Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Indonesia di Meja Makan

Senin 11 Desember 2017 16:22 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Bajamba sehabis gotong royong di Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Bajamba sehabis gotong royong di Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Foto: Priyantono Oemar/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar, wartawan Republika.co.id

Komodo itu, kata Usman, biasa menyendiri, tetapi saling beradaptasi. "Begitu mendapat makanan, mereka makan bersama," ujar pemandu wisata Taman Nasional Komodo itu kepada saya di Pulau Komodo, Ahad (3/12).

Ketika ingin makan, komodo berburu sendirian. Mengandalkan penciuman, komodo akan berdiam diri cukup lama seperti sedang tidur untuk mengelabui calon mangsa. Begitu buruan tertangkap dan darah mengucur, komodo lain akan mencari sumber bau darah itu untuk bisa ikut berpesta.

Saat makan bersama itu mereka berantem, mencegah agar yang lain tak ikut makan. Namun begitu, makan bersama tetap berlangsung. Tak ada komodo yang menyingkir karena kalah seperti halnya saat 5-7 komodo jantan berebut komodo betina di musim kawin. Yang lemah beradaptasi pada yang kuat dan kehangatan pun tak hilang karena kebersamaan.

Tetapi, kehangatan tak dirasakan Farid Husein ketika makan bersama dengan akar rumput GAM pada 2004. Sebagai utusan Jusuf Kalla, Farid sudah ada di Aceh dua hari setelah tsunami. Farid diutus untuk menjalin kontak dengan orang-orang GAM untuk mempercepat perundingan RI-GAM agar keutuhan NKRI tetap terjaga.

"Di situ bulu kuduk saya naik karena ada orang GAM yang senjatanya mengarah pada saya," ujar Farid, seperti diceritakan dalam buku Beranda Perdamaian, Aceh Tiga Tahun Pasca MoU Helsinki.

Tetapi makan bersama tetap berlangsung, dan Farid menyampaikan pesan dari Jakarta soal perundingan. Ketika perundingan terlaksana dan memasuki proses-proses terakhir, terungkap kesediaan GAM berunding lantaran kedua belah pihak bersedia menanggalkan ideologi masing-masing, demi pemulihan Aceh pascatsunami.

Komodo juga seperti itu. Meski berantem saat musim kawin, dan menyendiri dalam kesehariannya, mereka bisa bercengkerama saat makan bersama. "Makan bersama dalam bahasa komodo adalah ahang sama,’’ jelas Usman. Yang dimaksud Usman tuntu saja bukan bahasa binatang komodo, melainkan bahasa masyarakat Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, yang ada di Pulau Komodo itu.

"Ahang sama ngodo keboro te," sahut Dedi, rekan Usman. "Makan bersama duduk melingkar," lanjut Dedi menerjemahkan kalimatnya.

Ada 1.712 jiwa penduduk Desa Komodo saat ini, yang terhimpun dalam 420 keluarga. Mereka memiliki tradisi ahang sama. Selain untuk pesta, ahang sama juga diadakan untuk menyelesaikan masalah.

Untuk menyelesaikan masalah, warga berkumpul untuk ahang sama, lalu tetua kampung memberi nasihat: Moke lelo masala ne. Lelo ata ne, si hia, si ahu, si hete. Artinya:  Jangan lihat masalahnya, tetapi lihatlah orangnya. Siapa dia, siapa saya, siapa kita. "Yang ditekankan adalah kebersamaan, persaudaraan," ujar Usman.

Di Lamalera, pesisir selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, tradisi makan bersama sering digelar masyarakat nelayan. "Namanya epuboe, yaitu kumpul bersama, makan bersama. Saling memberi,’’ ujar Bona Beding, ketua Bidang Perlindungan Masyarakat Adat dan Kebudayaan Bahari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), putra asli Lamalera, kepada saya, September 2017.

Berangkat dari prinsip kebersamaan itu juga yang mendasari Jokowi sering mengajak makan bersama untuk menyelesaikan masalah. Setelah mengajak makan para pedagang kaki lima di Solo sebanyak 54 kali, akhirnya Jokowi bisa membujuk mereka bersedia direlokasi. Mereka memahami ada kepentingan bersama yang lebih besar lagi dari sekadar ngotot tak mau dipindah.

