Sabtu , 18 March 2017, 19:55 WIB

Beauty and the Beast Tayangkan Gay, Orang Tua Diminta Bersikap Ini

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Nur Aini
Denofgeek
Beauty and the Beast.
Beauty and the Beast.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Beauty and the Beast yang baru dirilis, Jumat (17/3) di bioskop Indonesia menuai kontroversi. Ini karena terdapat beberapa adegan menjurus ke perilaku gay dalam film yang disutradarai oleh Bill Condon itu. Film ini juga menjadi kontroversi di Malaysia.

Psikolog Anak, Ayoe Sutomo menilai meskipun adegan gay dalam film tersebut hanya sepintas tetapi kontroversi di beberapa negara merupakan sebuah peringatan. Hal itu khususnya kepada penonton anak-anak.

“Ini artinya ada sesuatu yang umumnya tidak sesuai yang harusnya dilihat oleh anak-anak, tahapan perkembangan anak-anak ditujukan untuk melihat film tersebut karena ada kecurigaan,” ujar Ayoe kepada Republika.co.id, Sabtu (18/3).

Menurut Ayoe, orang tua harus bersikap bijaksana kepada anaknya. Orang tua perlu memastikan terlebih dahulu apakah film tersebut pantas ditonton. Misalnya dengan menonton tanpa mengikutsertakan anaknya.

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan oleh orang tua yaitu mendampingi anaknya dan siap memberikan jawaban yang tepat dan bijaksana, terutama kepada anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Orang tua harus mampu menuntaskan keingintahuan anak ketika ada sebuah pertanyaan.

Ayoe menambahkan, orang tua juga tidak perlu menjelaskan apapun jika saat menonton tidak ada pertanyaan dari anaknya terkait adegan yang menjurus ke gay. “Kalau tidak ada pertanyaan tidak perlu menjelaskan apa-apa karena kadang orang tua ketakutan padahal anaknya tidak mengerti apa-apa juga. Kalau sudah kayak gitu bersikap seperti pendamping saja,” kata Ayoe.

Untuk diketahui, meski tidak menampilkan adegan vulgar antara dua pria, Beauty and the Beast ada indikasi mengandung adegan yang menampilkan interaksi dua pria yang tidka sesuai. Misalnya pada banyak adegan berdua, cara salah satu tokoh memandang tokoh lainnya sangat menyiratkan perasaan suka.

Saat berkuda, mengobrol, berkelakar bahkan ketika bernyanyi sambil menari ada tatapan memuja. Selain itu ada juga beberapa dialog yang terlalu menjurus. Contohnya lewat pujian atau ketidaksukaan ketika ada gadis-gadis desa yang menggemari pujaan hatinya.