Kamis, 02 Agustus 2012, 03:29 WIB

Kapten Kroasia Itu Menerapkan Ajaran Islam

Rep: erik purnama/ Red: Taufik Rachman
AP/Darko Bandic
  Kapten Timnas Kroasia, Darijo Srna (kiri) saat berebut bola dengan pemain Italia, Thiago Motta (kanan) dalam pertandingan Grup C Piala Eropa 2012 di Poznan, Polandia.
Kapten Timnas Kroasia, Darijo Srna (kiri) saat berebut bola dengan pemain Italia, Thiago Motta (kanan) dalam pertandingan Grup C Piala Eropa 2012 di Poznan, Polandia.

REPUBLIKA.CO.ID,DONETSK – Beberapa hari menjelang pelaksanaan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina pada awal Juni lalu, harian the Guardian menurunkan ulasan khusus tentang perjalanan karier Darijo Srna. Laporan dimulai dengan kegagalan Kroasia yang disingkirkan Tukir di perempat final Piala Eropa 2008.

Ketika itu, Srna tampak tidak bisa menahan tangis lantaran gagal mengantarkan timnya melaju hingga jauh. Penonton yang memadati Stadion Ernst-Happel, Wina, Austria mengenang momen itu sebagai hari terburuk Srna.

Di mata pelatih timnas Kroasia Slaven Bilic, Srna adalah seorang pejuang. Tekadnya di lapangan merupakan refleksi dari karakter orang tuanya. Pemain yang memulai karier profesional bersama Hajduk Split itu mendapat asuhan dari ayahnya yang bernama Uzeir, seorang Muslim Bosnia.

Ayahnya telah melalui kengerian yang tak terbayangkan saat harus menyaksikan genosida yang dilakukan tentara Serbia. Didikan keras dari ayahnya itulah yang membuat karier Srna di lapangan cukup mentereng.

Pecinta bola lebih banyak mengetahui aktivitas pemain Shakhtar Donets itu di lapangan. Namun, hanya sedikit informasi yang terungkap ke publik tentang aktivitas Srna yang gemar berbagi terhadap sesama. Sebagai salah satu pemain sepak bola Muslim sukses, pribadinya benar-benar menerapkan ajaran Islam.

Ia dikenal ringan tangan dalam membantu orang yang kurang beruntung, khususnya anak yatim piatu. Tujuan Srna adalah ingin berbagi dan membahagiakan anak-anak kurang beruntung. Ia tidak ingin, pengalamannya hidup menderita dirasakan orang lain.

Ketika namanya semakin meroket setelah gabung klub Shakhtar Donetsk pada 2003, gaji pertamanya dibelikan mobil Mercedes yang didedikasikannya untuk Uzeir. “Aku seorang yang berutang dan tidak mungkin menggantikan apa yang telah dilakukan ayah untukku.”

Ketika timnya berlaga di final Piala Eropa 2009 di Istanbul, Srna tidak lupa berbagi kebahagiaan. Ia menanggung transportasi dan membelikan 125 tiket pertandingan untuk anggota keluarga dan teman dekatnya itu dari kocek sendiri. “Semua yang aku capai sekarang itu karena peran keluarga. Aku berhutang kepada mereka,” Srna menjelaskan.

Di dekat kediaman di Ibu Kota Ukraina itu, Srna membangun lapangan sepakbola yang sangat representatif agar anak-anak di sekitar apartemen bisa bermain bola. Tujuannya agar terlahir atlet sepak bola di masa depan berkat bantuannya.