Di acara makan bersama sewaktu ia masih menjadi wali kota Solo itu, ia menggunakan waktu hanya untuk mendengar. Hingga saatnya tiba, ia mengutarakan ide-ide dia yang kemudian menjadi jawaban bagi keinginan mereka.

Strategi serupa juga ia terapkan ketika menjadi Gubernur DKI untuk menyelesaikan pembebasan lahan proyek JORR II. Untuk menyelesaikan pembebasan lahan sepanjang 1,5 km di proyek JORR W2 yang sudah tertunda 15 tahun, Jokowi hanya membutuhkan empat kali blusukan, dua kali di antaranya dilakukan dengan makan bersama.

Belajar dari Rakyat

Ketika memperjuangkan kepentingan Indonesia dan bangsa Asia-Afrika, Presiden Sukarno juga biasa mengajak makan bersama kepala negara lain sebelum ia menyampaikannya di forum resmi. Roeslan Abdulgani memberi kesaksian, Sukarno selalu mengajak makan tokoh-tokoh dunia di waktu senggang jika ada hal yang harus dia sampaikan.

Presiden Joko Widodo makan bersama Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputeri, di istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/11). (Foto: Antara/Setpres)

Obrolan di saat makan, kata Roeslan, biasa dijawab dengan anggukan kepala. Maka, ketika Sukarno menyampaikan sesuatu saat makan, para tokoh negara lain juga akan mengangguk-anggukkan kepala.

Menghadapi penentang-penentangnya, ada yang ia lakukan dengan makan nasi goreng bersama di rumahnya. Bahkan, Sukarno biasa mengambilkan nasi untuk tamu-tamunya, seperti yang dialami Achadi, salah satu menteri di Kabinet Dwikora, seperti yang diceritakan Eddi Elison di buku Ketawa Bareng Bung Besar.

"Itu kebiasaan rakyat, kita belajar dari rakyat,'' ujar Jokowi kepada saya di ruang kerja Gubernur DKI, September 2014, tentang alasan dia menyelesaikaan masalah dengan makan bersama. Setelah menjadi presiden, Jokowi melanjutkan kebiasaan itu dengan mengajak makan bersama berbagai kalangan di Istana, termasuk  dengan tokoh-tokoh yang berseberangan dengannya.

Tak ada menu khusus untuk makan bersama yang dilakukan Jokowi. Tetapi, bagi masyarakat Komodo, daging rusa pernah menjadi menu khusus di setiap ahang sama di masa lalu. Kini cukup dengan ikan. "Ikan paponto kuah asam kemangi," kata Dedi yang juga menjadi nelayan ketika tidak bertugas sebagai pemandu wisata komodo.

Di Pulau Komodo ada ribuan rusa, tetapi setelah kawasan Komodo ditetapkan sebagai taman nasional, rusa-rusa tak boleh lagi diburu warga. Hanya komodo yang masih dibolehkan berburu rusa.

"Setelah makan, komodo bisa bertahan tidak makan selama sebulan," jelas Usman. Tetapi tidak untuk manusia. Setiap hari tetap harus makan. Bagi masyarakat Indonesia, makan bukan sekadar untuk mengatasi rasa lapar. Makan sudah menjadi aktivitas sosial yang bersifat komunal untuk mempererat persaudaraan.

Bentuk persaudaraan masyarakat di Flores sudah muncul setidaknya bisa dilihat di abad ke-17. Tahun 1600-an, nelayan Bajo --yang disebut Alfred Russel Wallace sebagai gipsi laut-- datang mendiami ujung barat Pulau Flores.

"Mereka menetap dan kampung mereka diberi nama Labuan Bajo, yang artinya pelabuhan orang-orang Bajo,’’ ujar Fidelis Daor, anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, saat menjemput kami di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Sabtu (2/12). Kami merupakan rombongan Media Expert Meeting yang dibawa MPR untuk mencari masukan sosialiasi Empat Pilar Kebangsaan.

Setelah wilayah pantai ramai oleh pendatang, warga Flores asli yang tinggal di bukit-bukit turun, dan bergabung untuk berdiam diri di dataran rendah. Mereka, kata Fidelis, rukun-rukun saja. Di kemudian hari, ketika ada Gorontalo sebagai nama kampung orang-orang Gorontalo, mereka juga tak keberatan.

