Senin, 02 Juli 2012, 13:15 WIB

Berusaha Dalami Islam, Inilah Curhat Gelandang Timnas Prancis

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Endah Hapsari
Hatem Ben Arfa
Hatem Ben Arfa

REPUBLIKA.CO.ID, NEWCASTLE -- Perjalanan spiritual Hatem Ben Arfa sangat berliku dan dinamis. Dilahirkan dan dibesarkan di Marseille oleh orang, gelandang serang timnas Prancis itu mengalami berbagai cobaan dalam mengenal Islam.

Dilansir laman MirrorFootball, meski menganut Islam sejak kecil, namun ketika remaja ia sempat berusaha mencari identitas keislaman dengan berguru kepada syeikh yang mengajarinya Islam garis keras. Ia diajarkan banyak larangan dan terputus dari dunia maya lantaran diajak mempelajari Islam secara sempit. Ben Arfa sempat ke Maroko untuk mendalami agama. Hal itu terjadi lantaran hubungannya dengan sang ayah memburuk.

Ia tidak punya pegangan untuk menenteramkan hatinya hingga harus bergabung dengan kelompok Muslim yang menurutnya kurang sesuai dengan pandangannya. "Saya dipisahkan dari dunia nyata. Ego saya yang membuat saya lepas dari ajaran mereka," kata Ben Arfa.

Banyak ajaran Islam yang menurutnya kurang sesuai, namun diindoktrinasikan kepadanya agar untuk wajib dilakukannya sehari-hari. "Saya disuruh mencium kaki guru spiritual saya. Idealisma saya bertanya bahwa saya ternyata semakin jauh dari nilai spiritualisme yang saya cari."

Setelah banyak membaca buku sufi yang membuatnya hampir terjerumus dalam ajaran Islam fanatik sempit, ia menemukan dunia Islam sesuai versinya. Hal itu didapatkannya dari pencariannya yang akhirnya berujung pada komitmen untuk menjadi Islam moderat.

Ben Arfa memilih menjadi seorang Muslim sebagaimana umumnya, dan tidak mau mengikuti kelompok ekstrem yang enggan bersentuhan dengan masyarakat. Satu yang membanggakan, ia mengaku belum menjadi penganut Islam yang taat lantaran belum bisa shalat lima waktu setiap saat dan puasa Ramadhan secara penuh, serta menunaikan ibadah ritual dan sosial lainnya.

Namun Ben Arfa berjanji ingin suatu menjadi penganut Islam yang bisa lebih baik daripada sekarang, tanpa melupakan identitas sebagai pemuda masa kini. "Saya seorang Muslim yang moderat. Saya tidak makan daging babi, tapi aku masih gemar mengejar dan mencintai gadis," ujarnya.