Saturday, 28 Safar 1436 / 20 December 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Mencipta Lagu Religi Lebih Menentramkan

Friday, 14 August 2009, 18:55 WIB
Komentar : 0
Lagu ini merupakan hasil perenungan atas kondisi saya sendiri.

Fajar Ahadi sempat tak percaya kalau dirinya keluar sebagai salah satu pemenang Lomba Cipta Lagu dan Lirik Muslim (LCLM) 2009 yang diadakan harian Republika bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia tbk (Telkom). Sebab dirinya termasuk baru dalam mencipta lagu-lagu bernuansa religi. Lagu yang diciptakan berjudul Terima Kasih.

‘’Yang jelas suprise deh. Soalnya kan saya masih baru dalam menciptakan lagu-lagu bernuansa religi. Jadi tidak menyangka juga kalau saya bisa menjadi salah satu juara di LCLM 2009,’’ ujarnya kepada Republika, kemarin.

Bagi Fajar, menciptakan lagu memang bukan hal yang asing lagi. Sebab sudah sejak di bangku SMA dirinya aktif membikin lagu. Sampai saat ini sudah sekitar 50 lagu yang berhasil diciptakannya. Namun dari jumlah sebanyak itu, hanya sekitar lima lagu yang bernuansa religi. Selebihnya adalah lagu tentang cinta universal antar sesama manusia.

Baginya, ada perbedaan yang dirasakannya ketika menciptakan lagu biasa dibanding yang bernuansa religi. Membuat lagu religi membutuhkan perenungan yang lebih dalam. Selain itu insipirasi atau ilham tidak bisa datang begitu saja. Proses pembuatannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama.

‘’Namun ketika lagu bernuansa religi sudah selesai saya bikin, rasanya lebih menentramkan. Kalau saya bikin lagu tentang cinta sesama manusia saja rasanya sudah membahagiakan. Apalagi ketika membuat lagu tentang kecintaan kita kepada Tuhan, maka perasaannya jauh lebih dalam,” imbuh Fajar.

Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menuturkan, lagu Terimakasih yang menjadi salah satu juara LCLM 2009 merupakan hasil dari proses perenungannya yang mendalam. Lagu ini berkisah tentang ungkapan terima kasih seorang hamba kepada Tuhannya atas berbagai nikmat dan karunia yang telah diberikan.

Proses penciptaan lagu ini membutuhkan waktu satu hari. Pagi hari dirinya menciptakan liriknya. Dan malam hari dirinya membuat aransemen musik sekaligus merekamnya.

‘’Lagu ini merupakan hasil perenungan atas kondisi saya sendiri. Saya merasa selama ini banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah. Saya sangat bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan tersebut. Ungkapan syukur dan terima kasih inilah yang akhirnya saya tuangkan ke dalam lagu ini,’’ ujar pria kelahiran Yogyakarta 7 Mei 1986 ini.

Menciptakan lagu religi memang tidak mudah. Tapi bagi Fajar, itu justru menjadi sebuah tantangan. Karena itu, dirinya bertekad untuk terus menciptakan lagu-lagu bernuansa religi di masa-masa mendatang. Ini tentu saja dengan tidak meninggalkan lagu-lagu nonreligi yang selama ini sudah digelutinya.

Dirinya memang sudah memantapkan niat dan keinginan untuk terus menekuni jalur musik. Baginya berkarir di musik lebih menyenangkan dibandingkan kerja kantoran. ‘’Saya lebih enjoy bermain musik dibandingkan jadi karyawan atau pegawai kantoran. Sejauh ini keluarga mendukung keputusan ini meskipun sebetulnya tidak ada darah seni di keluarga saya,’’ papar gitaris grup musik Seven Am ini.

Info dari teman

Perihal keikusertaannya dalam ajang LCLM 2009, Fajar menuturkan, itu berawal dari informasi teman-temannya anggota nasyid di kampus. Dirinya mengaku sering kontak dan berbagi informasi dengan teman-teman nasyid tersebut.

Suatu hari, mereka menginformasikan ada lomba cipta lagu dan lirik muslim yang diselenggarakan Republika. Tertarik dengan informasi itu, Fajar lalu mencari data lengkap tentang LCLM 2009 dari berbagai sumber, termasuk membuka website Republika. Dari informasi yang diperolehnya, dirinya akhirnya memutuskan untuk ikut serta.

‘’Tidak ada persiapan khusus mengikuti LCLM ini. Yang jelas saya hanya butuh waktu satu hari untuk membuat lagu Terima Kasih. Dan sekali lagi, saya tidak menduga kalau bisa keluar sebagai salah satu juaranya. Sebab selama ini saya memang jarang membuat lagu-lagu religi,’’ tutur Fajar.

Selain lagu terima kasih, sebenarnya ada dua lagu lainnya yang juga dikirim ke LCLM 2009. Yaitu berjudul Taubat dan Doaku. Dibandingkan dua lagu ini, Terima Kasih lebih mudah penggarapannya. Sebab liriknya lebih rileks. Sedangkan dua lagu lainnya liriknya lebih berat isinya.

Tentang lagu religi ciptannya ini, Fajar mengaku tidak langsung memperdengarkan kepada rekan-rekan satu bandnya. Sebab saat lagu ini selesai dibikin, personil yang lain lagi memiliki kesibukan yang cukup padat. Sebagian dari mereka ada yang sudah bekerja, sedangkan sebagian lainnya sedang menempuh kuliah tingkat akhir.

‘’Mereka terkejut juga lagu ciptaan saya bisa menjadi juara. Namun mereka men-support saya sepenuhnya,’’ jelasnya. Setelah sukses mencipta lagu religi, ada keinginan juga untuk membuat lagu religi khusus bagi grup bandnya. Rencana ini sedang dimatangkan. Sebab grup band yang dirintis bersama sejumlah teman ini belum sampai ke dapur rekaman. Selama ini mereka baru sampai pada tahap membuat demo lagu untuk dipromosikan ke produser.

‘’Kemungkinan untuk membawakan lagu-lagu religi sangat terbuka. Dan teman-teman juga tidak keberatan. Jadi ke depan saya ingin menciptakan lagu religi khusus yang bisa dibawakan oleh grup band Seven Am,’’ demikian kata Fajar.adv

Terima Kasih

Terang mentari sinariku dengan
Hangatnya memeluk tubuhku
Menyadarkan aku akan
kasih sayang Mu
Dan walau terang tlah berganti malam
namun hangat Mu slalu sertai
Ku berjalan menuju bahagia

Reff:
Terimakasi atas semua cinta Mu
Bahagiaku selalu bersama Mu
Kuharapkan Engkau slalu disisiku
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS.Al-Baqarah [2]:48)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gerakan Kelompok Ekstrimis, Din: Lawan dengan Ideologi
JAKARTA -- Menghadapi kelompok ekstrimis tak cukup dengan saling mengecam. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsudin menjelaskan harus ada tanding ideologi. Ia...