"Terima kasih kepada rombongan media yang telah datang melihat daerah kami yang baru belakangan ini diperhatikan pusat, karena kami juga bagian dari NKRI," ujar Fidelis.

Di Jambi, masyarakat Bugis yang menjadi petani lahan gambut di Sinar Wajo Kabupaten Tanjung Jabung Timur, juga mempererat persaudaraan dengan makan bersama setelah gotong-royong membersihkan parit. Kegiatan itu mereka sebut macera pare. Masyarakat Banjar di Sinar Wajo juga melakukan tradisi seperti itu dengan nama zima pare. Ikatan persaudaraan terjalin di kegiatan itu.

Kepala Balai Adat Tamburasak Duntin (paling kanan) dan tetua adat Galimun (bungkuk) dalam ritual mahanyari, ucapan syukur sehabis panen raya di masyarakat Dayak Meratus. (foto Priyantono Oemar/Republika)

"Biasanya kami menyembelih kambing untuk keperluan makan bersama itu," ujar Muhammad Yunus, pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa Sinar Wajo, kepada saya, November 2016.

Masyarakat Bugis dan Banjar bertani gambut di Jambi melalui program transmigrasi swadaya. Untuk menjaga gambut agar tetap basah, dibuatlah parit-parit untuk menampung air. Parit-parit itu pula yang digunakan sebagai jalur perahu keluar-masuk ke lahan gambut. Maka, sisi parit-parit itu selalu dibersihkan dari gulma setiap tahunnya. Gulma yang memenuhi parit akan mengganggu laju perahu yang mereka pakai sebagai alat transportasi keluar-masuk areal pertanian gambut itu.

Semangat Kesetaraan

Sehabis gotong-royong membangun jembatan, warga Kapau duduk di atas terpal yang dibentangkan di jalan nagari. Nasi dan segala lauk telah ditumpahkan di atas daun pisang di atas terpal itu. Andi Sahrandi, warga Kapau yang kini tinggal di Jakarta, ikut sibuk menuangkan lauk ke sisi nasi di daun pisang.

Mereka bersiap makan bajamba, makan bersama ala Minangkabau. Doa dilakukan, bajamba pun segera dimulai. Kaum perempuan memilih siaga jika ada yang minta tambah lauk. Ketika kaum laki mau mengakhiri bajamba, giliran para perempuan mengambil posisi bajamba pula.

"Kami biasa makan bersama jika ada acara-acara gotong-royong,’’ ujar Bujang, warga Kapau, kepada saya, usai bajamba. Gotong-royong dan makan bersama memperlihatkan kerukunan di antara mereka.

Syafiril Erman, penulis novel Kepundan, pernah ikut bajamba di Kapau saat mengadakan perjalanan wisata Jejak Republik pada 2013. Syafiril merasakan, bajamba sebagai simbol untuk membangun semangat kesetaraan. ‘’Semua makanan disatukan di atas daun pisang lalu semua menjumput makanan bersama, tak ada kasta, tak ada beda, semua sama,’’ ujar Syafiril kepada saya, Kamis (7/12).

Kendati egaliter, yang ia alami selama mengikuti bajamba, sopan-santun masih diterapkan dalam tradisi itu. ‘’Setelah berdoa, sebagai penghormatan, para datuk diberi kesempatan pertama untuk menjumput nasi lalu mempersilakan yang lain mulai makan,’’ ujar Syafiril.

Di Pulau Penyengat, makan bersama telah dijadikan sebagai salah satu acara menyambut rombongan wisatawan. Kami, rombongan Forum Bahasa Media Massa yang berkunjung ke Penyengat pada Desember 2014 bersama beberapa tokoh pers, sempat dijamu berhidang oleh Sapril dengan menu makanan khas Penyengat. Makanan disajikan dalam nampan bundar sebagai simbol keharmonisan yang terjaga, tak ada selisih paham.

Saat makan bersama itu, saya duduk berlima –syarat dalam makan bersama di Penyengat-- di antaranya bersama tokoh pers Wina Armada dan Tribuana Said. Lima melambangkan rukun Islam dan waktu shalat. Di pulau tempat Raja Ali Haji dimakamkan itu, kata Sapril kepada saya, ‘’Makan bersama dikenal dengan sebutan berhidang.’’

