Selasa, 6 Jumadil Awwal 1439 / 23 Januari 2018

Selasa, 6 Jumadil Awwal 1439 / 23 Januari 2018

Serunya Musik Pinggir Kali di Kawis Krisant

Sabtu 23 September 2017 15:43 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Yudha Manggala P Putra

Tulisan di kampung warna warni Lombok.

Tulisan di kampung warna warni Lombok.

Foto: andyhardiyanti.com

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu (Kawis Krisant) di Lingkungan Banjar Selaparang, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar Environment City Tour Festival (ECTF) selama lima hari sejak Sabtu (23/9) hingga Rabu (27/9).

Pelaksanaan ECTF menjadi gong penanda telah dibukanya Kawis Krisant, setelah persiapan yang dilakukan sejak Juni lalu. Kawis Krisant menjadi salah satu destinasi anyar di Lombok, yang menawarkan nuansa kampung warna-warni di bantaran Sungai Jangkuk.

Yang menarik, seluruh ornamen yang melengkapi keindahan kampung berasal dari sampah. Kawis Krisant menjadi contoh kampung yang mampu bertransformasi dari yang sebelumnya kumuh menjadi cantik dan layak dikunjungi wisatawan.

Penggagas Kawis Krisant Aisyah Odist mengatakan, ajang ECTF akan berlangsung setiap hari dalam lima hari ke depan. Sejumlah pertunjukan musik, seperti perkusi, musik etnik, hangdrum, hingga akustik, akan menyapa para pengunjung. "Serunya, pertunjukan ini digelar tepat di pinggir kali," ucap Odist saat ditemui Republika.co.id di Kawis Krisant, Mataram, NTB, Sabtu (23/9).

Odist menjelaskan, Kawis Krisant tidak semata kampung dengan cat warna-warni di pinggir kali. Di dalam kampung, tepatnya yang ada di sekitar bantaran kali, terdapat dua area taman yang diberi nama Taman Pintar dan Panggung Syarif. Di kedua arena ini, pertunjukan seni tari dan musik akan tersaji.

Tidak hanya itu, di Kawis Krisant, pengunjung bisa belajar tentang pengolahan sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Odist mengatakan, pada 30 tahun lalu kondisi sungai Jangkuk begitu bersih, berbanding terbaik pada kondisi saat ini. "Saya lahir di sini, dan merasa miris. Dulu, 30 tahun lalu kita bisa mandi di Kali, sekarang berdiri (di Kali) saja jijik," cerita Odist.

Perempuan kelahiran 17 Juni 1976 berharap keberadaan Kawis Krisant mampu menambah khazanah destinasi yang ada di Pulau Lombok, terutama Kota Mataram. "Kan destinasi wisata di Mataram masih kurang, semoga ini mampu menarik minat wisatawan," ungkap Odist.

Meski baru secara resmi dibuka pada hari ini, Kawis Krisant rupanya sudah kerap dikunjungi wisatawan. Pada Agustus saja, 172 wisatawan telah menyambangi tempat ini. Kawis Krisant telah menekan kerja sama dengan tiga travel agent di Korea Selatan. Rencananya, Oktober nanti, sekitar 40 turis dari Korea Selatan juga siap menengok keunikan kampung ini. Odist mengungkapkan, banyak wisatawan yang datang ke Lombok tidak semata-mata ingin berlibur, melainkan juga belajar akan pengelolaan lingkungan sekitar termasuk pengolahan sampah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES