepakbola yang profesional, tentu sangat paham kewajibannya memebela negara bergabung dalam timnasional. PERCUMA jika Boaz yg saya amati memiliki skill luar biasa tapi tidak memiliki rasa cinta tanah air Indonesia, dilapangan tidak pernah mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lebih baik dicoret.
Balaspk pelatih tolong beri kesempatan boaz karna dia memiliki skil and individu yg bagus.mohon dipertimbangkan lg....
Balaspelatih timnas harus punya toleransi sedikitlah...masa anaknya ada sakit mau di paksakan, jadi coba tolong di mengertilah...........
Balaspak pelatih yg baik kalo salah coret ko pasti nyesal,bukan rasa nasionalisme yang akan memenangkan timnas indonesia tetapi kemampuan bermanin bola secara profesional yang akan membawa timnas juara. rasa nasionalisme, kedisiplinan,dan kekompakan adalah unsur pendukung belaka. bayangkan adakah timnas yang mengandalkan ra
Balas