Tokoh pers Wina Armada (kedua dari kanan) dan Tribuana Said (paling kanan) saat berhidang di Pulau Penyengat (foto Dokumentasi Priyantono Oemar/Republika)

Menyenangkan Hati

Saat selesai membangun hunian sementara untuk para pengungsi letusan Gunung Sinabung pada 2015, Andi Sahrandi yang membawa relawan Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala, ikut makan bersama dengan sajian cipera. Kuliner Karo ini berupa daging ayam yang memiliki kuah tepung jagung sangrai yang sudah dibumbui.

"Ini ada babinya ya?’’ tanya Andi yang harus menambah porsi lagi, karena merasakan lezatnya masakan cipera. Jati Sembiring, warga Desa Gurukinayan, segera menjawab bahwa ia tahu Andi adalah Muslim, sehingga tak mungkin bagi masyarakat Karo yang mayoritas Kristen menyajikan babi untuknya.

Ketika di Desa Nubahaeraka di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, tuan rumah seperti kebingungan menyiapkan makanan untuk menyambut kami. Elisabeth Nogo Keraf sampai tiga kali bertanya kepada saya perihal makanan, di sela-sela saya mewawancarai penenun menjelang Magrib, Agustus 2016. Saya hanya bisa menjawab, yang ada saja, tetapi hal itu belum memuaskannya. Sampai kemudian ia menawarkan menyembelih ayam.

Tentu saja saya menganggap hal itu sebagai jamuan yang mewah dari hati yang ramah dan meminta maaf karena telah merepotkannya. Thomas Stamford Raffles mencatat keramahan sejati seperti ini di buku History of Java. Warga desa akan menyiapkan makanan terbagus untuk disajikan kepada para tamu yang berkunjung ke desanya agar senang hatinya.

Akibatnya kami harus menunggu sampai pukul 20.00 WIT untuk bisa makan. Warga sudah kumpul di rumah Elisabeth. Rupanya, sebelum kami datang pukul 16.00 WIT, Elisabeth sudah menyembelih anjing dan mengundang warga lain untuk makan malam bersama menyambut kedatangan kami di rumah Elisabeth. Karena mengetahui di antara rombongan tamunya ada yang Muslim, ia lantas jadi gelisah dan memastikan kepada saya untuk makan malam yang kami inginkan.

Pengalaman serupa terjadi ketika makan bersama dengan masyarakat Dayak di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, pada 2012. Mereka yang beragama Kaharingan itu melibatkan kami dalam makan bersama di acara tradisi mahanyari,  yaitu acara syukuran sehabis panen padi.

Mereka menyembelih ayam dan babi untuk acara itu. Mereka sajikan lauk ayam dan sayur ikan gabus kepada kami. Kami diberi kehormatan untuk menyembelih ayamnya, karena mereka mengetahui dalam Islam, binatang yang akan dimakan harus disembelih dengan membaca basmallah.

"Jika kami menawarkan babi kepada orang Islam, menurut agama kami, kami berdosa," ujar Duntin, kepala Balai Adat Tamburasak, Kecamatan Haruyan Dayak, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kepada saya.

Kami diberi pula kehormatan memimpin doa sebelum makan bersama. Duntin menjelaskan makanan harus didoakan agar membawa berkah bagi semua. Jika ada tak suka makanan mereka, kata Duntin, tak boleh ada penolakan jika sudah ditawari. Jika menolak, kata dia, akan ada masalah yang muncul.

"Yang ditawari cukup mencicipinya, kendati hanya sedikit, sebagai syarat sudah menerima tawaran,’’ ujar Duntin yang segera mengambil sebutir nasi lalu memakannya untuk memberikan contoh. Dengan cara itu, saya melihat tak ada pihak yang dikecewakan. Kebersamaan tetap terjaga.

Makan bersama masyarakat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan (foto Priyantono Oemar/Republika)

Kebersamaan serupa juga diperlihatkan masyarakat Kampung Memey, Distrik Kemtuik Gresi, Kabupaten Jayapura. Menurut Rosmina Yekusamon, mereka tetap menjaga tradisi blei kebali untuk menjaga kebun sagu secara gotong royong. "Di setiap blei kebali ada makan bersama atau tendam kerlamso dalam bahasa kami,’’ ujar Rosmina kepada saya.

