Kamis , 13 April 2017, 08:03 WIB

Akhir Cerita Tukang Cukur 'DPR'

Red: Karta Raharja Ucu
Gumanti Awaliyah/ Republika
Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.
Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gumanti Awaliyah, wartawan Republika.co.id

Jam di ponsel pintar menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika saya melintasi jalur pedestrian di Jalan Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur. Di salah satu sisi pagar Gereja Koinonia saya bertemu Hasan, satu-satunya tukang cukur 'DPR' (di bawah pohon rindang) yang masih setia dengan profesinya.

Hasanudin, begitu pria berusia 60 tahun tersebut memperkenalkan diri. Ia adalah satu-satunya tukang cukur DPR di wilayah Jatinegara atau Mester yang tersisa. Tempat kerjanya bukan di ruang beratap, tapi mengharapkan rindangnya pohon belimbing yang tumbuh di atas jalur pedestrian. Pagi itu, Hasan bersedia membagi ceritanya selama puluhan tahun menekuni pekerjaannya sebagai seorang kapster.

“Saya Hasan, dari Leuwiliang, Bogor. Dulu di sini ada sekitar empat tukang cukur, tapi mereka berhenti," kata Hasan membuka percakapan.

Pria yang pagi itu memakai baju biru dan topi merah mengaku sudah menghabiskan 45 tahun hidupnya sebagai tukang cukur. Lima belas tahun terakhir dia memilih mangkal di Jatinegara, setelah sebelumnya sempat menjadi tukang cukur keliling.

Saban hari, Hasan membawa-bawa koper hitam lusuh. Isinya peralatan untuk mencukur pelanggan, seperti cermin berukuran 20x10 sentimeter, dan gunting. Ia juga membawa satu buah kursi lipat, tas slempang, sapu lidi dan karung besar untuk membuang rambut pelanggannya yang telah dipangkas.

Pelanggan yang datang dalam satu hari, kata Hasan, tidak menentu. "Sekarang mah sepi. Kadang hanya dapat lima kepala (pelanggan), tiga kepala atau tidak sama sekali," ujar Hasan yang mengaku sudah membuka jasa sejak pukul delapan pagi.

Hasan memasang tarif untuk jasa cukur Rp 15 ribu per orang. "Tarif sebenarnya Rp 15 ribu, tapi suka ada yang ngasih Rp 10 ribu. Ya udah (tidak apa-apa)," ujar dia.

Itung-itung ngabantuan we, Neng (hitung-hitung membantu saja, Neng). Lumayan oge kan duitna (lumayan juga kan duitnya),” kata Hasan dengan bahasa Sunda.

Ia mengaku merantau ke Jakarta saat usianya baru menginjak 15 tahun. Hasan ikut pamannya yang membuka jasa cukur rambut di Jatinegara. "Bedanya paman punya lapak sendiri yang disewa dari orang lain," ujar Hasan sembari memegang gunting rambut.

Sang paman menurunkan ilmu memangkas rambut kepada Hasan. Namun, setelah pamannya meninggal dunia, Hasan kelabakan meneruskan usaha yang sudah berjalan 30 tahun tersebut. “Uang sewanya nggak kebayar, jadi saya putuskan untuk berkeliling,” kata Hasan merawikan.

Ia mengaku berkeliling ke banyak tempat, seperti Tebet, Kampung Melayu, dan lain-lain. Hingga akhirnya, dia merasa tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menempuh jalanan panjang seperti itu. “Ya, saya balik lagi ke Jatinegara. Saya lihat tempat depan gereja, lalu saya izin ke orang gerejanya, Alhamdulillah dapat izin sampai sekarang,” ujar ayah delapan anak tersebut.

Meski sudah banting tulang, Hasan mengakui pekerjaannya belum cukup untuk membiayai anak-anaknya sekolah. “Tapi anak saya itu suka bilang, ‘ya tidak apa-apa pak, yang penting bapak sudah usaha, kita berdoa saja’ begitu,” kata Hasan sembari tersenyum.

Obrolan kami sempat terhenti saat seorang pria menghampiri Hasan. Hasan mempersilakan pelanggannya duduk di kursi lipat, menghadap cermin yang disandarkan di atas koper hitam lusuhnya yang digantung di sela-sela pagar gereja. Hasan terlihat tangkas memainkan 'peralatan tempurnya'.

Sunarto, nama pelanggan Hasan. Pensiunan tentara itu mengaku sudah sering minta dicukur rambut pada Hasan. “Iya, yang penting rapi kalau cukur rambut itu," kata Sunarto.

Hasan yang sudah menginjak usia 60 tahun, ternyata masih sangat lihai dan teliti dalam memotong rambut. Ada delapan alat cukur yang Hasan sediakan, yakni dua buah gunting stanless, sisir rambut kecil, kumis jenggot, satu buah pisau kecil, gunting kodok/gunting capit, spons pembersih rambut, dan terakhir sikat yang biasa dipakai mencuci, yang digunakan Hasan untuk membersihkan rambut pelanggannya.

Cukup 10 menit, rambut Sunarto pun sudah dipangkas rapi. "Enaknya di sini, nggak harus antre, dan memang sudah biasa juga minta cukurin ke Pak Hasan,” kata Sunarto.

Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara. (Gumanti Awaliyah/ Republika)