Jumat , 02 August 2013, 19:22 WIB

Menjadi Agen Muslim di Benua Biru

Red: Fernan Rahadi
Twitter
Novel 'Berjalan di Atas Cahaya'
Novel 'Berjalan di Atas Cahaya'

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Setiawan Samsu Rijal

'Berjalan di Atas Cahaya' adalah novel non fiksi lanjutan dari Best Seller novel non fiksi Hanum sebelumnya '99 Cahaya di Langit Eropa'. Berbeda dengan buku sebelumnya yang lebih banyak menceritakan petualangan Hanum dalam mencari tanda-tanda ketakjuban Eropa pada Peradaban Islam. Pada buku ini Hanum dan beberapa penulis kontributor seperti Wardatul Ula dan Tutie Amaliah menceritakan kehidupan mereka yang berusaha menjadi dan mencari agen Muslim yang baik di dataran Benua Biru.

Bermula dari tugas Hanum sebagai seorang reporter yang ingin meliput kehidupan Ramadhan orang–orang Islam di Eropa, Allah mempermudah jalan yang ditempuh Hanum. Di Eropa Hanum dipertemukan dengan agen–agen Muslim seperti Bunda Ikoy, muslimah asli Aceh yang menjadi pembuat jam tangan di Negeri Jam Tangan (Swiss) dan menikah dengan Marco Kohler yang telah menjadi mualaf dan berganti nama Abdul Jabbar. Salah satu jasa Bunda Ikoy terhadap Islam di Eropa adalah keberhasilannya  mengadakan kuburan muslimin di Swiss.

Nur Dann, muslimah usia 17 tahun keturunan Turki yang lahir dan besar di Austria, mencoba berdakwah dengan cara menyanyi lagu bergenre Rap. Keluarga Markus Klinker adalah mualaf yang kini menjadi imam di Desa Neerach, Swiss. Ia menikah dengan Siti Zubaidah Muslimah dari Singapura, mempunyai seorang anak usia 5 tahun bernama Aisha Maria.

Mama Heidi dan Reinhard Kramar, bule Austria (non-muslim) yang menyenangi orang Indonesia karena keramahannya, memberikan tumpangan tempat tinggal pada Hanum dan suaminya secara gratis bahkan ikut ‘berpuasa’ dengan menahan lapar mulai makan pagi hingga Hanum dan suami berbuka.

Berbeda dengan Hanum yang menjadi reporter. Kisah Tutie Amaliah dalam menjadi dan mencari agen Muslim bermula saat ia berangkat ke Wina mengikuti suaminya yang telah lebih dahulu berada di sana. Sejak awal keberangkatannya di pesawat ia telah bertemu dengan Layla, perempuan bercadar asal timur tengah yang selalu mempermudah Tutie dalam penerbangannya dari tanah air hingga Wina.

Kemudian ia bertemu Stefania, perempuan asal Italia, yang hidup dan bekerja di Wina dan tentunya tidak berjilbab. Tak dinyana, ia seorang Muslimah. Di perantauan, Tutie juga bertemu dengan orang -orang non-muslim Eropa yang tidak percaya dengan stigma negativf yang menempatkan Islam sebagai agama teroris.

Sylvia, perempuan asli Spanyol yang memainkan pentas silat Harimau asal Bukittinggi di Wina, tidak pernah percaya bahwa Islam agama keras dan muslim adalah teroris karena ia pernah berguru pencak silat Harimau langsung kepada seorang Datuk di Bukittinggi yang kuat keislamannya.

Kisah Tutie ditutup dengan keberhasilannya menjadi lulusan terbaik di Danube Krems University. Atas prestasi ini ia berhasil membalikkan fakta terhadap teman-temannya di kampus yang selama ini mengucilkannya hanya karena Tutie beragama Islam. Satu lagi, prestasi Tutie yakni berhasil membangun Masjid As-Salam. Masjid pertama di Austria dan ketiga di Eropa. D masjid ini beberapa mualaf telah melafalkan dua kalimat syahadat.

Lain Tutie dan Hanum, lain pula Wardatul Ula. Ia baru saja mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas di Turki. Para siswa yang ingin menjadi mahasiswa di Turki diwajibkan kursus bahasa Turki terlebih dahulu pada sebuah asrama, dan di asrama inilah Wardatul Ula memulai dakwahnya. Ia berhasil membuat kawan-kawannya yang bukan WNI seperti Dzelila, Elma, Belma dan Naida menjadi berjilbab.

Kisah tiga agen Muslimah diatas adalah pelajaran berharga bagi kita. Betapa Islam telah menyinari hati manusia sehingga ia yang telah tersinari mampu berpretasi lebih. Betapa perjalanan kita bukan sekedar perjalanan dan perantauan kita bukan sekedar perantauan, melainkan kita harus memiliki misi khusus dalam setiap perjalanan hidup dan perantauan kemana pun kita pergi yaitu menjadi agen muslim yang baik. Semoga dengan hadirnya diri kita pada suatu tempat maka akan menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Amin. Happy reading :)


Judul : Berjalan di Atas Cahaya
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dkk
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2013
Tebal : 210 Halaman


Biodata Setiawan Samsu Rijal
Pekerjaan : Mahasiswa Strata II Jurusan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM
Contact Person : 085246635847
FB : Seftiawan S. Rijal
Twitter : @pakwaaw