Makan bersama di Kemtuik ini, bisa juga diadakan untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Zadrak Wamebu, mantan wakil bupati Jayapura, menyebut tradisi bakar batu sebagai bagian dari tradisi makan bersama untuk menyelesaikan masalah. Jika ada masalah, lima tokoh adat duduk bersama membahas masalah itu di rumah para-para. Hanya laki-laki yang boleh masuk rumah adat suku Kemtuik ini.

Ayah Zadrak pernah menjadi duguena, salah satu dari lima tokoh adat Kemtuik. Empat lainnya adalah terang, sebagai yang tertinggi, kemudian tegai yang bertindak sebagai juru bicara, ada srom yang bertanggung jawab terhadap perekonomian, dan bemei sebagai bendahara. Saat mereka berlima membahas masalah, masyarakat menunggu di luar rumah para-para.

"Setelah selesai, diakhiri dengan makan bersama yang kami sebut tendamso,’’ ujar Zadrak kepada saya, Oktober 2014. Secara harfiah, kata Zadrak, Tendamso berarti kami semua yang berkumpul secara sakral. Menu untuk makan bersama itu ada ada papeda, ikan, dan sebagainya.

Merawat Keindonesiaan

Syafiril Erman juga biasa berburu makanan lokal di daerah yang ia kunjungi ketika mengadakan perjalanan wisata Jejak Republik bersama Geng 3T2i. Ini merupakan sekumpulan anak muda Bandung-Jakarta. Menurut dia, masakan tradisional Indonesia adalah salah satu kearifan lokal. ‘’Masakan itu dibuat sebagai bagian dari alam dan karakter manusia di daerah itu,’’ ujar dia kepada saya pertengahan November 2017.

Perjalanan wisata Jejak Republik itu tak semata untuk menikmati keindahan alam dan kelezatan kuliner. Melainkan juga untuk menggali pemahaman yang ada di masyarakat. Dengan demikian, pulang dari Jejak Republik ada pengetahuan baru yang didapat tentang keindonesiaan.

"Menikmati hidangan daerah, tanpa disadari kita seolah terhubung dengan suku dari daerah tersebut,’’ ujar Nadia Rahmawati, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) yang pernah ikut Jejak Republik, kepada saya, November 2017. Sewaktu di Sawahlunto, mereka merasa perlu melihat proses pembuatan dendeng batokok sebelum mereka menyantapnya.

Proses pembuatan dendeng batokok di Sawahlunto, Sumatra Barat (foto Priyantono Oemar/Republika)

Nadia merasakan betapa kuliner lokal di berbagai daerah merupakan makanan yang penuh cita rasa, rempah. Tidak sekadar sajian makanan, melainkan juga kental budaya. Dian Lestari yang juga pernah ikut Jejak Republik tak begitu tertarik mencicip makanan lokal jika tidak di lokasi asalnya. "Begitu  makan di daerah asalnya, jadi berbunga-bunga dan jatuh cinta,’’ ujar karyawan perusahaan asuransi di Jakarta itu kepada saya November lalu.

Bagi Dian, mencicipi makanan lokal di daerah asalnya dalam perjalanan Jejak Republik adalah bagian dari pengalaman merawat keindonesiaan. Tanpa Indonesia pun, makanan lokal itu sebenarnya akan tetap ada, karena masakan itu lebih dulu ada dibandingkan Indonesia.

‘’Indonesia itu belum selesai, belum jadi, sehingga sewaktu-waktu bisa lenyap jika tidak diperjuangkan keberadaannya,’’ ujar Harris Harlianto, mantan aktivis ITB yang juga sering ikut perjalanan wisata Jejak Republik.

Maka, mengeksplorasi kuliner lokal, menurut Harris, adalah salah satu cara mengenal budaya untuk memperjuangkan keberadaan Indonesia yang beragam. Perbedaan kuliner itu, menurut Syafiril, tak perlu ada yang dipaksakan menyatu. Cukup dijaga perbedaan-perbedaannya yang ada.

