Ahad , 24 September 2017, 14:21 WIB

Christine Hakim Sarankan Sensor Ulang Film G 30 S PKI

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Esthi Maharani
Republika/ Wihdan
Christine Hakim
Christine Hakim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris senior Indonesia Christine Hakim menganggap tidak masalah jika film 1984 Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI akan diputar kembali. Namun, ia menyarankan ada sensor ulang untuk film 1984 arahan mendiang sutradara Arifin C Noer itu.

"Setelah sekian tahun kalau mau diputar kembali harus ada sensor ulang, dan itu sah-sah saja kalau memang diputarnya kembali film ini dianggap bisa meresahkan masyarakat. Saya pikir cukup bijak untuk dilakukan," tuturnya.

Seniman 60 tahun kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, itu menyambut baik ide Presiden RI Joko Widodo untuk mereproduksi film berlatar sejarah tersebut. Namun, Christine berharap film versi baru akan berpegang pada data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut dia, sebagian besar penikmat film Indonesia pun tahu sisi kontroversial dari dokudrama yang telah ada tersebut. Ada banyak fakta sejarah yang belum terungkap serta anggapan bahwa film digunakan sebagai alat propaganda pemerintah yang kala itu berkuasa.

Penerima Piala Citra untuk perannya dalam film Tjoet Nja' Dhien pada 1988 itu menganggap pemerintah yang saat ini menjabat punya hak untuk meninjau hal tersebut. Aksi menyensor kembali maupun pembuktian jika ada penyimpangan sejarah bisa saja dilakukan.

Ia juga berharap pemutaran maupun produksi ulang film tidak dipergunakan untuk kepentingan politik tertentu. Termasuk, rencana menggelar nonton bareng alias nobar film G 30 S PKI yang sudah disampaikan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

"Beliau posisinya sebagai eksekutif menonton sah-sah saja, asal tidak ada unsur-unsur politik di balik itu," kata Christine yang pernah membintangi film Jamila Dan Sang Presiden pada 2009.

TAG

Berita Terkait