Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Film 'Cinta tapi Beda' Dipolisikan

Senin, 07 Januari 2013, 16:51 WIB
Komentar : 0
Cinta Tapi Beda

REPUBLIKA.CO.ID, SEMANGGI -- Film karya terbaru sutradara Tanah Air ternama Hanung Bramantyo, berjudul ''Cinta tapi Beda'' dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Senin (7/1). Film yang bertemakan kisah percintaan insan berbeda keyakinan ini, dilaporkan oleh Ikatan Pemuda Pemudi Minangkabau (IPPMI) dan Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM).

Ketua tim kuasa hukum IPPMI, Zulhendri Hasan, mengatakan, pelaporan ini dilayangkan ke kepolisian, sebab disinyalir film akan menanamkan rasa kebencian dan penghinaan di muka umum terhadap etnis suku Minangkabau.

''Kami melaporkan ke Polda Metro Jaya sehubungan dengan tindakan Hanung dan kawan-kawan (termasuk produser serta pemain film) ini,'' kata Zulhendri usai membuat laporan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK), di Kantor Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (7/1).

Zulhendri menjelaskan, alur cerita dari film ''Cinta tapi Beda'' ini, telah menanamkan rasa kebencian tersebut. Sebab, pada dasarnya, isi film telah menyimpang dari falsafah utama etnis suku Minangkabau yaitu, ''Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah'' (Adat berlandaskan syariat, syariat berlandaskan Kitabullah).

Melalui kuasa hukumnya, IPPMI menilai, bahwa film ''Cinta tapi Beda'' memutarbalikkan fakta dan memojokkan masyarakat Minang yang kental dan identik dengan agama Islam dan adat-istiadatnya.

Di dalam film, diceritakan, pemeran utama film yang juga berlatarbelakang di Padang Sumatera Barat ini, ialah seorang perempuan yang berasal dari suku Minang. Namun menganut paham Katholik fanatik. Wanita yang sedang mengambil kuliah jurusan seni tari tersebut, diperankan oleh Agni Pratishta.

Sedangkan, tutur Zulhendri, masyarakat etnis suku Minang menganut agama Islam. Kalau orang dengar kata Minang, pasti langsung identik dengan suku Minangkabau Padang, di Indonesia, ujarnya. Keidentikan ini pula, tentu tak terlepas dengan etnis suku Minang dengan agama Islam. Hal ini lah kemudian, yang dimaksudkan IPPMI dan BK3AM, telah menggambarkan sesuatu yang bertolak belakang.

Selain itu, kegeraman komunitas masyarakat etnis suku Minangkabau juga diungkapkan, dengan potongan dialog yang ada dalam film. Dalam film, Agni yang memerankan tokoh Diana, berdialog. Ia mengatakan, bahwa masakan kegemarannya ialah babi rica-rica.

''Dialog Diana yang menuturkan masakan kesukaannya yaitu, babi rica-rica. Ini sudah termasuk menampilkan sesuatu yang bertolak belakang,'' tutur Zulhendri.

Redaktur : Citra Listya Rini
8.846 reads
Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat/mengutuk orang yang menyuap, yang menerima suap dan orang yang menghubungkan keduanya.” ([HR. Ahmad dalam bab Musnad Anshar radhiyallahu ‘anhum])
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  subekti piliang Selasa, 15 Januari 2013, 16:37
hanung tolong banyak belajar lagi...... karena minang = muslim ndak ada orang minang yang kafir seperti itu, kalo yg anda gambarkan demikian , jelas sangat kedangkalan pengetahuan anda
  aticka Selasa, 15 Januari 2013, 08:31
ini klu g da tindakan dari pihak penegak hukum jgn salahkan IPPMI ingat masrakat minang ribuan di seluruh indonesia jgn sampai nanti masrkat minang buat hukum sendiri
  jufrinasir Senin, 14 Januari 2013, 19:54
ini sutradara anti islam ngga tau adat orang minang. mana ada orang minang agamanya katolik .
  sindi Minggu, 13 Januari 2013, 11:45
maaf sebelumnya, sekedar meluruskan.
film ini diangkat dari kisah nyata di blog dwitasarii.com.
sosok diana itu nyata, dia adalah sahabat dwitasari. di blog itu diceritakan orangtua diana tinggal di padang dan diana itu campuran jawa-padang.
  R. Saputra Kamis, 10 Januari 2013, 10:33
Jangan pojokan suku kami demi keuntungan anda dan tampa memandang latar belakang kami sebagai suku yang beradab (Islam Tulen) mungkin anda sebagai anak dari suku lain yang lebih mengutamakan popularitas dan harta yang mau melakukan ini semua
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...