Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Sepuluh Persen Kesenian Jabar Terancam Punah

Senin, 02 April 2012, 01:03 WIB
Komentar : 0
screenshoot/KPO
Wayang golek

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -— Sekitar sepuluh persen kesenian di Jabar terancam punah. Kondisi ini disebabkan minimnya frekuensi pergelaran dan kurangnya regenerasi. Dari data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, jumlah kesenian tradisional terutama seni pertunjukan mencapai sekitar 243 jenis.

‘’Kesenian yang hampir punah harus diangkat kembali,’’ ujar Kepala Disparbud Jabar, Nunung Sobari, di sela-sela acara Kirab Seni Budaya Jabar di Kota Sukabumi, akhir pekan lalu. Jenis kesenian yang hampir punah antara lain rumpun seni tutur seperti Pantun Buhun, Pantun Beton, Pantun Bogor, dan Goong Renteng. Kesenian lainnya yang terancam, misalnya seni teater dan sandiwara rakyat reog.

Menurut Nunung, untuk membangkitkan kesenian di Jabar diperlukan program revitalisasi dan pewarisan kepada generasi muda. Pada 2011 lalu contohnya, pemerintah berupaya merevitalisasi sebanyak 11 kesenian tradisional salah satunya Seni Uyeg yang berasal dari Kota Sukabumi. Sementara pada 2012 ini, jumlah kesenian yang direvitalisasi mencapai 5 jenis kesenian dan 13 jenis kesenian yang masuk program pewarisan.

Selain menggelar kirab seni budaya, Pemprov Jabar juga menyelenggarakan pergelaran Wayang Golek di Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi, Sabtu malam. Pementasan Wayang Golek dengan dalang Asep Sunandar Sunarya ini dihadiri oleh Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan dan disaksikan ribuan warga Kota/Kabupaten Sukabumi.

Reporter : Riga Nurul Iman
Redaktur : Dewi Mardiani
1.199 reads
Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW Islam manakah yang paling baik? Rasulullah bersabda: Memberikan makanan, mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal. (HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda