Saturday, 8 Jumadil Akhir 1439 / 24 February 2018

Saturday, 8 Jumadil Akhir 1439 / 24 February 2018

Kemendikbud: 67 Persen Bioskop Ada di Pulau Jawa

Rabu 08 November 2017 01:58 WIB

Red: Gita Amanda

Ilustrasi Gedung Bioskop

Ilustrasi Gedung Bioskop

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan 67 persen bioskop berada di Pulau Jawa. Sementara itu ada lima provinsi di Indonesia yang sama sekali belum memiliki bioskop.

"Sebanyak 67 persen bioskop masih di Pulau Jawa. Data kami menyebutkan ada lima provinsi yang belum memiliki bioskop," ujar Kepala Pusat Pengembangan Film Kemendikbud, Maman Wijaya, dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (7/11) lalu.

Padahal jumlah bioskop di Tanah Air mencapai 256 dengan 1.200 layar. Sedikitnya, jumlah bioskop di luar Jawa mempunyai kaitan dengan izin peredaran film.

Maman mengatakan izin peredaran film tersebut terbilang susah dan tidak ada jaminan. Hal itu mengakibatkan para investor urung menanamkan investasi di gedung bioskop di luar Jawa.

"Ke depannya, kami akan menyiapkan peraturan mengenai jaminan peredaran film. Sehingga nantinya akan lebih banyak lagi bioskop," kata Maman.

Khusus untuk daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), Maman mengatakan pihaknya akan menyiapkan peralatan pemutaran tanpa mobil, sehingga film dapat diputar tanpa harus membawa mobil. Tahun ini, rencananya akan disiapkan di 20 daerah 3T di Indonesia.

Perwakilan dari Badan Perfilman Indonesia (BPI), Agung Santausa, mengatakan jumlah penonton film di biskop pada 2015 sebanyak 133 ribu orang, pada 2016 sebanyak 274 ribu dan pada semester awal 2017 sebanyak 282 ribu penonton. "Ini menjadi tonggak kebangkitan perfilman Indonesia," kata Agung.

Namun meningkatnya jumlah penonton tersebut tidak diimbangi dengan bioskop yang sebagian besar baru ada di Pulau Jawa. Agung mengatakan bahwa hal itu menjadi tugas bersama.

Kemendikbud menyelenggarakan Festival Film Indonesia, yang diselenggarakan di Manado pada 11 November.

Agung menjelaskan bahwa penyelenggaraan FFI 2017 dilakukan dan diprakarsai sebagai kegiatan sosial budaya yang berfungsi sebagai tolok ukur prestasi, apresiasi dan promosi bagi film Indonesia.

"Ini akan menjadi semacam barometer dalam berkarya dan menjadi pembahasan tersendiri bagi insan perfilman," kata Agung.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES