Senin , 09 May 2016, 16:00 WIB

Sejarah, Film, dan Chelsea Islan

Red:

Chelsea Islan punya cara sendiri untuk berjuang dan mengabdi pada negara. Bukan dengan cara berperang di medan laga, melainkan dia memilih untuk berakting maksimal, terutama untuk film-film berlatar sejarah.

Setelah beraksi dalam film Di Balik 98 dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto, kali ini dia terlibat dalam film 3 Srikandi. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang diangkat dari cerita perjuangan tiga perempuan bernama Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardani meraih medali pertama dalam Olimpiade Musim Panas 1988. "Saya suka banget film yang mengangkat ada sejarahnya, pasti kalau ditawari film sejarah suka banget," kata Chelsea.

Chelsea yang berperan sebagai Lilies ini mengaku menaruh banyak harapan pada film 3 Srikandi tersebut. "Dari film ini, aku jadi bisa memperkenalkan tentang panahan pada anak muda dan seumuran aku karena perjuangan mereka dibangun saat masih seumuran aku," katanya.

Lewat film ini, Chelsea seolah diajak untuk mengingatkan kembali perjuangan para pahlawan bangsa yang mungkin saja sudah terlupa. Ini menjadi cara Chelsea membantu mengembalikan ingatan atau bahkan mengenalkan sejarah kehebatan olahraga Indonesia yang justru sangat jarang dikenal oleh masyarakat.

Untuk menggali peran yang berkaitan langsung dengan sejarah, Chelsea pun dituntut juga membuka kembali lembar-lembar masa lalu Indonesia. Bahkan, dia harus kembali ke 1980-an meski saat itu dia pun belum lahir. Dengan terlibat dalam film sejarah, tak ayal perempuan bertubuh mungil ini harus mempelajari cerita kejayaan bangsa pada masa lalu.

''Untuk film ini, aku baca lagi sejarah Olimpiade 1988 di Seoul, Korea, terus perjuangan mereka di Indonesia bagaimana dan seberapa mereka dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ternyata, pada masa itu, semua orang mengenal sosok dan menghargai mereka," kata pemeran utama film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar.

Malah, kata Chelsea, tokoh-tokoh yang terlibat, termasuk pelatih trio Srikandi, Donald Pandiangan yang mendapat julukan Robin Hood Indonesia, itu sangat dikenal oleh semua orang. Maka, dia pun menyesalkan sebab sekarang banyak yang telah melupakan sejarah kehebatan Indonesia. Tidak banyak yang tahu jika mereka pernah ada dan mengharumkan nama Indonesia di depan negara-negara lain yang sudah jauh lebih maju dari Indonesia dalam bidang olahraga.

Belajar memanah

Selain belajar sejarah, perempuan berusia 20 tahun ini tentu saja diwajibkan untuk menguasai teknik-teknik dasar memanah. Kesan profesional harus bisa ditunjukkan meski Chelsea mengaku hanya belajar tiga bulan untuk mendalami panahan. Melalui latihan fisik dan mental, tubuh Chelsea terbiasa dengan setiap komponen panahan. Dia pun harus merasakan persiapan produksi film yang sangat sulit dan menguji stamina. Bahkan, dia sempat ragu apakah mampu meneruskan perannya tersebut atau memilih mundur saja lantaran beratnya tekanan fisik yang diterimanya.

Namun, ketika melihat kisah perjuangan tokoh yang diperankannya, Chelsea tersadar jika usaha yang sudah dilakukan belum ada apa-apanya. Hingga akhirnya, lewat kisah tokoh Lilies, Chelsea kembali bangkit dan menyatakan diri mampu dan terbukti dia bisa berperan sebagai salah satu tokoh Trio Srikandi yang mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade. Untuk menjiwai perannya, pemeran Diana di film Di Balik 98 ini mesti latihan dua kali seminggu selama tiga bulan di Gelora Bung Karno Jakarta dan melakukan pelatihan pengambilan gambar latihan fisik lainnya di Ujung Genteng, Sukabumi.

Salah satu nominator Piala Maya 2014 ini pun harus benar-benar melatih fisik, belajar panahan, lari, dan melakukan aktivitas lain yang bisa mendukung perannya sebagai atlet sungguhan. Meski lelah, Chelsea sadar jika dalam film tersebut, dia adalah seorang atlet, bukan sekadar seorang aktor yang berperan sebagai atlet.

Dan, tekadnya pun bulat. "Saya akan menghadirkan tokoh nyata. Jadi, harus konsisten dan memiliki dedikasi tinggi pada sebuah peran dan film ini sendiri.''

Bagaimanakah aksi Chelsea ketika menjadi seorang perempuan pemanah tangguh? Tunggu aksinya pada 4 Agustus.  c27, ed: Endah Hapsari


***
Belajar Dialek Hingga Pajang Foto

Tidak hanya dituntut melakukan latihan fisik, Chelsea Islan juga mencoba mendalami karakter Lilies Handayani. Salah satu caranya adalah dengan belajar logat Surabaya. Dia pun berusaha untuk menguasai logat itu senatural mungkin. "Selain main panahan, harus juga berdialek Surabaya. Di situ, saya belajar hampir sebulan sendiri untuk belajar dialek," kata perempuan kelahiran Washington DC, Amerika Serikat, ini.

Untuk menciptakan kesan itu, Chelsea mengaku berkomunikasi secara intens untuk meneliti gaya bicara sosok asli Lilies sebab dia belum berkesempatan langsung bertemu sebelum melakukan pengambilan adegan.

Meski belum sempat bertemu langsung, Chelsea berkesempatan menggali sosok Lilies dari orang-orang terdekat, termasuk suami dan anak. Anak Lilies, Dinda, kebetulan juga menjadi guru panahan Chelsea sehingga memudahkan Chelsea menggali informasi seputar karakter yang diperankan, termasuk kebiasaan dalam hal-hal kecil.

Selain itu, Chelsea juga mencoba menggali teknik panahan yang digunakan oleh Lilies. Karena, setiap orang memiliki gaya tersendiri dalam melakukan panahan dan Lilies merupakan atlet yang juga memiliki gaya berbeda.

Dari situ, Chelsea harus memahami dan dapat meniru sebaik mungkin, termasuk juga memajang foto Lilies sebagai wallpaper ponselnya untuk memudahkan Chelsea mengingat gaya Lilies menarik anak panah.
 c27, ed: Endah Hapsari