Eskpresi Wajah Indonesia di Kanvas Orang Jerman

Rabu, 08 Pebruari 2012, 20:43 WIB
hexartpublishing.com
 Eskpresi Wajah Indonesia di Kanvas Orang Jerman
Lukisan Rudolf Schmidt (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Pelukis asal Jerman Rudolf Schmidt membingkai beragam ekspresi wajah Indonesia dalam 35 karya lukis. Seluruh lukisan tersebut dipamerkan melalui pameran "Voice of Traquility" di Galeri Seni "House of Sampoerna/HoS" Surabaya, Jawa Timur pada 9 Februari hingga 4 Maret 2012.

Rudolf menjelaskan, lukisan yang dihasilkan dengan berkiblat pada karakter idealisnya tersebut mayoritas mendeskripsikan keindahan alam, budaya, dan aktivitasnya saat ditemuinya di penjuru Nusantara.

"Inspirasi seluruh lukisan kami memang tidak membingkai pesona etnis tertentu di Indonesia," ujarnya dalam jumpa pers pameran "Voice of Traquility" di Surabaya, Rabu (8/2).

Apalagi, kata dia, dalam memvisualisasikan objek ia memiliki beragam sudut pandang sehingga dapat menghasilkan beberapa karya dengan konsep berpanel unik.

"Selama berada di Indonesia, kami tertarik mempelajari refleksi cahaya pada subjek lukisan dan tertuang di atas kanvas. Dengan cara ini, kami mampu mengenalkan potret keindahan alam dan masyarakat seperti di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali," katanya.

Terkait lukisan bernuansa alam, tambah dia, hal tersebut tampak dari lukisan berjudul Gunung Batur dan Pura Besakih yang berlokasi di Bali.

"Saat membingkainya, kami lebih dulu melukis gapura menuju Pura Besakih, area halaman pura, dan bangunan pura itu. Untuk melukis secara utuh, kami menghabiskan tiga kanvas berbeda," katanya.

Selain itu, kata dia, ada empat kanvas di antara karyanya berjudul Banjarmasin yang menggambarkan keindahan dan kehidupan yang diperolehnya dari sebuah sungai besar di Kalimantan.

"Dari empat kanvas itu, masyarakat penggemar karya seni lukis dapat melihat berbagai sudut aliran sungai yang terangkum sesuai sudut pandang kami," lanjut Rudolf.

Ia meyakini, karyanya tersebut sekaligus menjadi cermin bagaimana keadaan Indonesia pada umumnya di mana dideskripsikan penuh kedamaian dan ketenangan. "Contoh, pemandangan indah yang membentang luas tampak menyatu dan menciptakan keselarasan hidup masyarakat Indonesia baik dengan alam maupun sesamanya," pungkas dia.

Redaktur: Ramdhan Muhaimin
Sumber: Antara
Aku mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa aku sakit. Beliau bersabda: Lakukanlah tawaf di belakang orang-orang dengan naik kendaraan. Kemudian aku tawaf dan saat itu Rasulullah saw. sedang salat di samping Baitullah dengan membaca surat At-Thur. (HR Muslim)
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...