Rempah, kata Syafiril, menjadi ciri khas pemersatu. Aroma rempah yang begitu kuat menguar inilah yang sesungguhnya menjadi kekhasan Indonesia. Aroma rempah ada, tetapi tetap menyisakan cita rasa kelokalan sehingga masakan berbagai daerah itu tetap memiliki cita rasa yang berbeda-beda.

Kebutuhan Adaptasi

Perbedaan itu, sejauh ini tak memicu orang memaki-maki masakan lokal yang tak sesuai seleranya. Syafiril tak bisa menerima argumen bahwa memaki pemimpin yang tak disukai adalah bagian dari perbedaan seperti halnya suka-tidak suka pada masakan.

Menurut Syafiril, ketidaksukaan terhadap rasa dan selera dalam kuliner lokal tetap dalam koridor penghormatan terhadap khasanah lokal. Ketika Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengajak masyarakat mengonsumsi keong sawah menggantikan daging sapi, yang dihujat bukan keong sawahnya, melainkan sang menteri.

Tetapi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti segera membela Menteri Pertanian. Keong sawah yang sudah biasa dikonsumsi masyarakat Jawa Barat, menurut Susi, mengandung protein tinggi. Dalam 100 gram keong sawah terdapat 12-15 persen protein. Kandungan protein dari 100 gram sapi daging mencapai 19 persen.

Susi mengaku terbiasa makan keong sawah sejak kecil. Ia mengaku nafsu makannya bertambah ketika makan dengan lauk olahan keong sawah. Menurut Susi, bisa sampai lima kali nambah makannya.

Ketidaksukaan pada kuliner tak pernah berujung pada pergesekan sosial. Kuliner, bagi Syafiril, justru mampu menjadi daya ikat. Ada satu kuliner yang dapat diterima di banyak daerah. Syafiril menyebut soto. "Selama ini soto tak pernah ditolak, mungkin karena bumbu soto di setiap daerah relatif tidak berat, lebih ringan dan segar, sehingga cocok untuk segala lidah Nusantara," ujar Syafiril.

Mi selera Nusantara yang diproduksi perusahaan mi instan menunjukkan keberterimaan itu. Cita rasa fusion ini bisa diterima banyak kalangan. Ketika kangen dengan masakan Nusantara, maka mi instan selera Nusantara, menurut Mia Rahmawati sangat membantu mengobati rasa kangen itu.

"Ketika mencicipi masakan khas daerah tertentu, ada hasrat untuk mendatangi daerah itu agar ada perjumpaan langsung dengan masyarakat daerah itu, tapi jika tidak, mi instan selera Nusantara sangat membantu,’’ ujar karyawan penerbit buku di Bandung itu.

Kuliner peranakan bisa dijadikan contoh pertemuan budaya. "Masakan padang orang Cina Padang tidak semedok Minang asli. Ini sama dengan bahasa Minang Pondok yang kehilangan cengkok-cengkok Minang asli karena dialek Cina,’’ jelas Riniwaty Makmur, kandidat doktor komunikasi Universitas Padjadjaran yang menulis disertasi tentang komunitas Cina Pondok, Padang, kepada saya pertengahan November 2017.

Riniwaty menyebut rendang sebagai contoh. Warna rendang orang Minang asli lebih hitam. Sedangkan rendang di restoran Padang kepunyaan orang Cina itu masih ada cokelatnya. Meski begitu, hal itu tak membuat rendang olahan orang Cina Pondok tidak disuka, lalu dicaci. Buktinya, kata Riniwaty, "Restoran Padang kepunyaan orang Cina di Padang laris juga kok, yang makan juga dari kalangan beragam etnik," kata Riniwaty.

Di masa lalu, kata Riniwaty, perkawinan antaretnik laki-laki Cina dengan perempuan Minang telah menghasilkan masakan fusion. Dalam perkawinan campuran itu, laki-laki Cina menunjukkan dominasinya dengan tetap mempertahankan tradisi Cinanya, sehingga dalam hal masakan, masakan Minang diolah dengan cita rasa Cina.

"Meski keluargaku bukan peranakan karena perkawinan, makanannya tetap saja fusion,’’ kata Riniwaty yang kakek-neneknya asli dari Cina. Kunci utamanya, menurut Riniwaty, adalah adaptasi. ‘’Adaptasi minoritas terhadap mayoritas,’’ kata Riniwaty.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA