Kamis , 22 Juni 2017, 03:11 WIB
HUT Jakarta Ke-490

Bahasa Asli Jakarta Rawan Binasa

Red: Karta Raharja Ucu
Pemain lenong berlakon pada acara Kota Cerdas dalam Kreasi Seni Budaya Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (8/5).(Republika/Rakhmawaty La'lang )
Bachtiar,

Dialek Betawi di Kampung Si Pitung

Guna menelusuri apakah eksistensi bahasa Betawi yang berada di ujung tanduk, saya lalu menemui salah satu 'pentolan' Rawa Belong, Bachtiar. Bachtiar, membudayakan bahasa dan budaya Betawi dengan membuat sanggar 'Si Pitung' yang di dalamnya mengajarkan berbagai jenis budaya dan tradisi khas Betawi seperti palang pintu, main pukul (pencak silat), tari Betawi, gambang kromong, dan lenong.

Penduduk asli Rawa Belong ini mengaku tergerak untuk memunaikan tanggung jawab sebagai anak Betawi untuk terus melestarikan budaya tanah kelahirannya. Rawa Belong yang diyakini sebagai kampung kelahiran jawara legandaris Betawi, Pitung membuat Bachtiar semakin terpanggil untuk mengembangkan sanggar yang berdasar pada keikhlasan Pitung dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

“Kita ingin berkontribusi dengan mendirikan sanggar yang tidak meninggalkan trandisi orang dulu, yaitu mengaji,” ujar Bachtiar saat mengajak saya berbincang di rumahnya yang didominasi warna kuning dan hijau terang dengan ornamen khas Betawi.

Menurut Bachtiar, Rawa Belong tergolong pada Betawi tengah atau Betawi yang identik dengan penekanan 'e' diakhir kata. Orang asli Betawi Rawa Belong, saat ini masih mempertahankan tradisi berkomunikasi dengan bahasa Betawi. “Betawi 'e' itu Rawa Belong, cuma 'e' nya lebih diteken dibanding Betawi tenabang (Tanah Abang). Dia (daerah Tanah Abang) 'e' nya alus lebih kearab-araban. Kalo disini, 'e' nya diteken, kayak iye, kage, nape, kerete,” kata dia menjelaskan.

Menurut Bachtiar, hal ini dilakukan untuk menjaga kekayaan dari bahasa Betawi yang tidak boleh hilang, meskipun pendatang berbondong-bondong menyerbu Jakarta dengan berbagai adat dan budaya yang tanpa disadari menggerus kebudayaan Betawi sebagai budaya asli Jakarta. “Bahasa Betawi jangan ampe hilang walaupun nanti banyak pendatang, makanya jangan ampe Betawi kegusur, apalagi budayanya yang kegusur,” tambah dia.

Ironisnya, kata Bachtiar, saat ini banyak anak Betawi yang tidak memahami bahasa mereka sendiri, terlebih pada kata-kata yang saat ini sudah langka terdengar, seperti istilah "steleng" (rak piring). Kata steleng sudah langka digunakan karena perkembangan zaman yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih. Kata-kata lain seperti pangkeng (kamar), grojokan aer (saluran air) sudah jarang terdengar bahkan seperti hilang ditengah canggihnya budaya modern Jakarta.

Menurut Bachtiar, ini adalah tugas orang Betawi yang masih merasakan kekentalan bahasa Betawi dalam darah dan lingkungannya untuk terus mempertahankannya, bahkan mengajarkan generasi muda agar dapat mengenali budaya asli Jakarta. “Kalo bukan orang Betawi sendiri yang perjuangin, siapa lagi ye kan,” kata dia.

Dia juga mengaku memiliki harapan agar seluruh wilayah Betawi Tengah dan Betawi Pinggir (Betawi Ora) seperti Bekasi, Depok dan Tangerang dapat memiliki kamus bahasa Betawi yang sesuai dengan bahasa Betawi wilayahnya masing-masing. Mengingat bahasa Betawi terbagi menjadi beberapa kelompok, baik dari sisi bahasa, pelafalan maupun makna.

“Kita juga kepengen tiap wilayah ada kamusnya sendiri, soalnya Betawi di daerah-daerah juga kan beda-beda. Kamus yang sudah ada, kayak bikinan Babe Abdul Kahir wakilnya Betawi 'e' ini juga harus dimunculin terus sesuai wilayahnye,” ujar Bachtiar.