Komponis Muda Indonesia Raih Penghargaan Internasional
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Komponis muda Indonesia, Matius Shan Boone, berhasil meraih penghargaan 'Karya Terbaik' dalam Festival Komponis Muda Asia Tenggara.
Penghargaan itu diperolehnya seusai mementaskan salah satu karya musik kontemporernya di Teater Tertutup Taman Budaya, Bandung, Sabtu (8/10) malam.
Selain Matius, ikut berkompetisi dalam acara tersebut sembilan komponis muda dari Asia Tenggara lainnya. Malam itu, masing-masing komponis mementaskan satu karya terbaiknya di teater itu. "Dari sepuluh karya tersebut, akan dipilih tiga karya terbaik," ujar pemandu acara sekaligus Ketua Program, Dieter Mack, kepada hadirin.
Mack mengatakan, beberapa aspek yang dinilai dewan juri dalam menentukan karya terbaik itu di antaranya adalah orisinalitas karya dan keselarasan antara suara gamelan dan suara instrumen musik Barat.
Matius mendapat penghargaan atas karyanya berjudul 'Mukena'. Mukena adalah atribut ibadah yang lazim digunakan oleh Muslimah di Indonesia. Namun, dalam karyanya tersebut, kata dia, mukena melambangkan sesuatu yang tersembunyi dan misterius.
Menurut alumni Universitas Pelita Harapan Jakarta itu, ada kualitas mistik tentang kebenaran yang tekandung di dalam sebuah mukena. Pertanyaannya, sambung dia, mampukah kita mengungkap kebenaran itu? Dalam karyanya, Matius mencoba menjelaskan teka-teki tersebut; pergumulan batin dia antara keinginan untuk mengungkap misteri itu dan keinginan untuk tetap tinggal di dunia yang penuh teka-teki.
Menurut pengakuan pemuda umur 25 tahun ini, ia membutuhkan waktu satu bulan untuk menghasilkan karya yang 'hanya' berdurasi lima menit itu.
Dua komponis muda lainnya yang juga mendapatkan penghargaan serupa adalah Danilo Endangan Imson dan Alexander JL Villanueva. Keduanya berasal dari Filipina.
Dalam karyanya yang berjudul 'Bulung-Bulungan', Imson menampilkan suasana musik yang ekologis. "Bulung-Bulungan menggambarkan sirkulasi alam yang terdapat dalam tradisi musik Asia Tenggara," tulis dia dalam buklet acara festival. Sementara Villanueva mencoba menggambarkan kenangan seorang anak tentang sosok seorang bapak dalam karyanya berjudul 'Threnody IV'.
Selain mendapatkan piagam penghargaan, ketiga komponis terbaik itu juga menerima hadiah uang tunai senilai 2.000 euro. Kesepuluh karya para komponis muda itu dimainkan oleh Ensemble Mosaik dari Berlin Jerman, berkolaborasi dengan Ensemble Fatahillah, salah satu grup gamelan Indonesia. Pada dua pertunjukan sebelumnya, kedua grup musik itu tampil sendiri-sendiri. Namun, kali ini mereka tampil berbarengan.
Festival Komponis Muda Asia Tenggara diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerjasama dengan Goethe Institut. Menurut rencana, acara yang sama akan digelar kembali di Filipina dua tahun mendatang.
1632 reads




