Senin, 6 Zulqaidah 1435 / 01 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Perkembangan Sepakbola (V) Mazhab Tiki-taka

Rabu, 20 Juni 2012, 07:00 WIB
Komentar : 1
ap
nathan dyer
nathan dyer

REPUBLIKA.CO.ID,Rodgers adalah sarjana sepak bola. Ia mempelajari semua mazhab sepak bola, dari yang usang sampai terkini. Ia mengikuti perkembangan mazhab sepakbola menyerang, dan berbagai variannya. Ia membaca semua teori sepakbola, dan menciptakan teorinya sendiri.

“Saya selalu ingin mengendalikan permainan, dan bertanggung jawab atas takdir saya sendiri,” ujar Rodgers ketika ditanya mengapa dirinya memiliki tiki-taka. “Jika Anda memiliki kesempatan menguasai bola 79 per sen, cukup alasan bagi Anda untuk memenangkan laga. Jika Anda tidak mampu menguasai bola selama mungkin, Anda hanya memiliki sedikit peluang untuk menang.”

Tiki-taka, masih menurut Rodgers, mengajarkan pemain menguasai bola selama mungkin sebelum melepas umpan ke jantung pertahanan lawan dari berbagai posisi. Mazhab ini memungkinkan pemain depan memperoleh umpan berkualitas, dan menghasilkan gol bermutu tinggi.

“Tiki-taka membutuhkan satu set pemain dengan kualitas tertentu, tapi juga template yang memungkinkan pemain bergerak sepanjang laga,” demikian Rodgers. “Swansea berusaha menjiplak apa yang diperlihatkan Spanyol dan Barcelona.”

Menurut Rodgers, template adalah segalanya bagi organisasi permainan. Ketika menguasai bola, seorang pemain harus tahu pola gerakan, fluiditas, rotasi, dan posisi semua rekan. Saat kehilangan bola, pemain cepat mengorganisir diri untuk bertahan.

Swansea memiliki mekanisme default, yang membuatnya sulit dikalahkan. Mereka juga memiliki cara memainkan tempo permainan, dengan memainkan bola dari kaki ke kaki secara perlahan, seraya melihat celah di pertahanan lawan.

“Tiki-taka adalah permainan tim. Barcelona memainkan tiki-taka, sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengatakan bahwa Lionel Messi adalah pemain individu,” kata Rodgers. “Di Swansea, saya memiliki Nathan Dyer.”

Kepada Sunday Telegraph, Rodgers secara rinci menuturkan strategi bermainnya. Ia membagi lapangan ke dalam delapan zone. Pembagian ini amat penting untuk menyugesti setiap pemain; termasuk penjaga gawang dan dua central defender.

Pemain, menurut Rodgers, harus tahu apa yang harus dilakukan jika menguasai bola pada zona tertentu. Yang membedakan Swansea dari tim lain adalah Rodgers melibatkan pen jaga gawang dalam skema permainan.

Rodgers tidak ingin terpaku pada formasi 4-4-2, 4-3-3, 4-5-1, atau lainnya. Ia lebih suka menggunakan cara berpikir bagaimana bermain dengan konsep zona lapangan yang dikembangkannya.

Reporter : teguh setiawan
Redaktur : M Irwan Ariefyanto
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)((QS ar-Rum: 41))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Inter Milan Gasak Stjarnan
MILAN -- Inter Milan tumbangkan Stjarnan dengan skor teak 6-0 dalam play-off second leg Liga Eropa di Stadion San Siro,  Jumat (29/8). Inter yang...