Jumat , 24 Maret 2017, 00:25 WIB

Berlindung dari Syirik

Red: Agus Yulianto
dok.Istimewa
 Dra Hj.Siti Faizah Ketua Umum PP Salimah 2015-2020
Dra Hj.Siti Faizah Ketua Umum PP Salimah 2015-2020

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dra. Hj. Siti Faizah *)

Syirik merupakan kemaksiatan dan kezholiman terbesar kepada Allah Ta’ala. Bias dalam bentuk ucapan dan perbuatan menduakan Allah Ta’ala dengan apapun dan siapapun. Ketika tersirat tujuan dan perilaku hidup seseorang, berupa benda, harta, tahta, manusia semata dan melupakan Allah, maka boleh jadi terperosok ke dalam syirik. Manusia diperbolehkan mencari nafkah, menikmati harta di duni ini, bersenang-senang dan berkelana sebagai sarana untuk beribadah dan ketaatan kepada-Nya.

Pelaku syirik disebut musyrik. Pelaku syirik ini sangat dibenci Allah Ta’ala, bahkan menjadi doa besar yang tidak terampuni, kecuali sebelum kematian tiba. Ia berkehendak bahwa tujuan penciptaan manusai dan jin tidak lain unuk menyembah-Nya semata, dzat satu-satunya yang Mahamenciptakan.

Syirik sering kali disebabkan oleh kekaguman seseorang kepada sesame manusia, nisa dalam bentuk suara, gaya bicara, gaya kepemimpinan, kecantikan, pemikiran, hasil penemuan, kepandaian, kehebatan, kelihaian, ketenaran, dan masih banyak lagi. Sikap menduakan bias pula muncul karena ketakutan dan keercayaan yang berlebihan terhadap seseorang atau benda yang tidk mendasar, akibat ketidaktahuan, kekerdilan, kelemahan, keterbatasan ilmu dan pengetahuan seseorang akan peluang yang sama, bahwa setiap makhluk bias langsung berkomunikasi dan memohon kepada Allah Ta’ala. Masih banyak hal yang membuat seseorang berlaku syirik yang dapat menghambat kemajuan dan kejayaan.

Dalam Al-Qur’an Surah Fush-shilat, ayat 37, Allah Ta’ala menyampaikan bahwa –Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari, dan jang (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika jika kalian hanya menyembah kepadanya–.

Pergantian siang dan malam, terbit dan terbenamnya matahari serta bulan yang penuh keteraturan ini  hanya salah satu tanda bagi kekuasaan Allah semata. Jangan sampai kekaguman seseorang terhadap sesame atau pada benda ciptaan-Nya. Dibalik kehebatan seseorang atau benda tertentu, Allah Ta’ala hanya ingin memperkenalkan kehebatan Dzat-Nya dan Kemahakuasaan-Nya.

Syirik dilarang dan sangat dibenci Allah Ta’ala, menurut Ali Muhammad Ash Shalabi dalam Fikih Tamkin menyebut lima pengaruh buruk syirik. Pertama, mematikan cahaya fitrah. Setiap ciptaan-Nya memiliki fitrah yang telah ditetapkan-Nya. Saat manusia menyalahi ketentuan fitrah, maka ia tidak bias lagi membedakan antara baik dan buruk. Standar baik dan buruknya sesuai hawa nafsu atau keinginan diri. Hal ini yang menyebabkan sesorang tidak mendapat petunjuk-Nya. Sebab ia yang bias member cahaya dan petunjuk kepada makhluk-Nya ( QS. Annur : 40).

Kedua, pengaruh syirik bias meruka nila-nilai mulia dalam jiwa. Ketika Allah Ta’ala tidak lagi menjadi satu-satunya  tujuan hidup, menjadi sirna kearifan, dan kemuliaan pada diri. Mudah runtuh dan terjerembab kedalam prilaku nista, hina, amoral, tidak bertanggung jawab dan tidak senonoh. Visi hidupnya pendek, merasa cukup dengan kenikmatan dunia, mudah patah semangat dan tidak berfikir untuk kepentingan akhirat (QS. Alhajj : 31).
Ketiga, akibat perbuatan syirik bias meruntuhkan harga diri dan membuat seseorang menghamba pada sesuatu yang hina dan sementara. Terkesan seakan benar dan baik, ketika seseorang menyembah manusia dan meminta hukun dainya. Maka tidak ada yang tepat dan benar selain berhukum pada hukun Allah Ta’ala. Manusia dan kekuasaannya, ketenarannya, kekayaannya, kehebatannya hanyalah sementara dan sangat terbatas. Yang abadi hanya Allah Ta’ala, tidak bergantung kepada apapun dan siapapun. Justru ia tempat bergantung (Qs. Al munafiqun : 8).

Keempat, ketika seseorang menduakan Allah Ta’ala dengan selain-Nya, maka akan tercerai-berai dan tercabik-cabk kesatuan jiwanya. Bias dibayangkan bagaimana saat manusia sholat, ia menyembah kepada satu Tuhan. Sementara ketika ia bekerja, berdagang, berjual beli, berkuasa, memimpin dan mencari rizki menghalalkan segala cara, mengambil keuntungan dengan cara riba, menipu, berbohong, dan melanggar aturan-Nya. Hal ini dapat menjadikan jiwa seseorang tercabik-cabik, karena hendak memenuhi berbagai tuntutan yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan satu dengan yang lain. Hal ini menyebabkan seseorang kehilangan rasa aman, tenteram dalam dirinya, sebelum kehilangan jati dirinya (Qs. Azzumar : 29).

Tanpa disadari terkadang ada rasa bangga dan cukup dengan kehiidupan dunia ini, lupa pada hakekat akhir kehidupan yang pasti. Kesibukan sering kali membuat manusia lupa dan hanyut dalam rutinitas, prestasi dan keuntungan, penghargaan, pencitraan yang ingin diraih. Maka kewaspadaan harus muncul, introspeksi dan evaluasi diri, terus memperbaharui niat karena-Nya, memohon ampunan-Nya. Sebab pengaruh buruk kelima syirik, yakni bias merusak dan menghapus amal. (Qs. Azzumar : 65). Na’udzu billaah

*) Ketua Umum PP Salimah 2015-2020